RSS

Kedudukan Tinggi disisi Allah

17 Sep

Perbedaan yang ada di antara manusia; kaya-miskin, ulama (pintar) – kecerdasan pas-pasan, ningrat (darah biru) – jelata, tuan – pembantu, tidak bisa menjadi parameter untuk menilai kemuliaan seseorang. Karena itu semua adalah sesuatu yang tidak bisa diusahakan oleh manusia, dan manusia tidak mempunyai pilihan dalam hal ini. Kalau hal itu adalah pilihan, mana ada orang yang mau terlahir dari keluarga yang miskin papa, jelata, ditambah lagi berotak pas-pasan. Kenyataannya, ada orang yang terlahir dengan keterbatasan otak, harta, dan dia tidak bisa memilih supaya dilahirkan dengan otak yang brilliant, tajir, alim dan ningrat.

Islam mengajarkan cara bijak dalam menilai kedudukan seseorang di sisi Allah Ta’ala dengan tolok ukur atau parameter yang bisa diusahakan oleh semua orang tanpa memandang perbedaan asal-usul, nasab, dan harta. Parameter Islam dalam hal ini adalah taqwa, sebagaimana firman Allah Ta’ala; “Innaa akramakum ‘indallahi atqookum” (Sesungguhnya orang yang paling mulia disisi Allah adalah orang yang paling taqwa diantara kalian) [1], dan juga telah dijelaskan dalam hadits Nabi shallallahi ‘alaihi wa sallam:

Innallaha Laa yandhuru ilaa shuwarikum wa laa amwalikum walakin yandhuru ilaa …” (Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada paras kalian, juga bukan harta kalian. Akan tetapi Dia melihat siapa yang paling bertakwa diantara kalian) [2].

Semestinya apapun nasab kita, serendah apapun pendidikan kita, kita bisa menjadi orang yang paling bersih hatinya, menjadi orang yang paling taqwa. Sejelek apapun rupa dan semiskin apapun kita, kita bisa menjadi orang yang paling mulia disisi Allah Ta’ala.

Kedudukan yang tinggi disisi Allah Ta’ala tidaklah terhalang oleh garis keturunan kita yang bukan ningrat, atau bukan seorang yang alim dan lainnya. Orang yang kaya raya, alim, bisa memberikan harta yang melimpah tapi ia tidak akan bisa memberikan kedudukan yang tinggi disisi Allah Ta’ala.

Ibnu Abzah radhiyallahu ‘anhu, terlahir sebagai budak, tapi dia karena hafal Al-qur’an, menguasai ilmu waris dan bisa mengadili diantara orang yang berselisih, maka dia dipilih menjadi gubernur Madinah waktu itu. Ini sejalan dengan firman Allah Ta’ala: “Inna hadzal kitab yarfa’u ba’dho qoumin wa ….” (Sesungguhnya kitab ini, Al-qur’an, menaikkan sebagian kaum dan …) [3].

Ada yang dikaruniakan Allah Ta’ala dengan kekayaan, kedermawanan, ketakwaan dan kecerdasan, itu adalah karunia Allah Ta’ala yang diberikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki, (“dzalika fadhlullahi yu’thihi man yasyaa’ “…) [4].

Kedudukan yang tinggi disisi Allah Ta’ala tidak terhalang oleh suku-bangsa, warna kulit, dan lainnya. Sehingga jangan kita merasa minder sebagai bila berhadapan dengan suku bangsa lain yang dikaruniai keindahan warna kulit, paras dan kemajuan. Kita bisa mengalahkan para ulama, orang yang berilmu (alim) dalam menggapai kedudukan yang tinggi disisi Allah Ta’ala, karena timbangannya bukan dengan banyaknya ilmu. Bahkan ilmu bisa menjadi hujjah bagi yang memilikinya.

Setiap orang akan dipanggil dari pintu surga yang berjumlah delapan sesuai dengan amalannya, Abu Bakar merupakan salah seorang yang dijamin masuk surga dan dipanggil dari semua pintu surga. Yang menjadikan Abu Bakar lebih afdhol dari shahabat-shahabat Nabi shallallahi ‘alaihi wa sallam yang lain bukanlah karena alim nya beliau, akan tetapi karena ketaqwaannya, amalannya dan hati yang bersih beliau (walaupun ada perselisihan dalam hal ini). Yang menguatkan pendapat ini salah satunya adalah kisah Uwais Al-Qorni, seorang tabi’in yang sudah hidup di jaman nabi shallallahi ‘alaihi wa sallam tapi tidak sempat bertemu dengan Nabi karena baktinya kepada ibunya yang sudah tua renta.

Uwais Al-Qorni baru bisa datang ke Madinah di jaman khalifah Umar bin Khottob radhiyallahu ‘anhu. Tapi berita ini telah disabdakan oleh Nabi ketika beliau masih hidup; “Akan datang di Madinah, Uwais bin Amir Al-Qorni, kalau kalian berjumpa dengannya mintalah didoakan…” [5].

Maka Umar bin Khottob selalu mencari berita perihal kedatangan Uwais kepada kafilah yang datang ke Madinah. Akhirnya pada suatu hari ada seseorang yang mengatakan bahwa di rombongannya ada orang yan bernama Uwais bin Amir Al-Qorni. Teman-teman Uwais pun merasa bingung kenapa khalifah begitu perhatiannya kepada Uwais, karena di mata teman-teman dan tetangganya Uwais bukanlah seseorang yang istimewa atau terpandang, bahkan lebih cenderung tidak diperhatikan atau diremehkan.

Ketika mengetahui keberadaan Uwais, khalifah menanyakan perihal sakit sofak (belang putih) yang pernah diderita Uwais, dan telah disembuhkan oleh Allah dengan menyisakan sebagian di pusar nya. Ciri-ciri tersebut sebagaimana telah disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan didengar langsung oleh shahabat Umar, karenanya beliau sangat perhatian terhadap Uwais. Setelah itu, Umar pun meminta didoakan Uwais, dan selanjutnya  Uwais tetap memilih menjalani hidup sebagai manusia biasa yang tidak ingin dikenal.

Kisah ini merupakan dalil bahwa kedudukan yang tinggi disisi Allah Ta’ala bukan karena derajat, pangkat, harta, nasab, warna kulit, ilmu dan selainnya, melainkan karena taqwa, amalan (hati) dan hati yang bersih. Uwais bin Amir Al-Qorni merupakan seorang yang paling afdhol (terbaik), mempunyai kedudukan yang tinggi di masa tabi’in, walaupun pada masa beliau ada shahabat-shahabat dan tabi’in yang mempunyai ilmu yang tinggi.

Maka barangsiapa yang dikaruniai nasab yang baik, kedudukan yang tinggi, ilmu yang luas, kekayaan, kecerdasan, paras yang rupawan, janganlah terlena dengan itu semua. Karena itu bukan menjadi jaminan kesuksesan kita di akhirat, tidak bisa menjadi parameter kedudukan yang tinggi disisi Allah Ta’ala. Dengan menambahnya dengan ketakwaan akan sempurnalah keutamaan tersebut. Karena kedudukan yang tinggi dan kemuliaan seseorang disisi-Nya hanya bisa diraih dengan ketakwaan.

Wallahu a’lam bishowab.

(Faidah kajian bersama ust. Anas Burhanuddin di masjid Ar-Rahman STDI Imam Syafi’i – Jember, Ahad 31 Agustus 2014)

 
Leave a comment

Posted by on September 17, 2014 in History, Motivation, Opinions

 

Tags: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: