RSS

Kunci-Kunci Rizki

20 Oct

Di antara hal yang menyibukkan hati kebanyakan umat manusia, umat Islam pada khususnya adalah mencari rizki. Dan menurut pengamatan, sejumlah umat Islam memandang bahwa berpegang dengan Islam akan mengurangi rizki mereka. Bahkan yang lebih menyedihkan lagi ada sejumlah orang yang telah menjaga sebagian kewajiban syari’at Islam tetapi mereka beranggapan bahwa jika ingin mendapatkan kemudahan materi atau kemapanan ekonomi, hendaknya menutup mata dari sebagian hukum Islam yang berkenaan dengan halal dan haram.

Mereka lupa atau pura-pura lupa bahwa Sang Khaliq ‘Azza wa Jalla tidaklah mensyariatkan agama-Nya hanya sebagai petunjuk bagi umat manusia dalam perkara-perkara akhirat dan kebahagiaan mereka disana saja. Tetapi Allah mensyariatkan agama ini juga untuk menunjuki manusia dalam urusan kehidupan dan kebahagiaan mereka di dunia. Bagi salah satu doa yang sering dipanjatkan Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam, kekasih Allah Ta’ala, adalah:

“Rabbanaa aatinaa fiddunya hasanah, wa fil akhirati hasanah, wa qiinaa ‘adzaban naar”

(Wahai Rabb kami, karuniakanlah kepada kami kebaikan di dunia dan di akhirat, dan jagalah kami dari siksa api neraka). [Al-Baqarah: 201]

Allah dan rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia tidak meninggalkan umat Islam tanpa petunjuk dalam kegelapan, berada dalam keraguan dalam usahanya mencari penghidupan. Tetapi sebaliknya, sebab-sebab rizki itu telah diatur dan dijelaskan. Seandainya umat ini mau memahaminya, menyadarinya, berpegang teguh dengannya serta menggunakan sebab-sebab itu dengan baik, niscaya Allah Ar-Razzaq (Yang Maha Pemberi Rizki) dan memiliki kekuatan akan memudahkannya mencapai jalan-jalan untuk mendapatkan rizki dari setiap arah, serta akan dibukakan untuknya keberkahan dari langit dan bumi.

Didorong oleh keinginan yang tulus untuk mengingatkan diri kami pribadi dan saudara-saudara sesama muslim, kami menyadurkan risalah kecil yang berjudul asli “Mafaatiihur Rizqi fi Dhau’il Kitab wa Sunnah” (Kunci-Kunci Rizki Menurut Al-Qur’an dan Sunnah, Edisi Indonesia) karya Dr. Fadhl ILahi. Diantara sebab-sebab terbuka pintu rizki tersebut adalah:

1.   Istighfar dan Taubat

2.   Taqwa

3.   Tawakkal kepada Allah Ar-Razzaq

4.   Beribadah sepenuhnya kepada Allah Ta’ala

5.   Melanjutkan haji dengan umroh

6.   Silaturrahmi

7.   Infak dijalan Allah

8.   Berinfak kepada penuntut ilmu agama sepenuhnya

9.   Berbuat baik kepada orang-orang yang lemah

10. Hijrah dijalan Allah.

Dan berikut merupakan penjelasan lengkap kunci-kunci rizki menurut Al-Qur’an dan Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

1.   Istighfar dan Taubat

Beberapa nash (teks) Al-Qur’an dan Al-Hadits yang menunjukkan bahwa istighfar dan taubat merupakan sebab-sebab rizki dengan karunia Allah Ar-Razzaq adalah sebagai berikut:

a.  Apa yang disebutkan Allah Ta’ala tentang Nuh ‘alaihissalam yang berkata kepada kaumnya:

“Maka aku katakan kepada mereka, ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu’, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun serta sungai-sungai (di dalamnya)” [Nuh: 10-12]

Ayat diatas menerangkan cara mendapatkan hal-hal berikut dengan istighfar:

#  Ampunan Allah terhadap dosa-dosa, berdasarkan firman-Nya: “… Sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun”.

#  Diturunkannya hujan lebat oleh Allah Ta’ala. Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata midrara adalah hujan yang turun dengan deras [1].

#  Harta dan anak-anak. Sebagaimana Atha’ berkata ketika menafsirkan ayat wa yumdidkum bi amwalin wa baniin; ‘Niscaya Allah akan membanyakkan harta dan anak-anak kalian [2].

#  Kebun-kebun beserta sungai di dalamnya. Imam Al-Qurthubi berkata; “Dalam ayat ini, juga disebutkan dalam surat Hud [3], adalah dalil yang menunjukkan bahwa istighfar merupakan salah satu sarana meminta diturunkannya rizki dan hujan” [4].

Al-hafidz Ibnu Katsir berkata dalam tafsirnya; “Maknanya, jika kalian bertaubat kepada Allah, meminta ampun kepadaNya dan kalian senantiasa mentaatiNya niscaya Ia akan membanyakkan rizki kalian, menurunkan air hujan dan keberkahan dari langit, mengeluarkan untuk kalian keberkahan dari bumi, menumbuhkan tumbuh-tumbuhan untuk kalian, melimpahkan air susu perahan, membanyakkan harta dan anak-anak, menjadikan kebun-kebun dengan bermacam-macam buah-buahan didalamnya, serta mengalirkan sungai-sungai di antara kebun-kebun tersebut, untuk kalian [4a].

Amirul mukminin Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu juga berpegang dengan kandungan ayat ini ketika beliau memohon hujan kepada Allah Ta’ala. Muthrif meriwayatkan dari Asy-Sya’bi; “Bahwasanya Umar radhiyallahu ‘anhu keluar untuk memohon hujan bersama orang banyak. Dan beliau tidak lebih dari mengucapkan istighfar (memohon ampun kepada Allah) lalu beliau pulang. Maka seseorang bertanya kepadanya, ‘aku tidak mendengar anda memohon hujan’. Maka beliau menjawab, ‘Aku memohon diturunkannya hujan dengan majadih [5] langit yang dengannya diharapkan bakal turun air hujan. Lalu beliau membaca surat Nuh ayat 10-11”.

Imam Al-Qurthubi menyebutkan dari Ibnu Shabih, bahwasanya ia berkata; “Ada seorang laki-laki mengadu kepada Hasan Al-Bashri tentang kegersangan (bumi), maka beliau berkata kepadanya, ‘beristighfarlah kepada Allah !’. Yang lain mengadukan kemiskinan, maka beliau berkata kepadanya, ‘beristighfarlah kepada Allah !’. Yang lain pula meminta didoakan supaya diberi anak, beliau pun mengatakan ‘beristighfarlah kepada Allah !’ Dan yang lain lagi mengadu kepadanya tentang kekeringan kebunnya, maka beliau memberikan jawaban yang sama.

Dalam riwayat lain disebutkan; “Maka Ar-Rabi’ bin Shabih berkata kepada Hasan Al-Bashri, ‘Banyak orang yang mengadukan bermacam-macam perkara dan anda memerintahkan mereka semua untuk beristighfar’ [6]. Maka Hasan Al-Bashri menjawab, ‘Aku tidak mengatakan hal itu dari diriku sendiri, tetapi sungguh Allah Ta’ala telah berfirman dalam surat Nuh ayat 10-12 sebagaimana disebutkan diatas.

Allahu Akbar! Betapa agung, besar dan banyak buah dari istighfar. Ya Allah, jadikanlah kami termasuk hamba-hambaMu yang pandai beristighfar, dan karuniakanlah kepada kami buahnya di dunia maupun di akhirat.

b.  Firman Allah yang menceritakan tentang nabi Hud ‘alaihissalam kepada kaumnya untuk beristighfar [Hud: ayat 2 dan ayat 52]. Sengaja penjelasan mengenai ayat ini tidak kami tuliskan untuk meringkas pembahasan. Untuk lebih detilnya bisa merujuk tafsir Ibnu Katsir dan penjelasan Imam Al-Qurthubi mengenai ayat tersebut.

c.  Adapun nash Hadits yang mendukung tentang hal ini adalah hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad, Abu Daud, An-Nasa’i, Ibnu Majah, dan Al-Hakim dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, dimana ia berkata bahwa Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

“Barangsiapa memperbanyak istighfar, niscaya Allah menjadikan untuk setiap kesedihannya jalan keluar dan untuk setiap kesempitannya kelapangan dan Allah akan memberinya rizki (yang halal) dari arah yang tidak disangka-sangka” [7].

Dalam hadits yang mulia ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan tentang tiga hasil yang dapat dipetik oleh orang yang memperbanyak istighfar. Salah satunya yaitu, bahwa Allah Ar-Razzaq akan memberikan rizki dari arah yang tidak disangka-sangka, tidak diharapkan serta tidak pernah terdetik dalam hatinya.

Karena itu, kepada shobat-shobat sekalian yang mengharapkan rizki hendaklah ia segera untuk memberbanyak istighfar, baik dengan ucapan maupun perbuatan. Apabila anda telah melakukannya tetapi rizki anda tetap seret, banyak-banyaklah introspeksi diri dan fahami betul perkataan Imam An-Nawawi berikut yang menjelaskan syarat diterimanya taubat;

Para ulama berkata, ‘Bertaubat dari setiap dosa hukumnya adalah wajib. Jika maksiat (dosa) itu antara hamba dengan Allah, yang tidak ada sangkut pautnya dengan hak manusia maka syaratnya ada tiga; 1. Hendaknya ia menjauhi maksiat (dosa) tersebut, 2. Ia harus menyesali perbuatan maksiat tersebut, 3. Ia harus berkeinginan untuk tidak mengulanginya lagi. Jika salah satunya hilang, maka taubatnya tidak sah. Adapun apabila dosa tersebut berkaitan dengan manusia maka ada syarat tambahan; 4. Hendaklah ia memenuhi hak orang tersebut (yang kita berbuat dosa kepadanya). Jika berbentuk harta benda atau sejenisnya maka ia harus mengembalikannya. Jika berupa ‘had’ (hukuman) tuduhan atau sejenisnya maka ia harus memberi kesempatan untuk membalasnya atau meminta maaf kepadanya. Jika berupa ghibah (gunjingan), maka ia harus meminta maaf” [8].

2.   Taqwa

Beberapa nash yang menunjukkan bahwa taqwa termasuk sebab rizki, di antaranya adalah:

a.  Firman Allah Ta’ala

“Barangsiapa bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar baginya. Dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya” [Ath-Thalaq: 2-3]

Dalam ayat diatas, Allah Ta’ala menjelaskan bahwa orang yang merealisasikan taqwa akan dibalas Allah dengan dua hal:

1. Allah akan mengadakan jalan keluar baginya. Maksudnya; Allah akan menyelamatkannya sebagaimana dikatakan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma “dari setiap kesusahan dunia maupun akhirat” [9].

2.  Allah akan memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangka. Artinya; Allah akan memberinya rizki yang tidak pernah ia harapkan dan angankan [10].

Ibnu Katsir mengatakan dalam tafsirnya;”Maknanya, barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah dengan melakukan apa yang diperintahkan-Nya dan meninggalkan apa yang dilarang-Nya, niscaya Allah akan memberinya jalan keluar serta rizki dari arah yang tidak disangka-sangka, yakni dari arah yang tidak terlintas dalam benaknya” [11].

Alangkag agungnya buah taqwa itu! Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata; ‘Sesungguhnya ayat terbesar dalam hal pemberian janji jalan keluar adalah “Barang siapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar baginya” [12].

b.  Firman Allah Ta’ala;

“Jikalau sekiranya penduduk negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, …. ” [Al-A’raf: 96]

Dalam menafsirkan ayat diatas, Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu mengatakan: “Niscaya Kami akan lapangkan kebaikan (kekayaan) untuk mereka dan Kami mudahkan bagi mereka untuk mendapatkannya dari segala arah” [13]

Menurut Imam Ar-Razi, maksud “berbagai keberkahan dari langit dan bumi” adalah; keberkahan langit dengan turunnya hujan, keberkahan bumi dengan tumbuhnya berbagai tanaman dan buah-buahan, banyaknya hewan ternak dan gembalaan serta diperolehnya keamanan dan keselamatan. Hal ini karena langit laksana ayah, dan bumi laksana ibu. Dari keduanya diperoleh semua bentuk manfaat dan kebaikan berdasarkan penciptaan dan pengurusan Allah” [14].

3.   Tawakkal kepada Allah Ar-Razzaq

Termasuk diantara sebab diturunkannya rizki adalah bertawakkal kepada Allah Ar-Razzaq, yang handa kepada-Nya tempat bergantung. Diantara dalilnya adalah;

a. Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Imam Ahmad, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Al-Mubarak, Ibnu Hibban, Al-Hakim, Al-Qhudha’i dan Al-Baghawi meriwayatkan dari Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

“Sungguh, seandainya kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakkal, niscaya kalian akan diberi rizki sebagaimana rizki burung-burung. Mereka berangkat pagi-pagi dalam keadaan lapar, dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang” [15].

Dalam hadits yang mulia ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyerupakan orang yang bertawakal dan diberi rizki dengan  burung-burung yang pergi di pagi hari dan pulang pada sore hari untuk mencari rizki. Padahal burung-burung itu tidak memiliki sandaran apapun, baik perdagangan, pertanian atau pekerjaan tertentu. Ia keluar dengan berbekal tawakal kepada Allah Ar-Razzaq, yang kepada-Nya tempat bergantung.

Jadi tawakal disini bukan berarti meninggalkan usaha. Imam Ahmad rahimahullah berkata; “Dalam hadits tersebut tidak ada isyarat yang membolehkan untuk meninggalkan usaha, sebaliknya justru didalamnya ada isyarat yang menunjukkan perlunya mencari rizki. Jadi maksud hadits tersebut, bahwa seandainya mereka bertawakal kepada Allah Ta’ala dalam kepergian, kedatangan dan usaha mereka, dan mereka mengetahui kebaikan (rizki) itu di tangan-Nya, tentu mereka tidak akan pulang kecuali dalam keadaan mendapatkan harta dengan selamat, sebagaimana burung-burung tersebut” [16].

Imam Ahmad rahimahullah pernah ditanya tentang seorang lelaki yang hanya duduk dirumah atau masjid seraya berkata, ‘Aku tidak mau bekerja sedikitpun, sampai rizkiku datang sendiri’. Maka beliau berkata, ‘Ia lelaki yang tidak mengenal ilmu’. Sungguh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

“Sesungguhnya Allah telah menjadikan rizkiku melalui panahku” [17]

Kemudian beliau menyebutkan hadits yang menyerupakan orang yang bertawakal ibarat burung-burung yang berangkat pagi pulang sore dalam rangka mencari rizki tersebut diatas.

Selanjutnya Imam Ahmad berkata; “Para sahabat juga berdagang dan bekerja dengan pohon kurmanya. Dan mereka itulah tauladan kita…” [18] [ Fathul Bari, 11/ 305-306]

b. Firman Allah Ta’ala

Allah Ta’ala telah berfirman;

“Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah Ta’ala akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu” [Ath-Thalaq: 3]

Ar-Rabi’ bin Khutsaim telah berkata dalam menafsirkan ayat tersebut; “(Mencukupkan) diri setiap yang membuat sempit manusia” [19].

4.   Beribadah Sepenuhnya kepada Allah Ta’ala

Di antara kunci-kunci rizki adalah beribadah kepada Allah Ta’ala sepenuhnya. Yakni beribadah sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadits:

“Hendaknya kamu beribadah kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya. Jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu” [20].

Janganlah kita termasuk orang-orang yang (ketika beribadah) jasad mereka berada di masjid, sedang hatinya berada di luar masjid.

Adapun beberapa nash yang menunjukkan bahwa beribadah sepenuhnya kepada Allah termasuk di antara kunci-kunci rizki adalah;

a.  Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad, At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al-Hakim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda;

“Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, ‘Wahai anak adam!, beribadahlah sepenuhnya kepada-Ku, niscaya Aku penuhi (hatimu yang ada) di dalam dada dengan kekayaan dan Aku penuhi kebutuhanmu. Jika tidak kalian lakukan, niscaya Aku penuhi tanganmu dengan kesibukan [21] dan tidak Aku penuhi kebutuhanmu (kepada manusia)’ ” [22].

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits tersebut menjelaskan bahwasanya Allah Ta’ala menjanjikan kepada orang yang beribadah kepada-Nya sepenuhnya dengan dua hadiah, sebaliknya mengancam bagi yang tidak beribadah kepada-Nya sepenuhnya dengan dua siksa. Adapun dua hadiah tersebut adalah Allah Ta’ala akan mengisi hati orang yang beribadah kepada-Nya sepenuhnya dengan kekayaan serta memenuhi kebutuhannya. Sedangkan dua siksa itu adalah Allah Ta’ala akan memenuhi kedua tangan orang tidak melakukannya dengan berbagai kesibukan, dan ia tidak mampu memenuhi kebutuhannya, sehingga ia tetap membutuhkan manusia.

b.  Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Hakim dari Ma’qal bin Yasar radhiyallahu ‘anhu ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

“Tuhan kalian berkata, ‘Wahai anak Adam, beribadahlah kepada-Ku sepenuhnya, niscaya Aku penuhi hatimu dengan kekayaan dan Aku penuhi kedua tanganmu dengan rizki. Wahai anak Adam!, jangan jauhi Aku, sehingga Aku penuhi hatimu dengan kefakiran dan Aku penuhi kedua tanganmu dengan kesibukan” [23]

Dalam hadits yang mulia ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, -yang berbicara berdasarkan wahyu-, mengabarkan tentang janji Alla Ta’ala, yaitu; Allah Ta’ala pasti memenuhi hatinya dengan kekayaan dan kedua tangannya dengan rizki. Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam juga memperingatkan akan ancaman Allah Ta’ala kepada orang yang menjauhi-Nya dengan dua jenis siksa, yaitu; Allah Ta’ala pasti memenuhi hatinya dengan kefakiran dan kedua tangannya dengan kesibukan.

Barangsiapa yang hatinya dikayakan oleh Ar-Razzaq, niscaya tidak akan didekati oleh kemiskinan selama-lamanya. Dan siapa yang kedua tangannya dipenuhi rizki oleh Ar-Razzaq dan Yang Maha Perkasa, niscaya ia tidak akan pernah pailit selama-lamanya. Sebaliknya, barangsiapa yang hatinya dipenuhi dengan kefakiran oleh Yang Maha Kuasa dan Maha Menentukan, niscaya tak seorangpun mampu membuatnya kaya. Dan siapa yang disibukkan oleh Yang Maha Perkasa dan Maha Memaksa, niscaya tak seorangpun yang mampu memberinya waktu luang.

Berhubung terlalu panjang dan untuk menghindari kejenuhan pembaca sekalian, pembahasan ‘Kunci-Kunci Rizki’ akan kami lanjutkan pada tulisan berikutnya ‘Kunci-Kunci Rizki (2)’ insyaAllah.

——-

[1].  Shahih Bukhari, Kitabut Tafsir, surat Nuh, 8/666.

[2].  Tafsir Al-Baghawi, 4/398. Tafsirul Khazin, 7/154.

[3]. Yakni ayat yang berbunyi: “Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya” (Hud: 3).

[4].  Tafsir Al-Qurthubi, 18/302. Al-Iklil fis Tinbathil Tanzil, hal. 274 dan Fathul Qadir, 5/417.

[4a].  Tafsir Ibnu Katsir, 4/449.

[5].  Majadih bentuk tunggal dari majdah, yakni salah satu jenis bintang yang menurut bangsa Arab merupakan bintang (yang jika muncul) menunjukkan hujan akan turun. Maka Umar radhiyallahu ‘anhu menjadikan istighfar sama dengan bintang-bintang tersebut, suatu bentuk komunikasi melalui apa yang mereka ketahui. Bukan berarti Umar radhiyallahu ‘anhu berpendapat bahwa turunnya hujan karena bintang-bintang tersebut (Tafsir Al-Khazin, 7/154).

[6].  Tafsir Al-Khazin, 7/154. Ruhul Ma’ani, 29/73.

[7].  Al-Musnad, no.2234, 4/55-56 (sesuai lafazh hadits tersebut). Sunan Abu Daud, Abwabu Qiyamil Lail, Tafri’u Abwabil Witr, Bab Fil Istighfar, no. 1515,4/267. Kitab Sunan Al-Kubra, Kitab Amalil Yaumi wal Lailah, no. 10290/2, 6/118. Sunan Ibnu Majah, Abwabul Adab, Bab Al-Istighfar, no.3964, 2/339. Al-Mustadrak ‘alash Shahihain, Kitabut Taubah wal Inabah, 4/292.

[8].  Riyadus Shalihin, hal. 41-42.

[9.]  Tafsir Al-Qurthubi, 18/159. Ar-Rabi’ bin Khutsaim berkata; “Dia memberi jalan keluar dari setiap apa yang menyesakkan manusia”. (Zaadul Masir, 8/291-292. Tafsir Al-Baghawi, 4/357 dan Tafsir Al-Khazin, 7/108).

[10]. Zaadul Masir, 8/ 291-292.

[11]. Tafsir Ibnu Katsir, 4/400.

[12]. Tafsir Ibnu Katsir, 4/400. Tafsir Ibnu Mas’ud, 2/651.

[13]. Tafsir Abu As- Su’ud, 3/253.

[14]. At-Tafsirul Kabir, 12/185. Tafsirul Khazin, 2/266 dan Tafsir At-Tahrir wa Tanwir, 9/22.

[15]. Al-Musnad, no. 205, 1/243 no. 370, 1/313 no. 373, 1/304. Jami’ut Tirmidzi Kitabuz Zuhud, bab Fit tawakkal ‘alallah, no. 2344, no. 2447, 7/7 dan lafadz ini adalah miliknya. Dan masih banyak riwayat yg lainnya.

[16]. Tuhfatul Ahwadzi, 7/8.

[17]. –

[18]. Fathul Bari, 11/ 305-306.

[19]. Syahrus Sunnah, 14/298.

[20]. Shahih Muslim, Kitabul Iman, bab Bayanul Iman wa Islam wa Ihsan, hadits no. 5(9), 1/39.

[21]. Faidhul Qadir, 2/308.

[22]. Al-Musnad, no. 8681, 16/284. Jami’ut Tirmidzi, Abwabul Shifatil Qiyamah, bab no. 2583, 7/140 dan lafadz ini miliknya. Sunan Ibnu Majah, Abwabuz Zuhd, Al-Hammu bi Dunya, no. 4159, 2/408. Al-Mustadrak ‘Alash Shahihain, Kitabut Tafsir, 2/443.

[23]. Al-Mustadrak ‘alash shahihain, Kitabur Riqaq, 4/326. Silsilatul Ahadist Shahihain, no. 1359, 3/ 347.

 
2 Comments

Posted by on October 20, 2011 in Adab & Akhlaq, Motivation, Suggestions (Nasehat)

 

Tags: , , , , , , , , , ,

2 responses to “Kunci-Kunci Rizki

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: