RSS

Marhaban Ya Ramadhan…..

22 Aug

Seribu kenangan masa kecilku di bulan-bulan Ramadhan kembali hadir dalam ingatanku. Masa kanak-kanak kami habiskan di Ambarawa,  sebuah kota kecil disebelah Salatiga, Jawa Tengah. Waktu itu, tiap sore kami mempunyai kebiasaan naik bukit-bukitan dibelakang rumah dengan kakakku dan kawan-kawan kecilku hanya sekedar untuk mendengar suara mercon “duuung…” diatas langit sebagai tanda waktu berbuka. Aneh memang kanak-kanak itu ya, hanya mendengar suara itu saja senengnya minta ampun. Setelah itu kami berhamburan turun untuk ikut berbuka puasa bersama keluarga.

Beranjak sekolah dasar, keluarga kami pindah ke Sragen, dan kami bersekolah di SDN 13 Sragen. Yang mengasikkanku disetiap Ramadhan kala itu adalah jlaburan, -makanan yang disediakan setelah habis sholat teraweh-, yang kalo di Malaysia dinamakan moreh.  Mungkin sudah menjadi tabiat anak-anak yang selalu berebut, susah diatur, kalo dalam urusan bagi-bagi makanan, dan akupun juga selalu ikut berebut makanan waktu itu [wes jan…, jadi malu sendiri kalau mengingatnya]. Seingatku yang kurasakan waktu itu, sholat ya kok luama sekali…, sampai keju-kemeng kakiku dan ingin segera selesai untuk berkompetisi mendapatkan jlaburan serta berharap segera lebaran, trus pergi ke embah di kampung pakai baju baru dan dapat uang fitrah dari paman-bibi.

Paman kami dikampung sebagai pengurus masjid selalu menyimpan kotak infak masjid di atap sudut rumah mbah kami, kami biasa meminta uang sambil menunjuk-nunjuk kotak infak tersebut, sehingga paman memberi uang recehan sebagai penyenang hati kami. [Wah nakal beut, smoga paman ndak korupsi deh waktu itu].

Memang sholat 5 waktu sudah menjadi kebiasaan kami sejak kecil, ibu kami sangat berjasa dalam menanamkan nilai-nilai ketaatan ini sejak dini. Beliau selalu mendadaniku setiap hari jum’at supaya pergi sholat jum’at di masjid. Alhamdulillah semua tertanam kuat dalam sanubariku sampai sekarang. Terima kasih ibu…, jazakillah khoiron. Kini sudah 25 tahun beliau meninggalkan kami, kembali ke haribaan sang Pencipta, Rabb-ku Azza wa Jalla, ketika melahirkan adik kami yang terakhir. Ketika itu ayah sedang bertugas di Timor-Timur sebagai seorang tentara sehingga tak bisa menyaksikan pemakaman ibu dan kami pun masih kecil-kecil. Semoga engkau mendapatkan tempat yang mulia disisi-Nya ibu, smoga Dia yang Maha Pengampun mengampuni dosa-dosamu. Dan aku berharap bisa selalu istiqamah dalam ketaatan sehingga bisa bersamanya kelak.

Kejadian itu menorehkan memori yang demikian mendalam tak terlupakan hingga sekarang. Semuanya adalah taqdir Allah Ta’ala, dan Allah Maha Pengasih & Maha Tahu yang terbaik bagi hamba-hamba-Nya. Walaupun awalnya itu terasa sangat berat bagi kami, jiwa kami memberontak, tidak terima, merasa Allah tidak adil… Alhamdulillah didikan ibuku untuk sholat lima waktu tak pernah kulupakan, saat kondisi selemah & sejatuh apapun, Allah Ta’ala masih sangat sayang pada hamba-hamba-Nya.

Di awal catur wulan di kelas 3 SMA dan di bulan Ramadhan juga, aku mendapat hidayah untuk mengenal Islam, untuk mencintai Islam sebagai agamaku, dan akupun rajin mempelajari Islam. Dari kehidupan hura-hura, begadang malam, jalan-jalan tanpa tujuan, kembali ke fitrah suci penuh kedamaian dan hidup bertujuan. Kehidupan yang pesimis, suram, loyo, hampa berubah menjadi optimis, cerah, semangat dan penuh harapan.  Ku tinggalkan hidup hura-hura, begadang malam, kawan-kawan gaul, ku mendekat ke kawan-kawan aktifis masjid. Semua berawal dari Ramadhan…

Akhirnya aku bisa menerima dan ridho terhadap kehendak Ilahi atas taqdir-Nya mewafatkan ibu kami setelah 10 tahun berlalu. Ku berazzam untuk membuang belenggu masa lalu yang telah sekian lama membelenggu hidup kami, mencoba bangkit berdiri, memperbaiki diri dan menyongsong hari depan penuh harapan dalam naungan Islam. Maafkan kami Allah, atas kejahilan & prasangka buruk kami terhadap kehendak & taqdir-Mu di masa lalu.

Yogyakarta…

Kota pertama yang kupilih untuk melanjutkan belajar dan memperbaiki diri. Kota tua dengan beragam kultur-budaya, beraneka ideologi dan aliran keagamaan pun ada disana, dimana anda bisa memilih menjadi orang baik-baik atau terjerumus dalam lembah kenistaan. Alhamdulillah Allah Ta’ala masih mencintaiku sehingga aku mendapatkan kawan-kawan yang baik, lingkungan yang mendukung untuk melakukan ketaatan. Semangat memperdalam Islam pun semakin subur disana. Jadi teringat komentar mahasiswa Yaman yang kala itu sedang menimba ilmu di Yogya juga, “Kullu syai’in jaiz…”, semua boleh alias serba bebas disini. Memang di kota ini anda bebas untuk memilih jalan hidup, anda pun bebas kok mau milih jadi apa. Hidup adalah pilihan Bro…!. Yogya memang kota kenangan, menyimpan banyak kenangan suka dan duka yang tak bisa terlukiskan dengan kata-kata. Ku membesar dan menjadi dewasa dalam naungan kota tua ini. Biarlah kenangan itu kusimpan dalam diari hatiku, sebagai kenangan manis yang tak mungkin terlupa.

Ramadhan di Yogya menorehkan kenangan tersendiri yang tak terlupa. Masjid Kampus UGM, masjid MPR sebelah utara fakultas teknik yang selalu menyediakan makanan buka puasa gratis, yang sebagian pengunjungnya adalah para mahasiswa. Bulan puasa memang menjadi bulan yang betul-betul berkah bagi para mahasiswa untuk berhemat. Bagaimana tidak hemat, anda bisa mencari masjid-masjid yang menyediakan buka puasa+sahur gratis, sehingga uang saku bulanan bisa dicelengi.

Dah menjadi kebiasaanku ketika itu untuk beri’tikaf di masjid di 10 hari akhir bulan Ramadhan. Tapi baru sekali rasanya aku merasakan iktikaf 10 hari penuh di masjid Gowok, kami cuma bertiga saja dan menjadi Ramadhan & iktikafku terakhir di kota-negeri yang kucintai. Memang boring rasanya waktu itu, mungkin karena masjidnya yang terlalu sempit dan sedikit kawannya.

Kini ku bermukim di negeri seberang untuk belajar dan bekerja sekarang. Kebiasaan iktikaf di akhir Ramadhan masih selalu ku lakukan walaupun tidak sempurna 10 hari penuh. Saya amat-amati ada yang menarik di negeri Jiran ini ketika bulan Ramadhan, jama’ah membludak penuh dan tak banyak berkurang sampai akhir Ramadhan. Sungguh berbeda dengan di negeriku yang cuma ramai di awal-awal dan akhir saja. Juga ada yang membuatku salut menginjak akhir Ramadhan disini, banyak dosen-dosen, professor ikut beriktikaf walaupun terkadang hanya di malam-malam ganjil saja. Mereka biasanya datang sendiri atau bersama anak-anaknya setelah sholat tarweh, kemudian tidur di masjid dan bangun malam untuk memperbanyak ibadah menggapai keberkahan malam lailatul qadar. Menjelang sahur mereka pulang atau ikut sahur bersama yang disediakan masjid dan pulang setelah sembahyang subuh.

Alhamdulillah, Ramadhan kemarin bisa beriktikaf lagi sampai akhir Ramadhan di masjid University Kebangsaan Malaysia bersama seorang kawan dari Palestina dan seorang kawan baru dari Uzbekistan tanpa direncanakan sebelumnya. Berharap.., Ramadhan ini saya dimudahkan untuk beriktikaf lagi, guna merenungi diri, menjauhi kesibukan dunia untuk sementara, meluruskan kembali niat-niat dan tujuan hidup. Semoga keinginanku untuk bisa beriktikaf di masjid Nabawi ataupun masjidil Haram di bulan Ramadhan bisa terkabul suatu hari nanti. Dan berharap smoga ada perubahan dan perbaikan diri di Ramadhan ini. Ameen.

Marhaban ya Ramadhan… Ramadhan Mubarak…

Kuala Lumpur, 1st Ramadhan 1430 H / 2009.

 
3 Comments

Posted by on August 22, 2009 in Motivation, My Stories

 

Tags: , , , ,

3 responses to “Marhaban Ya Ramadhan…..

  1. Desie Dwi

    August 25, 2009 at 3:08 pm

    Alhamdulillah Allah memberikan hidayah Nya.
    Subhanallah…untuk suasana Ramadhan di negeri Jiran, tp sbnrx di Jakarta jg bnyak tuh Mas masjid2 yg justru semakin ramai pd 10 hr terakhir krn bnyk yg beri’tikaf, dan mungkin masjid2 di kota lain jg. Cuma, kl ngebandinginnya ma suasana di kampoeng2, seperti di tempat saya (Jember tu kampung bkn? Hehe), memang gambaran tentang smakin berkurangnya jama’ah sholat Tarawih…cocok beut.
    Smoga Allah ta’ala mengabulkan doa dan harapan Mas, memberikan kemudahan dalam menggapainya. Aamiin…

     
  2. eko

    September 9, 2009 at 3:37 am

    di enteni konco2 ning MPR mas🙂

     
  3. zipoer7

    September 14, 2009 at 3:47 am

    Salam Takzim
    Perjalanan panjang bersama Romadhon menguak senyum yang tak pernah hilang, apalagi setiap momen tercatat dengan rapih, semoga ramadhan tahun ini membawa sejarah baru dalam catatan kecil.
    Salam Takzim Batavusqu

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: