RSS

Meraih Berkah Kehidupan dengan Berbakti pada Orang Tua

06 Dec

Semua orang tua pasti akan mempunyai keinginan yang sama untuk bisa dekat dengan anak-cucunya, terlebih di masa-masa ketika mereka telah lanjut usia. Marilah kita mencoba untuk berempati sejenak ikut merasakan apa yang akan kita inginkan terhadap anak-anak kita kelak di masa-masa tua kita nanti. Banyak para ulama terdahulu maupun sekarang menulis risalah-buku dalam permasalahan ini, namun tak ada salahnya kita membahasnya kembali mengingat pentingnya masalah tersebut dan semakin dilupakannya adab &  akhlaq yang mulia ini.

Semoga tulisan ini bisa bermanfaat bagi penulis pribadi khususnya dan para pembaca budiman yang dirahmati Allah Ta’ala, dan  semoga kita dimudahkan-Nya untuk bisa mengamalkannya. Ameen.

Begitu pentingnya perkara ini, Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, ” Kareana itu Allah Ta’ala mendampingkan perintah ibadah kepada-Nya dengan perintah berbakti kepada orang tua, sebagaimana dalam firman-Nya,

“… dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.” (Al-Isra: 23)

Demikian juga Allah Ta’ala telah berfirman;

Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan perkataan ‘ah’ kepada keduanya, dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia“. (Al-Isra: 23).

Maksudnya jangan perdengarkan pada keduanya perkataan buruk walaupun hanya ucapan “ah” yang merupakan ucapan buruk yang paling ringan.

Maksud firman Allah Ta’ala;  “… dan janganlah kamu membentak mereka” adalah jangan sampai muncul dari dirimu perbuatan buruk pada keduanya. Hal ini sebagaimana pendapat Atha’ bin Abi Rabah; ‘jangan sampai engkau mengibaskan tanganmu pada keduanya’.

Ketika Allah Ta’ala melarang ucapan dan perbuatan yang buruk, Allah Ta’ala juga memerintahkan untuk mengucapkan perkataan yang baik, sebagaimana dalam firman-Nya;

“… Dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia“.

Maksudnya adalah perkataan lembut, baik, indah, sopan, hormat dan penuh pemuliaan.

Sedangkan firman-Nya, ” .. dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan“, maksudnya: rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan perbuatanmu.

Dan ucapkanlah; “Wahai Rabbku, kasihilah mereka berdua sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil“, maksudnya: kasihanilah mereka di waktu tua dan ketika mereka telah wafat. [1]

Adapun hadits nabawi yang membahas tentang kedudukan orang tua ada banyak sekali, diantaranya sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dimana ia bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam;

“Wahai Rasulullah, amalan apakah yang paling utama ?. Beliau menjawab; ‘shalat pada waktunya’. Lalu shahabat tersebut bertanya lagi, “Kemudian amalan apa lagi ?”, beliau menjawab “berbakti kepada orang tua”. Lalu saya bertanya lagi, ” kemudian amalan apa lagi ?”. Beliau menjawab; “jihad di jalan Allah”. [2]

Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata:

Seorang laki-laki bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Apakah saya boleh pergi berjihad?”. Nabi menjawab, “Apakah engkau mempunyai orang tua ?”. Orang itu menjawab, “Ya”. Nabi kemudian bersabda, “Berjihadlah dengan melayani keduannya”. [3]

Buatlah mereka (orang tua kita) mengetahui cinta, kasih sayang dan penghormatan kita pada mereka. Buatlah mereka gembira. Semua itu merupakan zakat ilmu kita dan balasan untuk sebagian kebaikan mereka.

Kisah Para Ulama Dalam Berbakti Pada Orang Tua Mereka

Berikut merupakan beberapa kisah ulama dan kesungguhan mereka dalam baktinya kepada orang tua. Padahal mereka adalah imam-imam mulia dan memunyai kedudukan yang tinggi.

1.  Iyyas bin Mu’awiyah menangis ketika ibunya meninggal dunia. Ia ditanya, apa yang membut anda menangis ?. Ia menjawab, “Sebelumnya saya mempuyai dua pintu masuk surga, sekarang salah satunya telah ditutup”. Berbakti kepada orang tua merupakan amal ibadah yang agung dan besar pahalanya, sehingga bisa menjadi salah satu sarana untuk mendapatkan surga.

2.  Dikisahkan bahwa ibu Abu Hanifah pernah bersumpah, kemudian ia melanggarnya. Lalu ia meminta fatwa pada Abu Hanifah. Abu Hanifah pun berfatwa untuknya namun ia tidak puas dan berkata, “Saya tidak akan ridha kecuali terhadap pendapat Zur’ah al-Qashi !”. Abu Hanifah lalu membawa ibunya pada Zur’ah al-Qashi. Kemudian Zur’ah berkata, “Apakah saya pantas memberimu fatwa sedangkan ahli fiqih negeri Kufah bersamamu ?!”. Abu Hanifa lalu berkata, “Berikan ia fatwa begini dan begitu”. Kemudian Zur’ah al-Qash berfatwa dengan pendapat itu dan ibunya puas. [4].

3.  Muhammad bin Bisyir al-Aslami berkata, “Tak ada seorangpun di negeri Kufah yang lebih berbakti pada ibunya dari Manshur bin al-Mu’tamar dan Abu Hanifah. Manshur membersihkan kutu dari kepala ibunya dan menindas kutu tersebut. [5]

4.  Imam Ibnu Asakir ditanya tentang penyebab kedatangannya yang terlambat di negeri Ashbahan, ia menjawab, “Ibu saya belum mengizinkanku”. [6]

5.  Hayyuyah bin Syuraih sedang duduk di majelisnya untuk mengajar. Lalu ibunya berkata, “Berdirilah wahai Hayyuyah dan berilah ayam ini gandum”. Ia pun lalu berdiri dan meninggalkan majelis.

6.  Muhammad bin al-Munkadir berkata, “Umar (yakni saudaranya) sedang shalat malam dan saya pada malam itu mengurut kaki ibu saya. Dan saya tidak suka malam saya diganti dengan malamnya Umar”.

7.  Imam Adz-Dzahabi mengisahkan dirinya, “Ketika guru kami al-Fadhili meninggal dunia sebelum saya menyelesaikan bacaan (pelajaran) padanya, saya masih terus menyesal”. Kemudian di berkata lagi, “Saya semakin rindu dan menyesal berjumpa dengannya, karena keadaan orang tuaku tidak memungkinkanku untuk berpergian”. [7]

Adz-Dzahabi pernah pergi ke salah seorang imam dan tinggal disana selama beberapa waktu. Ia berkata, “Saya telah berjanji pada ayahku dan bersumpah untuknya bahwa saya tidak akan pergi lebih dari empat bulan. Saya takut durhaka kepada beliau”. [8]

Hendaklah kita bersungguh-sungguh menunaikan hak orang tua, karena bakti pada orang tua merupakan;

  • Ketaatan kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya
  • Sebab diberkahinya umur dan rizqi
  • Sebab berbaktinya anak pada orang tua
  • Sebab dikabulkannya doa, sebagaimana disebutkan dalam kisah Uwais al-Qarni.

Semoga Allah Shubhanahu wa Ta’ala menjadikan kita termasuk orang yang berbakti pada orang tua dan orang tua yang anak-anaknya berbakti padanya.

——————————–

Ma’alim fi Thariq Thalab Al-Ilmu, Abdul Aziz bin Muhammad as-Sadhan

[1].  Tafsir Ibnu Katsir, III/ 37-38

[2].  H.R. Bukhari dan Muslim

[3].  Idem

[4].  Kitab Manaqib Abi Hanifah, Imam al-Muwaffaq bin Ahmad al-Makki, I/ 255.

[5].  Idem

[6].  Tadzkirah al-Huffazh, hlm. 1333.

[7].  Ma’rifah Qurra al-Kibar, II/ 551.

[8].  Idem.

 

Tags: , , , , , , ,

4 responses to “Meraih Berkah Kehidupan dengan Berbakti pada Orang Tua

  1. Echie

    December 7, 2009 at 1:05 pm

    Alhamdulillah… akhirnya ada postingan baru, setelah sekian lama berlalu.
    Semoga bs memotivasi kita untuk sll berbakti kpd kedua orangtua, berusaha meraih keridhoannya pula.
    Semoga juga bisa trs aktif berkarya.
    Blognya bagus! Semoga bermanfaat.

     
  2. meilana

    December 10, 2009 at 4:01 pm

    Alhadulillah.., ma kasih ya Echie dah sudi berkunjung.

     
  3. itzar chaidir

    January 22, 2010 at 3:30 am

    mohon izin untuk kutip sedikit jd tugas artikelnya….

     
  4. admin

    January 22, 2010 at 1:34 pm

    Oh ya, silahkan. Terimakasih dah berkunjung🙂

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: