RSS

Tidak Terpedaya dan Berlebihan dalam Mengerdilkan Diri

02 Jan

Kurangnya dukungan keluarga, fasilitas, lingkungan dan masyarakat merupakan faktor-faktor yang bisa menghambat menyebabkan lemahnya motivasi. Bagaimana akan sukses seseorang yang dibesarkan dalam keluarga yang broken home, tidak ada komunikasi sesama anggota keluarga, sehingga masing-masing anggota keluarga mencari kebahagiaan hidup diluar karena tidak merasakan kenyamanan di dalam rumah. Andai mereka bisa mendapatkan kebahagiaan, kehangatan kasih-sayang, kedamaian, kenyamanan dan keamanan di dalam rumah, untuk apa mereka bersusah payah mencarinya di luar rumah…??.

Institusi rumah tangga merupakan pondasi penting untuk mencetak generasi yang sukses, kesuksesan dunia-akhirat. Maka tidak heran kalau sebagian besar penyebab rusaknya generasi muda kita; maraknya pergaulan bebas,  narkoba dan lainya adalah keluarga yang tidak harmoni dan didukung oleh lingkungan yang tidak mendukung untuk berbuat kebaikan dan menjadi orang baik sebagai penyebab kedua.

Bagaimana akan sukses seseorang yang dibesarkan dalam lingkungan dan masyarakat yang terbiasa hidup santai, penuh hura-hura, banyak membadzirkan waktu, dan terjerembab dalam nafsu dan syahwat yang tidak terkendali. Kalaupun ada, kemungkinan untuk itupun teramat kecil dan tentunya atas rahmat Allah Ta’ala. Akan tetapi, bagaimanapun tidak harmoninya suatu keluarga, betapun amburadulnya lingkungan dan masyarakat kita, kesuksesan dalam kehidupan hanya sangat bergantung pada motivasi individu yang bersangkutan.

Setiap manusia pasti pernah mengalami kegagalan, kesalahan dan kelalaian. Bahkan karena seringnya kegagalan yang ditemuinya, tak jarang membuat mentalnya down dan kemudian berlebihan dalam mengerdilkan diri. Padahal kalau mereka tahu, betapa banyak orang yang sukses setelah mengalami kegagalan yang teramat sering, tapi mereka tidak lemah dan ciut hati menghadapinya. Dia selalu belajar dari kesalahan-kesalahan kemudian berusaha untuk memperbaikinya. Sehingga banyak orang mendapatkan kesuksesan hari ini karena dendam di masa lalu, ketidakpuasan  dan ketidakberhasilan yang pernah dia alaminya di masa-masa sebelumnya.

Kembali kepada topik bahasan sebagaimana judul diatas. Kedua perkara diatas; terpedaya dan berlebihan dalam merendahkan diri adalah salah satu penyebab terbesar rendahnya kemauan, sedangkan selamat dari kedua perkara tersebut merupakan factor terbesar tingginya kemauan.

Terpedaya (ghurur) ialah menganggap remeh siapa saja yang memusuhinya dan merasa bisa melakukan sesuatu di luar kemampuannya. Bahkan orang yang terpedaya tidak sudi mendengarkan nasehat, memperhatikan pendapat, rendah hati kepada yang lebih tua, atau menghormati orang yang lebih tahu (alim).

Inilah penyakit yang biasa menimpa generasi yang lemah, yang mengalami kemunduran dari puncak kemuliaan menuju ke ujung kelemahan dan hina. Inilah penyakit yang juga telah menjalar pada generasi kita dewasa ini. Bagaimana keterpedayaannya menjadikan pendapatnya di atas segala pendapat, pandangannya di atas segala pandangan, dan ilmunya di atas segala ilmu. Ia tidak henti-hentinya menyifati manusia dengan kedunguan, menyifati ahli ilmu dengan kebodohan dan sejenisnya.

Ketika suatu umat tertimpa bencana, mereka tidak sudi meminta nasehat kepada para penasehat yang kompeten di bidangnya. Mereka sebenarnya mengalami kemerosotan, tetapi menyangka bahwa merekalah yang paling tinggi. Kesulitan demi kesulitan berjibun, tapi mereka menyangka bahwa mereka lebih hebat daripada semua musuh mereka., dapat mengusir para musuh dengan gertakan, dan menolak mereka dengan hiruk pikuk dan banyak omong.

Adapun penyakit yang kedua adalah berlebihan dalam mengerdilkan dirinya. Sehingga, jangan heran bila anda melihat ada orang yang sengaja menghancurkan dirinya, tidak memiliki kemauan dan cita-cita, dan kurang percaya diri. Ia tidak melihat bahwa dengan kemampuannya itu ia bisa melakukan sesuatu dalam hidupnya.

Betapa kronisnya penyakit ini dan betapa pahitnya yang dihadapi generasi kita; sebab penyakit tersebut membuat lumpuh gerakan generasi umat ini dan membuatnya hina berhadapan semua pihak yang memiliki kekuatan.

Penyakit inipun juga telah menjalar pada generasi umat kita. Betapa banyak diantara kita yang dihancurkan oleh kemalasan. Sekiranya mereka ditanya mengenai hal itu, niscaya mereka akan menjawab,

“Siapa kami..?”

“Apa nilai kami?”

“Apa yang dapat kami lakukan?”

“Apakah dengan kemampuan yang kami miliki, kami harus menghentikan peredaran matahari atau memperlambat roda zaman?”

Sebenarnya, kalau kita membaca biografi para tokoh besar yang memenuhi lembaran-lembaran sejarah dengan karya-karya besar, tidak lain adalah orang-orang yang sama seperti kita. Mereka memiliki kecerdasan dan kewibawaan seperti yang kita miliki. Tetapi mereka percaya diri dan mengetahui nilai kewibawaan mereka. Sementara kita, melecehkan kemampuan kita sendiri, dan kita rela menjadi orang yang lena lagi terlena. Naudzubillah min dzalik…

Orang-orang seperti mereka sangat banyak dalam generasi kita ini. Lebih mengherankan lagi di kalangan yang tertimpa penyakit kemalasan dan kekerdilan, pada saat yang sama juga tertimpa penyakit ghurur; ia mendapatkan dirinya di tengah-tengah kaumnya sebagai orang yang sombong, bermegah-megah lagi terpedaya. Tetapi ia menganggukan kepalanya di hadapan para musuh dengan hina dina.

Manusia yang lurus dan berakal, yang melihat berbagai masalah sebagaimana mestinya, adalah orang yang berjalan berdasarkan garis keseimbangan. Ia tidak terpedaya dengan kecerdasan, ilmu, dan kekuatan yang dimilikinya lantas mengira segala keutamaan adalah buat dirinya dan melampaui batas dengan keterpedayaannya untuk mencapai segala kedudukan.

Dalam waktu yang sama, ia tidak boleh cenderung kepada aspek-aspek kelemahan dalam dirinya. Kemudian kelemahan tersebut menggiringnya kepada sikap berlebih-lebihan dalam menghinakan dirinya, meremehkan kemampuan dan potensinya. Akibatnya dia tidak dapat meraih segala keutamaan dan ia hidup dalam kehidupan dunia ini bak hidup segan matipun tak mau. Narimo in pandhum tanpa ikhtiyar.

Mudah-mudahan Allah Ta’ala membebaskan kita dari penyakit-penyakit tersebut. Amin.

Disadur dari:

Al-Himmah Al-’Aliyah Mu’awwiqatuha wa Muqawwamatuha; Muhammad bin Ibrahim Al-Jamd.

 

Tags: , , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: