RSS

Membangun Tradisi Perdebatan Yang Sehat

03 Apr

Dalam diskusi yang terjadi dalam berbagai majelis seperti perkuliahan, meeting, kelompok diskusi, kajian ilmiah, ataupun dalam hubungan pertemanan dan rumah tangga antara suami-istri, tidak jarang alias sering terjadi perbedaan pendapat yang menyebabkan perdebatan. Setiap orang dalam majelis tersebut mempunyai perbedaan cara pandang ketika beberapa permasalahan dipaparkan atau ketika problem menghadang.

Kemudian masing-masing orang atau pasangan suami-istri tersebut mengungkapkan pendapatnya berdasarkan pengetahuan, penelitian dan bacaannya. Seringkali suasana berubah menjadi panas dengan perdebatan ketika setiap orang mengeluarkan referensi, dalil-dalil dan pengetahuannya tentang permasalahan tersebut. Tak jarang juga para hadirin yang terlibat terpecah menjadi beberapa kubu. Majelis-majelis yang disebutkan diatas tidak bisa lepas dari debat seperti ini.

Namun semua itu hendaknya dilakukan dengan tujuan mencapai kebenaran dan memperjelasnya serta dilandasi persaudaraan yang tulus. Dengan begitu, orang yang keliru bisa merujuk kepada kebenaran tanpa rasa malu ataupun terbeban, sebagaimana pepatah Jawa; “Menang tanpo ngasorake”; menang tanpa merendahkan.

Ringkasnya, sebagian diskusi yang terjadi terkadang keluar dari tujuan utamanya dan membawa orang-orang yang berdiskusi terjatuh pada hal-hal yang dilarang syari’at atau debat kusir. Baik karena ingin menang, tak mau kalah, sombong, malu, tidak mau kembali pada kebenaran dan keinginan balas dendam terhadap seseorang yang berbeda pandangan dengannya.

Semua itu tak pantas dilakukan oleh seorang muslim yang buta huruf, apalagi para pelajar, penuntut ilmu, yang dipandang sebagai panutan dan tauladan dalam perkataan, perbuatan, dan tingkah lakunya.

Berikut ini adalah etika dalam perdebatan yang sehat dan ilmiah yang harus kita amalkan sehingga apa yang menjadi tujuan utama dalam perdebatan bisa terwujud, insyaAllah.

1.      Bertujuan mencari ridha Allah Ta’ala dengan menguak kebenaran

Imam Ibnu al-Jauzi berkata, “Di antaranya, debat diadakan agar kebenaran menjadi jelas. Para pendaulu kita yang shalih berdiskusi untuk saling menasehati dengan menguak kebenaran. Mereka berpindah dari satu dalil ke dalil lainnya. Jika salah seorang dari mereka tidak mengetahui sesuatu, maka yang lainnya mengingatkannya. Karena tujuan debat adalah untuk menampakkan kebenaran” [1].

2.      Hendaknya tahu dan faham permasalahan yang diperdebatkan

3.      Menampakkan semangat saling mengasihi dan persaudaraan dalam perdebatan

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahumahullah berkata, para ulama dari kalangan shahabat dan tabi’in, apabila berselisih pada satu permasalahan, mereka mengikuti perintah Allah Ta’ala dalam firman-Nya;

“Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Quran) dan rasul (hadits), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya” (An-Nisa: 59)

Mereka berdebat dalam suatu permasalahan dalam bentuk diskusi musyawarah dan saling nasehat-menasehati. Kadang dalam masalah ilmiah dan amaliah, pendapat mereka bisa berbeda. Namun persatuan dan tali persaudaraan dalam agama selalu terjaga [2].

4.      Menahan diri dan tidak marah

Sebisa mungkin berdebat dengan lembut dan menggunakan kalimat kasih sayang dan penghormatan sepanjang perdebatan. Seperti memanggil dengan kata “kawan” atau kata-kata lain yang pantas, dan jika ditambah dengan doa untuknya, niscaya akan lebih utama.

Diriwayatkan dari Ibnu Aun, jika ada orang yang membuatnya marah, ia akan berkata kepadanya, ” Baarokallahu fiikum (Semoga Allah memberkatimu)” [3].

Diriwayatkan juga dari Abdullah bin Ahmad bin Muhammad bin Qatadah, ia tidak pernah berdebat dengan seseorang kecuali dengan senyuman. Sampai-sampai sebagian orang berkata, “Syaikh ini membunuh lawannya dengan senyum” [4].

5.      Cepat menarik pendapat ketika kebenaran ada pada lawan debat

Menarik pendapat lalu merujuk kepada pendapat yang benar atau lebih kuat, dan meninggalkan pendapat yang lemah merupakan salah satu sifat yang terpuji, sifat para pengikut kebenaran. Sebagaimana nasehat khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu ketika beliau menulis surat untuk shahabat Abu Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu:

“Jangan kiranya keputusan yang pernah engkau keluarkan pada suatu hari, kemudian engkau menarik kembali pendapatmu dan engkau diberi petunjuk pada jalan yang benar, menahanmu untuk kembali pada pendapat yang benar. Karena kebenaran itu qadim (sudah ada terlebih dahulu). Tak ada sesuatu pun yang membatalkannya dan kembali pada kebenaran lebih baik dari terus-menerus dalam kebatilan..” [5].

Demikian juga sebagaimana yang dicontohkan Ibnu al-Jauzi;

“Pada remaja dulu, aku pernah mendengar hadits ini. Saya lalu mempraktikkannya selama 30 tahun, karena prasangka baik saya pada para perawi hadits itu. Ketika saya mengetahui hadits tersebut maudhu’ (palsu), sayapun meninggalkannya. Kemudian ada orang yang bertanya kepadaku;

“Bukankah amalan tersebut baik?”. Saya menjawab, ” Amalan yang baik harus merupakan amalan yang disyari’atkan. Jika kita mengetahui bahwa amalan tersebut bohong, maka ia keluar dari syari’at” [6].

6.      Tidak menyiarkan kekalahan lawan debat

Sebagian dari kita apabila mengalahkan seseorang dalam perdebatan akan merasa bangga dan menjadikannya sebagai buah bibir. Ia pun membicarakan kemenangannya pada setiap teman dudujnya, bagaimana ia mengalahkan berbagai argumentasi musuhnya dan merendahkan pendapat temannya.

Hal ini merupakan sikap yang buruk terkhusus bagi penuntut ilmu. Sifat yang bisa membawanya kepada sikap riya dan sum’ah. Membuat saudaranya lari dan menumbuhkan permusuhan diantara keduanya.

7.      Berterima kasih pada lawan debat ketika argument kita mengalahkannya dan memujinya ketika lawan debat kembali rujuk pada kebenaran

8.      Menutup pintu debat jika lawan debat keras kepala dan suka mencari-cari kesalahan.

Bersambung insyaAllah…

 
Leave a comment

Posted by on April 3, 2011 in Adab & Akhlaq, Suggestions (Nasehat)

 

Tags: , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: