RSS

Imam Abu Hatim ar-Razi, 3 Hari Bertahan Dalam Kelaparan

Apa yang dialami Imam Abu Hatim ar-Razi patut kita renungi dengan cermat. Keteguhan jiwa dan kokohnya pendirian beliau dalam menghalau cobaan hidup bak kapal layar yang berusaha mempertahankan diri dari dahsyatnya gulungan ombak di tengah lautan. Sebuah perjalanan yang menggetarkan jiwa.

Beliau mengisahkan sendiri sepenggal perjalanan hidupnya, “Suatu hari kami bersama dengan sahabat-sahabat kami melakukan perjalanan laut, saat itu angin berhembus sangat kencang menampar muka kami. Sudah tiga bulan kami terapung-apung di tengah laut, perasaan kami semakin tidak enak. Semua bekal yang kami bawa telah ludes, hanya tersisa sebagian kecil saja.

Kemudian kami memutuskan untuk singgah di suatu daratan. Hari-hari panjang kami lewati dengan berjalan kaki, hingga perbekalan kami betul-betul tidak tersisa sedikitpun. Kami berjalan sehari semalam, tidak ada satupun dari kami yang kerongkongannya tersiram air atau perutnya terisi makanan. Setiap hari kami berjalan kaki hingga malam datang menjelang. Jika datang waktu sore, kami shalat kemudian kami merebahkan badan kami yang sudah diguyur rasa lelah. Hari kedua berlalu, juga masih dalam keadaan seperti itu.

Hari ketiga menyapa kami, dalam benak kami berharap barangkali hujan rizki akan jatuh pada kami,namun keadaan juga tetap seperti semula. Badan kami mulai gemetar, lemas dan semakin lemah. Rasa lapar, haus sudah tidak karuan menyerang dengan ganasnya. Di hari ketiga, kami berusaha berjalan semampu tenaga yang tersisa. Tiba-tiba syeikh al-Marwudzi terjatuh pingsan. Kami gerakkan badannya, ia tetap tidak sadar, sehingga kami putuskan untuk meninggalkannya. Tinggalah aku berjalan dengan sahabatku an-Naisaburi sejauh satu atau dua kilometer. Dan tibalah giliranku terjatuh dan pingsan. Sahabatku meninggalkanku dengan iba dan tetap berjuang untuk tetap berjalan.

Dari kejauhan ia melihat ada sekelompok orang sedang melabuhkan kapal mereka dan singgah di sumur Musa ‘alaihissalam. Ketika yakin akan keberadaan mereka, sahabatku melambaikan ke arah mereka dengan pakaiannya. Datanglah mereka berbondong-bondong dengan membawa air. Kemudian mereka memberinya minum dan mengajaknya pergi. Lalu sahabatku berkata kepada mereka, “Sebentar, disana ada dua sahabatku yang lain. Cepat tolonglah mereka. Mereka pingsan”.

Saat itu tidak ada yang bisa saya ingat kecuali tiba-tiba saja ada orang yang menyiramkan air ke mukaku. Dengan pelan dan masih terasa berat, kubuka mataku. Kemudian saya berkata, “Tolong beri saya minum”. Kemudian mereka menuangkan sedikit air untukku. Saat itu seakan ruhku hadir kembali dan kehidupan baru mulai terasa. Kemudian saya berkata, “Di belakangku ada seorang tua. Tolonglah dia”. Sebagian mereka mengajakku untuk menunjukkan satu orang yang tertinggal dibelakang. Sementara itu, dengan susah payah saya berdiri dan berjalan sambil menyeret kakiku. Ketika kami semua telah sampai di kapal, mereka baru menampakkan wajah cerianya kepada kami.

Kemudian mereka menunjukkan suatu arah kepada kami agar menuju ke suatu kota yang bernama Rayah. Kami juga dibekali surat yang ditujukan kepada walikota tersebut. Selain itu beberapa potong roti, air dan makanan juga kami dapatkan dari mereka. Dan berjalanlah kami dengan kaki telanjang, sampai akhirnya bekal kami habis lagi. Kami kembali berjalan dalam keadaan lapar dan haus menelusuri pantai. Hingga kami melihat sebuah ekor kura-kura yang telah dimuntahkan oleh lautan. Ia terkapar di pinggir pantai seperti perisai besi. Kami mengambil batu besar dan kami pecahkan perisai tersebut. Setelah pecah perisainya, kami melihat ada sesuatu yang berwarna kekuningan dibongkahan perisai kura-kura tersebut. Kami ambil dan kami makan hingga mampu menenangkan rasa lapar ini (Muqaddimah: 237, Ibnu Khaldun)

Bahkan sebagian ulama seperti Abu Muhammad Abdurrahman Ibnu Yusuf Ibnu Khirassy al-Marwazi al-Baghdadi, seorang alim yang jenius, paling banyak hafal hadis pada jamannya, mempunyai catatan perjalanan yang spektakuler antara Khurasan (Rusia) hingga Mesir. Diceritakan bahwa beliau pernah meminum air seninya sendiri ditengah perjalanannya mencari hadis sebanyak lima kali. Hal itu beliau lakukan karena dalam keadaan sangat terpaksa, tidak mendapatkan air untuk diminum (Miizanul I’tidal: 2/600, al-hafidz adz-Dzahabi).

Disarikan dari “Shafahat min Shabril ‘Ulama ‘ala Syadaidil ‘Ilmu wat Tahshil“, Abdul Fattah Abu Ghuddah. Edisi Indonesia berjudul, “Bersabarlah Anda Akan Jadi Orang Besar”, oleh Abu Malikah al-Husnayaini.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: