RSS

Imam Abdul Qadir al-Jailani: Memakan Sisa-sisa Makanan di Sampah

Siapa yang tidak kenal dengan syeikh Abdul Qadir al-Jailani ?. Hampir semua orang Indonesia mengenalnya, walaupun sangat disayangkan sebagian besar mereka mengenalnya hanya sisi mistik dan sufinya saja. Adapun sisi ilmiah beliau, kegigihan dan kesabarannya, jarang yang mengenalnya apalagi mencontohnya.

Beliau adalah seorang ahli fikih, juga terkenal dengan kesabaran dan ketabahannya dalam menjalani kesulitan hidup. Pernahkah tergambar dalam benak kita, bahwa ulama sekaliber beliau menjalani hidup bersama dengan gelandangan mengais sepotong roti dan sehelai sayur di tengah tumpukan sampah di kota Baghdad ….?!

Ibnu Rajab al-Hambali mengisahkan perjalanan mulia beliau dalam bukunya ‘Dzailu Thabaqat al-Hanabilah‘ (1/298). Kata syeikh Abdul Qadir, “Suatu saat saya mencari makan dengan memunguti sisa-sisa kubis dan daun sawi di pinggir sungai Baghdad. Dan kehidupan bertambah sulit saat harga-harga pangan di kota Baghdad melambung naik, hingga beberapa hari lamanya saya tidak menelan makanan apapun. Bahkan saya mencari-cari sisa-sisa makanan yang terbuang.

Kemudian pada suatu saat perut ini terasa sangat lapar. Saya keluar ke pinggiran sungai kota, dengan harapan semoga bisa mendapatkan sisa-sisa kol dan sawi yang terbuang. Namun, sayang ternyata banyak orang lain yang telah mendahului saya. Mereka adalah orang-orang fakir di kota itu. Mereka saling berdesakan dan berebutan mengambilnya.

Kemudian saya urungkan niat itu. Saya kembali menelusuri tengah kota dengan berjalan kaki. Sehingga saya sampai di masjid Yasin di pasar Rayahin di Baghdad. Tenaga saya sudah sangat lemah, sampai saya tidak mampu lagi berpegangan apapun, badan ini sempoyongan. Kemudian saya masuk ke dalam dan duduk di samping masjid. Hampir saja maut menjemputku karena lapar yang sangat menyengat.

Tiba-tiba ada seseorang yang masuk masjid membawa roti yang bersih dan telah terpanggang. Ia duduk dan dengan santai menyantap makanannya. Hampir saja setiap ia mengangkat tangannya ke mulutnya, dengan refleksi mulutku juga ikut terbuka disebabkan sangat lapar. Sampai-sampai saya sadar mengapa bisa seperti ini dan dalam hati seakan berteriak, “Wahai jiwa, bukankah semua telah ditetapkan Allah?’.

Kemudian orang asing tersebut menatapku dan menawarkan kepadaku, “Ucapkan bismillah wahai saudaraku”. Jiwa ini seakan mengajaknya agar secepat mungkin menyantapnya. Namun, lagi-lagi hati kecil mengatakan “jangan”.

Kemudian ia memaksaku kembali, dan akhirnya saya menurutinya. Selanjutnya ia bertanya, “Siapakah anda? dan darimana asal anda?”. Beliau menjawab, “Saya seorang yang berasal dari Jailan”. Kemudian orang asing tersebut menyahut, “Saya juga berasal dari Jailan”. Lalu ia bertanya, “Apakah anda tahu ada seorang pemuda yang berasal dari Jailan bernama Abdul Qadir?, ia dikenal dengan cucunya Abu Abdillah ash-Shauma’i seorang zahid?”. Kemudian beliau menjawab, “Sayalah orangnya”.

Maka gemetar dan berubahlah wajah orang asing tersebut. Kemudian ia berkata, “Demi Allah, saya telah datang ke Baghdad dengan membawa sisa uang, saya bertanya kepada setiap orang namun tak ada satupun yang menunjukkanku kepadamu. Hingga bekalku habis, selama tiga hari saya tidak bisa membeli makanan, yang ada hanya uang titipan ibumu yang saya bawa. Dan hampir saja saya menjemput kematian, maka dengan sangat terpaksa saya ambil sebagian uangmu untuk membeli roti dan beberapa panggangan ini. Maka makanlah dengan nyaman, sebab sekarang saya menjadi tamumu, setelah engkau menjadi tamuku”.

“Kemudian apa bungkusan itu”, tanya syeikh. Ia menjawab, “Ibumu menitipkan uang padaku delapan puluh dinar. Saya terpaksa mengambil sebagian uang itu. Saya mohon maaf atas kelancangan ini”. Kemudian diserahkanlah semua sisa titipan tadi kepada syeikh.

Disarikan dari “Shafahat min Shabril ‘Ulama ‘ala Syadaidil ‘Ilmu wat Tahshil“, Abdul Fattah Abu Ghuddah. Edisi Indonesia berjudul, “Bersabarlah Anda Akan Jadi Orang Besar”, oleh Abu Malikah al-Husnayaini.

 

3 responses to “Imam Abdul Qadir al-Jailani: Memakan Sisa-sisa Makanan di Sampah

  1. Ali Akbar

    May 23, 2010 at 2:53 pm

    cerita tuan menarik.tapi tak lengkap apa jadi setelah wang di terima.

     
  2. Ali Akbar

    May 23, 2010 at 2:59 pm

    cerita tuan menarik.tapi tak lengkap apa jadi setelah wang di terima.ah69 setapak garden 53000 kuala Lumpur

     
  3. admin

    June 2, 2010 at 2:01 pm

    Iya encik Ali Akbar, tulisan ini bukan discuss tentang biografi beliau, akan tetapi membicarakan bagaimana kesabaran beliau menempuhi dugaan dalam mencari ilmu sehingga Imam Abdul Qadir Jaelani menjadi seorang imam yang dikenal.

    Jazakallah khoyron kunjungannya

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: