RSS

Aktifitas, Ilmu dan Konsentrasi

02 Jan

Tulisan berikut merupakan kelanjutan dari tulisan sebelumnya tentang faktor-faktor untuk menggapai hidup bahagia yang disadur dari terjemahan kutaib “Al-Wasaail Al-Mufiidah Lil Hayaatis Sa’iidah” karangan syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’dy. Di antara faktor lain untuk menggapai kebahagiaan, mengatasi goncangan jiwa karena tegangnya urat saraf dan hati yang galau adalah; menyibukkan diri dengan berbagai aktifitas atau dengan mempelajari ilmu yang bermanfaat. Aktifitas semacam ini bisa mengalihkan perhatian hati seseorang dari hal-hal yang dapat mengoncangkan hatinya. Bahkan, mungkin mampu melupakan faktor-faktor ataupun sebab-sebab yang mendatangkan kesedihan dan musibah. Jiwanya menjadi senang dan semangatnya pun bertambah.

Faktor-faktor tersebut bisa berlaku baik kepada orang yang beriman ataupun tidak beriman. Hanya saja, orang yang beriman unggul dengan keimanan dan keikhlasannya ketika dia menyibukkan diri dengan ilmu yang dia pelajari atau dia ajarkan, dan juga dengan perbuatan baik yang dia lakukan. Jika yang dia lakukan merupakan ibadah maka tentunya akan bernilai ibadah. Jikalau merupakan pekerjaan atau rutinitas duniawi, maka dia ikuti dengan niat yang baik dan dimaksudkan untuk membantunya dalam ibadah kepada Allah Shubhanahu wa Ta’ala. Dan karena itu semua, faktor-faktor tersebut sangat berperan dalam menghilangkan kesedihan dan berbagai macam musibah.

Betapa banyak orang yang ditimpa kegoncangan hati dan kesedihan yang berlarut, sampai akhirnya ditimpa berbagai macam penyakit. Ternyata obat yang paling tepat untuk itu adalah dengan melupakan faktor-faktor yang membuatnya gelisah dan menyibukkan diri dengan aktifitas-aktifitas yang bermanfaat. Karena itu hendaklah kita memilih kesibukan yang disenangi dan diinginkan oleh jiwa. Sebab yang demilkian ini dapat mempercepat hasil yang dimaksudkan. Wallahu a’lam.

Diantara faktor yang juga dapat menolak kesedihan dan kegelisahan adalah mengkonsentrasikan segenap fikiran pada pekerjaan atau tugas yang sedang dihadapi pada hari itu (saat ini). Tidak memikirkan hal-hal yang masih akan datang serta kesedihan atau musibah yang pernah terjadi. Karena itu Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam memohon perlindungan dari al-Ham dan al-Huzn. Al-Huzn adalah kesedihan atas hal-hal yang telah berlalu, yang sudah tidak mungkin ditolak dan diraih kembali. Sedangkan Al-Ham adalah kesedihan yang terjadi karena perasaan takut akan hal yang akan datang.

Dengan demikian, seorang hamba akan menjadi “Ibnu Yaumih” (putra harinya). Dia akan giat dan bersungguh-sungguh memperbaiki hari dan waktu yang dia berada saat itu. Bila hati dikonsentrasikan untuk hal ini, dia akan berusaha menyempurnakan semua tugasnya. Dengan demikian dia akan terhibur dari kesedihan dan musibahnya.

Semoga bermanfaat bagi shobat semua…

 
 

Tags: , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: