RSS

Akal dan Kecerdasan adalah Rezeki

01 Oct

Pemberian-pemberian Allah Ta’ala yang Maha Adil kepada semua makhluk-Nya adalah hampir sama (merata), dan nikmat-nikmat Allah kepada hamba-hamba-Nya amatlah banyak, tidak terhitung  dan tidak lah akan berkurang. Sebagaimana firman-Nya,

Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (An-Nahl: 18)

Nikmat-nikmat yang sudah ditetapkan oleh Allah Ta’ala sebagai bagian rezeki seseorang hamba tidaklah akan berkurang sedikitpun dan berpindah tangan serta akan terpenuhi sebelum ajal menjemputnya.

Harta, anak, istri yang salehah, kesehatan, akal, kecerdasan, fisik yang sempurna, akhlak yang baik, paras yang menawan, ilmu yang bermanfaat merupakan anugerah Ilahi dan pemberian yang bersifat rabbani. Semua nikmat tersebut tidak akan berkumpul pada diri seseorang, kecuali para nabi dan muqarrabin. Maka, jika kurang sesuatu, pasti akan diberi kelebihan yang lain. Sehingga janganlah diantara kita sombong akan kelebihan-kelebihan yang ada pada diri kita, bukankah kita lebih dalam hal atau bidang tertentu akan tetapi kita lemah dan kurang dalam bidang atau hal yang lain. Demikian pula janganlah kita pesimis, minder, akan kelemahan-kelemahan yang ada pada diri kita, yakinlah pasti kita juga punya kelebihan-kelebihan tertentu dan galilah kelebihan tersebut.

Barangsiapa yang diberi karunia banyak harta, maka mungkin tidak dikaruniai kesehatan, atau anak, atau kecantikan ataupun yang lain. Barangsiapa yang tidak dikaruniai kesehatan, maka mungkin dikaruniai akal dan kecerdasan, dan barangsiapa yang tidak dikaruniai anak keturunan, maka mungkin ia dikaruniai istri yang salehah, tabah dan cantik. Hal ini sebagaimana perkataan Sufyan bin Uyainah (1),

Barangsiapa yang ditambah akalnya, maka (boleh jadi) akan dikurangi rezekinya. (Al-Hilyah: 7/270)

Sekiranya kita disuruh memilih antara nikmat yang ada pada diri kita untuk diganti dengan nikmat lain, tentu hal tersebut akan mencelakakan kita. Sebagaimana dikatakan Syuraih Al-Qadhi kepada seorang pemuda yang datang kepadanya untuk mengadu atas kefakirannya, maka Syuraih berkata,

Syuraih: “Apakah kamu senang memiliki dua puluh ribu dinar sedang penglihatanmu diambil?”, maka pemuda tersebut menjawab, “Tidak“.

Lalu Syuraih berkata: “Apakah kamu ingin memiliki sepuluh ribu dirham sedang tanganmu diambil?”, sang pemuda berkata, “Tidak“.

Syuraih berkata lagi: “Apakah kamu senang memiliki sepuluh ribu dirham sedang kamu tidak memiliki satu kaki sehingga kamu pincang?”, “Tidak“, jawab sang pemuda.

Apakah kamu ingin memiliki lima puluh ribu dirham, sedang kamu menjadi orang gila?”, kata Syuraih. “Tidak“, jawab si pemuda tersebut.

Maka Syuraih berkata, “Maka cukuplah bagimu, pengaduan kepada Rabbmu, dan baginya harta senilai seratus ribu dirham padamu“. Maka pemuda tersebut malu dan pergi.

Di sadur dari Mi’atani Hikam as-Shahabah wa sh-Shalihin, Amin Muhammad Jamaluddin (Edisi Indonesia: 200 Mutiara Hikmah Para Sahabat dan Orang-orang Soleh).

——————————-

(1).  Seorang imam yang agung dan ahli fikih, beliau pernah menjadi gubernur Kifah (di Irak) pada tahun 108 H dan meninggal pada tahun 196 H.

 

Tags: , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: