RSS

Menerima Kritik & Nasehat dengan Hati Lapang

05 Jul

Sobat.., terkadang kita mempunyai sifat sangat kritis terhadap pendapat ataupun perbuatan orang-orang disekitar kita. Tapi, giliran kita dikritisi atau dinasehati oleh orang lain, kita merasa sebel & tidak terima.., mengacuhkan, ngerasa paling benar ataupun masuk telinga kanan keluar telinga kiri bak pepatah anjing mengonggong kafilah berlalu.

Sobat.., sebenarnya jika kita menerima kritik dengan jujur tanpa menunda, berbasa-basi dan membuka hati untuk nasehat, niscaya banyak aib dan urusan kita akan menjadi baik.

Semestinya kita senantiasa meminta nasehat dari orang yang kita anggap agama dan amanahnya bisa dipercaya. Jika ada orang yang menasehati kita, maka bukalah hati untuk menerimanya. Jika apa yang ia katakan benar, maka alhamdulillah. Dan jika apa yang ia katakan tidak benar, maka kita akan mendapatkan pahala dan ia mendapatkan dosa.

Imam Ibnu Hazm berkata,

Orang yang memujimu dengan sesuatu yang pada hakekatnya tidak ada padamu, sesungguhnya ia telah menyampaikan celaan dengan bagus, karena ia mengingatkanmu akan kekuranganmu. Dan orang yang mencela apa yang sebenarnya tidak ada pada dirimu, sesungguhnya telah memujimu dengan baik“. [1]

Sebagian dari kita kadang mendengar dan memasang telinganya untuk mendengarkan nasehat, tapi hatinya membantah dan berat untu menerima. Bahkan sebagian kita menunjukkan kesombongannya sehingga menyebabkannya berbuat dosa. Apalagi ada sebagian orang selesai dinasehati malah berkata; “Saya juga punya nasehat untukmu!. Dengarka, engkau mempunyai sifat seperti ini dan itu”.

Permasalahannya berubah menjadi saling balas, dan ini merupakan kebodohan. Ketahuilah, mengokohkan sesuatu yang tidak bagus dan menolak kebenaran adalah suatu kejahatan [2], berdasarkan firman Allah Ta’ala “AgarAllah menetapkan yang haq (Islam) dan membatalkan yang bathil (syirik) walaupun orang-orang musyrik itu tidak menyukainya”.

Ma’alim fi Thariq Thalab al-‘ilmi , Abdul Aziz bin Muhammad as-sadhan.

———————————————————————————————

1.   Al-Akhlaq wa as-Siyar, Ibnu Hazm, hlm. 38-39

2.   Tadzkirah as-Sami’ wa al-Mutakallim, hlm. 40.

 
 

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: