RSS

Izzatun Nafs (Kemuliaan Jiwa)

26 Feb

bunga3

Bunga jambon ini saya jepret dari taman di depan apartement saya tinggal. Kalau saya lagi jenuh dan suntuk, saya biasa melihat kolam yang banyak ikannya di dekat taman itu, mengamati tingkah ikan-ikan tersebut akan menghiburkan hati dan akan menguatkan semangat kembali. Kalau sedang timbul rasa iri atau dengki, saya biasa mendongak ke langit yang biru dan bersih nan luas membentang (” jangan di kawasan industri lho…, polusi, nanti ndak kelilipen “). Langit yang bersih dan biru menginspirasikan kebersihan hati dari rasa iri dan dengki. Langit nan luas membentang memberi inspirasi akan luasnya karunia Allah Ta’ala, luasnya ilmu-Nya dan begitu luasnya kasih-sayang serta ampunan-Nya.

Shobat…, akhlaq yang mulia ibarat sekuntum bunga, dimana saja kau berada bila engkau membawa akhlaq  tersebut, pasti semua orang kan suka. Akhlaq yang mulia mencerminkan kemuliaan jiwa seseorang.

Izzatun Nafs mempunyai arti beranjak dari tempat yang hina-dina. Maksudnya adalah sikap kehati-hatian jiwa terhadap kehinaan. [1]

Orang yang mulia jiwanya tidak akan menumpahkan air mukanya dan tidak akan menukar kehormatannya dengan sesuatu yang dapat mengotorinya. jepretan-ku-1624 Ia tetap menjaga marwah atau memiliki banyak kehormatan, kenyamanan hati, kepala masih bisa tegak, masih punya muka, bebas dari kehinaan yang menyakitkan, terbebas dari perbudakkan hawa nafsu dan ketamakan, dan ia tidak berjalan kecuali yang sesuai dengan yang didiktekan oleh keimanannya dan kebenaran yang diemban serta didakwahkannya.

Oleh karena itu, manusia yang paling bersemangat adalah orang yang paling bersih dan tulus jiwanya, serta orang yang paling ikhlas niatnya dan paling jauh dari ketamakan.

Imam Syafi’i rahimahullah telah berkata;

Aku melihat qana’ah sebagai perbendaharaan pemuda

karena itu aku senantiasa memegangi ekornya (mengikutinya).

Tidak ada yang melihatku berada di depan pintunya

dan tidak ada yang melihatku bersungguh-sungguh dengannya.

Aku menjadi kaya dengan tanpa dirham

dan aku berlalu di hadapan manusia seperti raja. [2]

Qana’ah merupakan sikap merasa cukup terhadap pemberian Allah Ta’ala, atau nrimo ing pandhum dalam bahasa Jawanya. Saking cintanya dengan kehidupan yang lebih utama lagi kekal-abadi; kampoeng akhirat, beliau tidak menjadi orang yang tamak terhadap dunia dan tidak menjadi pemburu dunia atau hamba uang (abdud dinar). Sehingga beliau merasa kaya walaupun tanpa uang (harta), dan karena itu beliau menjadi seorang yang mempunyai harga diri. Dan inilah merupakan suatu keutamaan jiwa (‘izzatun nafs).

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu telahpun berkata;

Qana’ah memberikan kepadaku segala kemuliaan.

Adakah kemuliaan yang lebih utama dari qana’ah ?…

Jadikanlah ia sebagai modal

dan jadikanlah setelah itu takwa sebagai perniagaan

maka anda pasti akan meraih keuntungan.

Tidak butu kepada orang bakhil

dan menikmati surga dengan sabar sesaat. [3]

Semoga kita semua dapat meneladani sifat dan sikap beliau, pendahulu kita yang shalih. Yang menjadikan sikap qana’ah,- nrimo ing pandhum -, sebagai modal dan takwa sebagai perniagaannya sehingga akan wujud dalam diri kita; ‘izzatun nafs .Ameen.

Al-Himmah Al-’Aliyah Mu’awwiqatuha wa Muqawwamatuha; Muhammad bin Ibrahim Al-Jamd.

————————————————————————————————————————————-

[1].  Rasa’ilul Ishlah, 1/ 124-125.

[2].  Diwan Asy-Syafi’i, 27.

[3].  Diwan Imam Ali, 121-122.

 
Leave a comment

Posted by on February 26, 2009 in Suggestions (Nasehat)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: