RSS

Siap Mental Menghadapi Musibah

20 Apr

Terus terang…, saya terenyuh dan sangat terkesan dengan kisah Tasripin yang sedang menjadi headline di media-media tanah air. Tasripin dan ketiga adiknya, ditinggal ibunya yang telah meninggal dunia, dan bapaknya pergi merantau ke Kalimantan untuk mendapatkan rizqi guna mencukupi hidup anak-anaknya dan memperbaiki rumahnya yang sudah reyot. Tasripin, anak umur 12 tahun harus menanggung beban hidup mengurus dan membiayai ketiga adiknya yang masih kecil-kecil. Tidak cukup membiayai dengan kerja serabutan menjadi buruh tani, dia harus merawat adik-adiknya, memandikan, mengawasi, dan tak lupa dia mendidik adik-adiknya dengan mengajari mereka membaca Al-Qur’an  di malam hari. Disamping itu juga, dia terkadang harus naik ke atap rumah untuk memperbaiki atap rumahnya yang rusak. Alhamdulillah, bapak Presiden SBY memberikan tanggapan dan rasa empati terhadap kisah Tasripin di status twitter-nya, dengan serta merta kisah Tasripin menjadi pembicaraan nasional. Berikutnya bantuan demi bantuan datang silih-berganti.

Saya mencoba memberikan penekanan pada kesabaran dan ketabahannya menjalani hidup yang keras. Cobalah merenung dan bandingkan kondisi dia dengan kondisi kita pada saat umur yang sama, 12 tahun-an. Tentulah kita akan banyak mengucap alhamdulillah dan merasakan nikmat yang besar yang telah Allah Ta’ala berikan pada kita. Cobaan, musibah, dan beban hidup kita tak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan cobaan yang dialami Tasripin bukan..?. Kalau memang begitu, ucapkanlah alhamdulillah dan bersyukurlah.

Selanjutnya masih mengenai topik yang sama, kami akan membahas faktor-faktor lain yang dapat menghilangkan kegelisahan dan kesedihan. Diantara faktor yang bermanfaat untuk menghilangkan kesedihan adalah “Berusaha meringankannya dengan cara memperkirakan kemungkinan terburuk yang akan terjadi, dan kemudian mempersiapkan mental untuk menghadapinya“. Bila kemungkinan terburuk sudah dipikirkan dan diperkirakan, hendaklah berusaha meminimalisasi persoalan sesuai kemampuannya. Dengan kesiapan mental dan diikuti usaha yang maksimal, akan hilanglah kesedihannya. Sebaliknya, berusahalah untuk meraih kebaikan dan menolak kemudharatan semampu yang dia lakukan.Bila seorang hamba dihadapkan dengan ketakutan, sakit, kekurangan, atau tidak dapat meraih keinginannya yang bermacam-macam, hendaklah dia hadapi dengan tenang dan kesiapan mental, bahkan ketika menghadapi yang lebih berat sekalipun. Kesiapan mental menghadapi musibah akan mengecilkan musibah tersebut dan menghilangkan bobot atau dampak tekanannya. Terutama bila ia berusaha melawannya sesuai kemampuan. Sehingga dia dapat memadukan antara kesiapan mental dan usaha maksimal yang dapat mengalihkan perhatiannya dari musibah yang menimpa. Dia dapat berusaha untuk selalu memperbarui kekuatannya menghadapi musibah disertai dengan tawakkal dan yakin akan pertolongan Allah Ta’ala.

Tidak diragukan lagi, yang demikian ini berperan besar mendatangkan kesenangan dan kelapangan dada serta pahala yang cepat di dunia ataupun yang lambat di akhirat kelak. Wallahu a’lam bish-showab.

——– Minggu-minggu terakhirku di Kuala Lumpur, April 20, 2013 ——–

Saduran kitab kecil (kutaib) dengan judul asli “Al-Wasaail Al-Mufiidah Lil Hayaatis Sa’iidah” yang ditulis oleh syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’dy. Edisi Indonesia: “Menggapai Kehidupan Bahagia”.

 

Tags: , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: