RSS

Hal-Hal Remeh Pengganggu Hubungan Pasutri

09 May

Banyak hal yang menyebalkan yang mungkin sering dilakukan salah satu pasangan suami-istri (pasutri), atau bahkan mungkin sudah menjadi kebiasaan tanpa disadari betapa hal tersebut selain tidak baik dalam etika Islam, juga bisa menimbulkan rasa jijik dan pandangan rendah dari pasangannya. Kebiasaan-kebiasaan menyebalkan itu bisa jadi dianggap lumrah oleh sebagian orang, bila pasutri sudah menjalani kehidupan rumah tangga dalam waktu yang lama. Namun sebenarnya, tanpa disadari bisa berbias pada berkurangnya daya kejut saat berhubungan seks. Karena antara wibawa, kegagahan, kemesraan, dan romantisme dari pihak lelaki, dan sikap frminim, keangkuhan, kemanjaan, dan keseriusan dari pihak wanita, semuanya terimprovisasi dalam proses aktivitas seksual pasutri yang berkualitas. Semuanya menimbulkan daya kejut yang membantu kesempurnaan hubungan seks. Hal-hal yang menyebalkan itu, bisa mengurangi sebagian dari sisi-sisi penting tersebut.

Glegean (Sendawa)

Banyak kebiasaan buruk salah satu pasutri yang bersifat mengurangi wibawa bahkan terkadang bisa memunculkan rasa jijik pasangannya, sehingga dengan sendirinya si pasangan akan “kurang lepas” dalam melakukan hubungan seks, terutama sekali kebiasaan buruk yang secara jelas dilarang di dalam Islam. Salah satu diantaranya adalah glegean (bahasa Jawa) atau sendawa.
Glegean adalah proses keluarnya gas dari dalam perut melalui mulut yang umumnya disebabkan oleh kekenyangan atau kurang lancarnya proses keluarnya gas atau angin melalui lubang dubur. Meski demikian, bukan berarti sendawa itu tidak bisa ditahan. Bahkan pada umumnya, orang yang sering mengalami sendawa adalah orang-orang yang membiasakan dirinya untuk memudah-mudahkan keluarnya sendawa dari mulutnya. Dalam arti, jarang sekali ia mengupayakan agar sendawa itu tertahan dan tidak keluar. Oleh sebab itu, cara mengurangi dan bila mungkin menghilangkan kebiasaan sendawa itu ada dua.
Pertama, menghindari kebiasaan makan hingga kenyang apalagi terlalu kenyang.
Kedua, dengan menahan setiap kali sendawa akan keluar dari mulut.

Penahanan tersebut sama sekali tidak berbahaya bagi kesehatan. Bahkan keluarnya sendawa dari mulut itu terhitung kurang baik. Angin yang keluar dari lubang dubur itu lebih baik, karena sebagai indikasi bahwa proses keluarnya udara dari tubuh itu normal.

Apakah hukum bersendawa?. Dalam salah satu hadits dikisahkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat salah seorang sahabat beliau bersendawa, maka beliau bersabda;

“Tahan sendawamu! Karena orang yang paling sering kenyang di dunia akan menjadi orang yang paling banyak lapar di akhirat”. (Riwayat At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ath-Thabrani dan yang lainnya) [1]

Banyak ulama yang menjelaskan bahwa hadits ini secara tersirat menunjukkan dilarangnya makan sampai kenyang, meski larangan itu tidak sampai ke tingkat haram selama tidak terlalu berlebihan sehingga menyebabkan muntah. Sebagaimana dinyatakan oleh Al-Mubarakfuri dalam Tuhfatul Ahwadzi:

“Itu menunjukkan bahwa kenyang itu dilarang, karena kenyanglah yang seringkali menyebabkan orang bersendawa”.

Namun sebagian ulama menjelaskan bahwa larangan untuk kenyang sebagai sebab bersendawa, tentu juga merupakan larangan terhadap sendawa itu sendiri. Karena hal itulah yang dilarang oleh Nabi secara langsung. Meskipun demikian, kenyang itu tetap dilarang, walaupun tidak menyebabkan sendawa.

Diantara hikmah yang bisa dipetik dari hadits tersebut adalah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak suka mendengar sahabatnya bersendawa. Oleh sebab itu Nabi bersabda “Tahanlah sendawamu”. Kalau yang dilarang hanya kenyang, tentu Nabi bersabda “Jangan makan sampai kenyang”. Sendawa itu harusditahan karena hal itu dilarang oleh Nabi kita dan Beliau tidak pernah membenci perbuatan yang baik. Hal ini menunjukkan bersendawa itu termasuk perbuatan jelek.

Dalam kehidupan pasutri, tidak jarang bahkan seringkali suami atau istri merasa jijik kepada pasangannya yang suka bersendawa. Hal ini perlu untuk dicatat, meski terkesan remeh, namun cukup bisa membuat masalah dalam kehidupan seks.

Menguap

Satu lagi kebiasaan yang kurang baik dan bisa menimbulkan rasa jijik dari pasangan berhubungan seks, suami atau istri yang menguap. Banyak pasutri yang kurang memperhatikan hal yang satu ini. Sehingga tidak sedikit seorang suami atau istri menguap di hadapan pasangannya, saat sedang duduk-duduk, tidur-tiduran, atau bahkan saat sedang berhubungan intim. Kebiasaan ini sangat buruk. Bila sering dilakukan dalam keseharian dapat menurunkan wibawa dan menimbulkan ketidaksukaan pasangan, meski jarang diungkapkan. Kebiasaan seperti itu, jelas sangat menyebalkan. Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Sesungguhnya Allah menyukai orang yang bersin dan membenci orang yang menguap. Kalau salah seorang dari kalian bersin dan memuji Allah, maka sudah menjadi kewajiban muslim yang mendengarnya untuk mengucapkan ‘yarhamukallah’. Adapun menguap tidak lain berasal dari syetan. Kalau salah seorang di antara kalian menguap, hendaknya ia menahan sebisanya. Karena itu ketika salah seorang di antara kalian menguap, syetan menertawainya.” [2]

Imam Al-Mubarakfuri menjelaskan, At-Tatsaa-ub atau menguap, artinya nafas yang dapat membuka mulut untuk mengeluarkan uap yang berhenti dalam otot jantung.

Ibnu Batthal Rohimullah mengatakan,

“Yang dimaksud bahwa setan itu senang menguap adalah bahwa syetan senang bila melihat ada orang yang menguap. Karena ketika itu, terjadi perubahan raut muka lalu syetan pun tertawa karenanya. Sama sekali bukan berarti bahwa syetan itu menguap.” [3]

Dikatakan ‘dari syetan’, sebab menguap timbul dari lambung yang penuh, badan yang terasa berat, perasaan kacau yang menyebabkan rusaknya daya pikir, malas dan rasa kantuk. Semua hal ini disukai oleh syetan, hingga seolah-olah menguap adalah perbuatan yang berasal dari syetan. Arti menahannya yaitu dengan menutup mulut atau dengan meletakkan tangan ke mulut.

Selain itu, banyak juga pakar medis menyebutkan, bahwa hembusan nafas kita saat menguap atau meniup keras bisa menyemburkan zat-zat berbahaya yang secara kebetulan berada di mulut kita, ketika kita sedang sakit, sehingga menyebabkan terjadinya proses perpindahan penyakit seperti influensa, polio, parotitis (gondongan), campak jerman (rubella) [4], coryza (rinitis akut), infeksi esofagus [5], variola (cacar), tuberkulosis dan penyakit-penyakit lain, khususnya yang disebabkan oleh virus.

Jadi selain menyebalkan, kebiasaan yang satu ini juga tergolong membahayakan orang di sekitar, terutama suami atau istri dengan distribusi virus atau bakteri yang membawa penyakit.

Buang Angin Sembarangan

Di sebagian komunitas di Indonesia, buang angin sudah menjadi kebiasaan umum untuk dilakukan di mana saja, termasuk di kerumunan orang banyak. Adab atau etika seperti itu jelas tidak baik. Selain bisa menimbulkan gangguan, juga bisa menimbulkan dampak tertawa yang dilarang dalam kondisi demikian.

Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam pernah memberikan nasihat kepada sebagian sahabatnya, saat mereka tertawa karena mendengar suara kentut atau buang angin. Beliau bersabda, “Kenapa salah seorang dari kalian tertawa karena kejadian itu?!”

Sama halnya dengan menguap atau bersendawa, buang angin sembarangan, apalagi diiringi dengan mempermainkannya dan membuatnya sebagai bahan canda, sama sekali bukan kelakar yang sehat, lebih cenderung menunjukkan rendahnya tingkat berpikir seseorang. Baik pelaku sebagai penyebab pertama, maupun pihak yang menertawakannya, sama-sama terjebak dalam kesalahan sekaligus dalam tindak memalukan. Wajar bila Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam melarangnya.

Seorang suami akan terlihat sangat tidak bermutu bila mengumbar kebiasaan seperti itu. Apalagi seorang istri. Betapa tidak layaknya, penampilan suami atau istri yang di luar rumah terlihat rapi, necis, berwibawa, tetapi di dalam rumah menyimpan kebiasaan-kebiasaan yang bukan saja menyebalkan, tapi juga memalukan.

Pasutri yang ingin berhubungan seksualnya berjalan secara normal, hendaknya menghindari ganjalan-ganjalan menyebalkan seperti itu dalam keseharian [6]. Selain kebiasaan-kebiasaan di atas, masih banyak lagi kebiasaan sehari-hari masing-masing pasutri yang bersifat menjijikkan, meski tidaklah berarti harus dilarang dalam hukum syariat, dan tidak selamanya haram secara mutlak. Namun bila menimbulkan gangguan pada pasangan, sehingga menyebabkan ia merasa jijik dan kurang menyukai pasangannya tersebut, tentu itu tidak diperbolehkan dalam syariat. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Segala sesuatu yang berbahaya untuk diri sendiri atau membahayakan orang lain hukumnya dilarang.” (Shahihul Jamie’: 17393)

Sebut saja kebiasaan salah satu pasutri yang suka menciumi sebagian kotoran yang melekat di kuku, di balik telinga atau di lokasi-lokasi kotor lainnya, membersihkan gigi tanpa menutup mulut dengan tangan, membuang ludah sembarangan, dan lain sebagainya. Semua kebiasaan itu harus diusahakan untuk dihindari, agar pasangan merasa nyaman, sehingga memunculkan keteduhan setiap waktu, termasuk saat menjalankan hubungan pasutri…..

(Footnotes)

[1] Abu Isa (At-Tirmidzi) menyatakan: Hadits ini hasan gharib dari jalur sanad ini. Lihat Sunan At-Tirmidzi nomor 2478, tercantum juga dalam As-Silsilah Ash-Shahihah nonor 343

[2] Dikeluarkan oleh Al-Bukhari dalam Shohihnya (3289, 6226). Dikeluarkan oleh Muslim dalam Shohihnya (2994). Diriwayatkan oleh Abu Dawud (5028). Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi (370, 2747), dari hadits Abu Hurairoh

[3] Fathul-Bariy, 12/ 259

[4] Campak yang berasal dari Jerman,tapi dapat juga muncul di negara lain seperti di Indonesia. Disebabkan oleh virus Rubivirus. Pada anak dan remaja. Ibu yang sedang menderita kebetulan sedang hamil, dapat menyebabkan anaknya lahir cacat – penerj

[5] Saluran muskulomembranosa yang membentang dari faring ke lambung – penerj

[6] Pembahasan lebih lengkapnya dapat dibaca dari buku susunan penulis ‘Sutra Jingga’, Bukan Sekedar Hubungan Intim’, yang Alhamdulillah sudah beredar di pasaran

———————————

Oleh: Abu Umar Basyier

Majalah “Nikah” Vol.5, No.9, Desember 2006

17.08 wib @ Jember

Menjelang kepulanganku kembali ke negeri Jiran…

Jazakumullah khoiron buat istri atas bantuannya.

 
 

Tags: , , , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: