RSS

Menggapai Hidup Bahagia: Iman dan Amal Shalih

06 Dec

Kebahagiaan dan ketenangan hati merupakan harapan dan keinginan setiap orang. Dengan itulah kehidupan yang baik, perasaan senang, tenteram dapat dicapai. Banyak buku telah dikarang, tulisan telah ditulis, dan berbagai training motivasi telahpun diadakan dengan tujuan utama untuk menggapai kebahagiaan. Akan tetapi sudahkah saudara mendapatkannya setelah membaca tulisan atau mengikuti training motivasi tersebut?? Alhamdulillah sudah lama ulama kita telah memberi perhatian dalam masalah ini dan meninggalkan warisan berupa tulisan yang berharga tentang masalah ini kepada kita. Tulisan ini merupakan saduran kitab kecil (kutaib) dengan judul asli “Al-Wasaail Al-Mufiidah Lil Hayaatis Sa’iidah” yang ditulis oleh syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’dy. Kitab tersebut alhamdulillah telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan judul “Menggapai Kehidupan Bahagia”.

Faktor paling penting dan paling mendasar untuk menggapai bahagia adalah; iman dan amal shalih. Sebagaimana Allah Ta’ala telah berfirman:

“Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sungguh Kami akan berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sungguh akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan” (An-Nahl: 97)

Dalam ayat ini Allah Subhanahu wa Ta’ala memberitakan dan menjanjikan bagi orang yang dapat mengumpulkan antara iman dan amal shalih untuk mendapatkan kehidupan yang baik di dunia ini dan balasan yang baik pula di dunia dan akhirat.

Sebab sudaahlah jelas, karena orang yang beriman kepada Allah Ta’ala dengan iman yang benar; yang dapat membuahkan amal shalih dan dapat memperbaiki kondisi hati, moral (tingkah laku), atau urusan keduniaan dan akhiratnya, berarti dia sudah mempunyai pondasi dan dasar yang kuat untuk menghadapi segala kemungkinan. Kemungkinan baik yang mendatangkan kebahagiaan dan kesenangan, atau kemungkinan buruk yang dapat mendatangkan kegoncangan dan kesedihan.

Kebahagiaan dan kesenangan mereka sambut dengan menerimanya, mensyukurinya dan mempergunakannya untuk hal-hal yang bermanfaat. Dan apabila mereka berhasil menerima dan mempergunakannya dengan cara semacam itu, maka akan timbullah sebagai buahnya –dari akumulasi suka cita dan keinginan untuk mempertahankan keberadaan & keberkahan nikmat tersebut serta harapan untuk memperoleh pahala syukur– hal-hal besar lainnya yang kebaikan dan keberkahannya melebihi kebahagiaan dan kesenangan yang pertama.

Begitu pula dengan cobaan, kemudharatan, kesempitan dan keruwetan. Yang mampu dia atasi dia pecahkan, yang hanya dapat dia minimalisasi dia lakukan dan yang tidak boleh tidak harus dia hadapi dia jalani dengan kesabaran. Dan sebagai dampak dari akumulasi kemampuan menghadang ujian, cobaan dan kesabarannya serta pengharapan akan pahala, maka mereka akan mendapatkan hal-hal besar lainnya. Yang mana dengan hal-hal tersebut semua ujian dan cobaan apapun tidak akan terasa bahkan akan berubah menjadi kesenangan dan harapan-harapan baik serta keinginan untuk mendapatkan karunia dan pahala dari Allah Ta’ala.

Sebagaimana telah diungkapkan oleh Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits shahih;

“Sungguh luar biasa urusan seorang mukmin itu. Sesungguhnya setiap urusannya (akan mendatangkan) kebaikan. Bila dia mendapatkan kesenangan, dia bersyukur dan (syukur) itu adalah kebaikan baginya. Dan apabila dia mendapatkan musibah, dia bersabar dan (sabar) itu adalah kebaikan untunya. Hal itu tidak (diberikan) untuk siapapun kecuali untuk seorang mukmin”. (HR. Muslim)

Dalam hadits ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitahukan bahwa seorang mukmin akan dilipatgandakan kebaikan dan buah amal-amalnya dalam kondisi apapun yang dia hadapi, baik dalam kondisi senang ataupun susah. Oleh karena itu, anda bisa mendapati dua orang yang mendapatkan ujian atau nikmat yang sama tetapi keduanya berbeda dalam cara mensikapinya. Hal tersebut kembali kepada perbedaan dalam kualitas iman dan amal shalihnya.

Yang satu dapat menghadapi kondisi nikmat atau musibah dengan syukur dan sabar, sehingga dia merasa senang dan suka cita. Sementara kesumpekan, kesusahan, kegundahan dan kesulitan hidup juga akan hilang dan akhirnya dia bisa mendapatkan kehidupan yang baik di dunia ini.

Adapun orang satunya lagi, dia sambut kondisi nikmat dengan keangkuhan, menolak kebenaran dengan kedzaliman, sehingga moral dan tingkah lakunya menjadi melenceng. Dia sambut kondisi nikmat itu seperti halnya hewan, dengan penuh tamak dan loba. Walaupun demikian, hatinya tetap tidak merasa tenang bahkan terasa seperti dicabik-cabik dari segala penjuru. Dia kawatir kalau apa yang nikmati hilang, dia kawatir akan banyaknya tantangan-tantangan yang muncul menghadangnya, dia selalu dalam kekawatiran dan tidak tenang. Karena hawa nafsu itu tidak akan berhenti pada batas tertentu, tapi dia akan terus ingin mendapatkan yang lainnya lagi yang barangkali bisa dia raih, bisa juga tidak. Kalaupun berhasil diraih, kekhawatiran-kekhawatiran yang pertama tadi akan menghampirinya. Dia juga akan sambut musibah yang menghadangnya dengan kegoncangan, kegundahan, rasa takut dan jengkel. Bila sudah demikian, jangan tanyakan lagi bagaimana dia akan ditimpa kesulitan hidup, ditimpa penyakit-penyakit syaraf dan perasaan takut yang mengkhawatirkan. Karena dia pada saat itu tidak mengharapkan pahala dari Allah Ta’ala dan tidak mempunyai kesabaran yang dapat menghibur dan membuat penderitaannya berkurang.

Hal di atas dapat kita saksikan sendiri dalam kehidupan nyata. Bila kita renungi kondisi orang-orang sekarang ini, anda akan melihat bahwa perbedaan yang besar antara orang mu’min yang bekerja dan bertindak sesuai konsekuensi keimanannya dengan yang bukan mu’min yaitu; bahwa agama itu sangat mendorong dan menganjurkan agar orang bersifat qona’ah (menerima) dengan rizki Allah Ta’ala, karunia dan kemurahanNya yang bermacam ragam.

Seorang mu’min, -bila ditimpa penyakit, kefakiran, dan berbagai musibah-, dengan keimanannya, sifat qona’ahnya dan kerelaannya atas apa yang diberikan Allah kepadanya, dia akan tetap terlihat tenang dan tegar. Hatinya tidak menuntut mencapai sesuatu yang tidak ditakdirkan baginya dan tidak melirik kepada orang yang berada diatasnya. Dan barangkali kebahagiaannya, kesenangan dan ketenangannya melebihi orang yang berhasil meraih tuntutan-tuntutan duniawinya tetapi tidak qona’ah.

Sebaliknya anda juga dapat menyaksikan orang yang bertindak dan beramal tidak sesuai dengan konsekuensi keimanan, bila ditimpa sedikit kekurangan atau tidak berhasil meraih sebagian tuntutan duniawinya, maka dia merasa dipuncak kesengsaraan dan kesusahan. Bila terjadi suatu hal yang menakutkan, hatinya gundah, urat sarafnya menegang, pikirannya kacau, rasa takut dan kawatir masuk ke dalam hatinya. Berkumpullah pada dirinya perasaan takut dari luar dengan kegoncangan batinnya yang sulit untuk diketahui hakekatnya. Orang semacam ini, -bila tidak didukung faktor-faktor alamiah dengan banyak latihan-, akan kehilangan semangat dan stress. Sebab dia tidak mempunyai iman yang dapat mendorongnya bersikap sabar, khususnya dalam kondisi-kondisi tegang dan menyedihkan.

Orang baik, jahat, mu’min ataupun orang bukan mu’min, sama-sama mempunyai potensi kejiwaan yang dapat melunakkan dan meringankan hal-hal yang menakutkan. Hanya saja orang mu’min mempunyai keunggulan dengan imannya, kesabaran dan tawakkalnya kepada Allah Ta’ala serta harapannya untuk mendapatkan pahala dari Allah ‘Azza wa Jalla. Hal-hal inilah yang menambah rasa keberaniannya, memperingan beban atau rasa takutnya juga memperingan musibah yang menimpannya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

“Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya mereka pun menderita kesakitan sebagaimana yang kamu derita, sedang kamu mengharap dari Allah apa yang tidak mereka harapkan” (An-Nisa’: 104).

Selain itu, dia akan mendapatkan pertolongan Allah Ta’ala dan kebersamaan-Nya, yang dapat menghilangkan rasa takutnya. Sebagaimana janji Allah Ta’ala dalam firmanNya;

“Dan bersabarlah kamu, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar”. (Al-Anfal: 46).

Sebagai tambahan, termasuk di antara faktor-faktor yang dapat menghilangkan kesedihan, musibah dan kegoncangan hati adalah berbuat baik kepada makhluk; baik berupa perkataan, perbuatan dan perbuatan baik lainnya. Allah Ta’ala akan menolak kesedihan dan musibah dari orang shalih dan orang yang jahat sesuai dengan perbuatan baik yang dilakukan. Hanya saja, bagi orang mu’min akan mendapatkan porsi yang lebih sempurna. Dan yang membedakan seorang mu’min dari yang lainnya adalah bahwa kebaikan yang ia lakukan didorong oleh keikhlasan dan harapan mendapatkan pahala dari Allah Ta’ala. Hal ini akan memudahkan baginya mendapatkan kebaikan yang dia inginkan. Allah Ta’ala juga akan menolak hal-hal yang tidak dia sukai karena berkah keikhlasan dan harapannya akan pahala dari Allah. Allah Ta’ala berfirman:

“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh memberi sedekah, atau berbuat kebaikan atau mengadakan perdamaian diantara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah Ta’ala, maka kelak Kami akan memberi pahala yang besar kepadanya”. (An-Nisa: 114).

Allah Ta’ala memberitahukan bahwa hal-hal yang disebutkan dalam ayat tersebut, semuanya akan bernilai kebaikan bagi orang yang melakukannya. Dan sebuah kebaikan biasanya akan mendatangkan kebaikan serta menolak keburukan. Seorang mu’min yang mengharapkan pahala Allah Ta’ala akan mendapatkan balasan yang besar diantaranya adalah dalam bentuk hilangnya kesedihan, musibah dan hal-hal yang mengganggu lainnya.

Sekian, semoga bisa membantu dalam mengurangi kesedihan, kegundahan dan sifat iri-dengki yang ada dalam diri kita, sehingga kehidupan bahagia yang kita idam-idamkan bisa terwujud. Amiin…

Kuala Lumpur, 14 Dec 2012.

 
Leave a comment

Posted by on December 6, 2012 in Motivation, Smile My Brother, Words of Wisdom

 

Tags: , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: