RSS

Wafatnya Rasulullah, Musibah Terberat

22 Jun

Ketika kita dilahirkan di dunia, kita disambut dengan orang-orang yang mencintai kita, dan kemudian mereka, -orang yang kita cintai & mencintai kita-, satu-persatu meninggalkan kita. Kawan…, bila kita ditimpa musibah dengan kehilangan orang-orang yang kita cintai baik ibunda & ayahanda yang telah membesarkan kita, ataupun anak kesayangan atau karib-kerabat kita, rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpesan supaya kita mengingat kematian beliau sebagaimana dalam hadits:

Jika salah seorang dari kalian ditimpa suatu musibah maka hendaklah dia mengingat musibah yang ia alami dengan kematianku, sesungguhnya itu adalah musibah terbesar“. [1]

Faidah yang bisa kita petik dari hadits ini tidak hanya sebatas anjuran untuk bersabar ketika ditimpa musibah. Bahkan hadits ini merupakan kunci-kunci ilmu dan ma’rifat, menerangi jalan bagi kaum muslimin, membuka mata mereka terhadap sebab-sebab kegelapan yang mereka jalani, mengenalkan musibah-musibah yang mereka alami dan menunjukkan kepada mereka jalan keselamatan dengan mengikuti manhaj nubuwah dan risalah.

Setiap orang besar yang meninggal akan menyisakan pengaruh dalam diri orang yang mengagungkannya. Demikian juga wafatnya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak hanya berdampak pada diri shahabat radhiyallahu ‘anhum saja, namun juga pada segenap umat beliau hingga sekarang.

Dari hadits ini menjadi jelaslah bahwasanya kematian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah musibah terbesar yang telah menimpa dan akan tetap menimpa umat Islam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta kita untuk mengingat musibah kematian beliau sehingga dengan itu musibah-musibah yang kita alami akan menjadi ringan.

Tidakkah kita kehilangan seorang yang kita cintai, kita muliakan, kerabat dekat atau sahabat kecuali hati ini merasa sakit dan tersiksa dengan kepergiannnya. Apakah kita sudah merasakannya di saat kita meresapi perpisahan dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?.

Ketika seorang lelaki kehilangan seluruh keluarganya, hatinya menjadi tersiksa dan terluka, sehingga air matanya menumbuhkan kesedihan yang mendalam. Kemudian setelah berselang beberapa masa, dia menikah lagi dan beberapa tahun kemudian salah seorang anaknya meninggal. Bagaimanakah kesedihan dan rasa sakit yang dia rasakan jika dihubungkan dengan musibah-musibah pertama?. Bukankah perkaranya menjadi lebih ringan dan musibah menjadi lebih entheng?.

Sesungguhnya musibah wafatnya rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam akan terasa menjadi besar jika kita menghayati sabda beliau:

Tidaklah sempurna iman salah seorang di antara kalian hingga aku lebih ia cinta dari anaknya, ayahnya dan seluruh manusia“. [2]

Seolah-olah hadits ini memberi makna, tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian hingga kematianku menjadi musibah terbesar daripada musibah kehilangan anak, ayah, ibu kalian dan seluruh manusia.

Di manakah rasa ini..?. Demi Allah di manakah perasaan ini..?. Inilah dia perasaan seorang mukmin sejati.

Apakah engkau telah mengalami kehilangan ibunda tercinta?. Ingatkah engkau ketika ibundamu meninggal sedang engkau meratapinya..?. Ia yang telah melahirkanmu dari kegelapan rahim menuju cahaya dunia dan yang telah memelihara dan membesarkanmu dengan penuh kasih sayang…

Tapi…, sesungguhnya Allah telah mengeluarkanmu melalui dakwah nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dari gelapnya dunia kesesatan menuju cahaya hidayah dan tauhid. Dengannya, bi idznillah, menjadi penyelamat bagimu dari kekekalan dalam neraka. Lantas apakah dengan air susu ibundamu, kasih sayang dan kelembutannya bisa menyelamatkanmu dari kekekalan di dalam neraka…?

Demi Allah, sekiranya aku memiliki seribu ibu dengan kasih sayang dan kelembutan seperti ibundaku, kemudian mereka meninggal secara bersamaan, tidak selayaknya aku bersedih melebihi kesedihanku atas wafatnya rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Apakah engkau pernah merasakan kehilangan anakmu..?

Ataukah tangisanmu semakin menjadi ketika engkau mengingat bantuannya, kasih-sayangnya dan baktinya kepadamu..?. Sampai taraf manapun semua itu sesungguhnya tidak akan bisa mencapai apa yang telah dipersembahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kita. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mempersembahkan kepada kita perkara-perkara yang bisa membuat Allah Ta’ala memasukkan kita ke surga yang kekal dan penuh dengan berbagai kenikmatan.

Kita menikmati bantuan anak-anak kita dan kasih sayang mereka dalam tahun-tahun yang akan berlalu, namun kenikmatan-kenikmatan dalam surga akan kita nikmati tanpa ujung penghabisan.

Tidakkah rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berhak untuk lebih kita tangisi melebihi selainnya..?. Tidakkah beliau berhak untuk dikenang melebihi kenangan kita ketika kita kehilangan anak dan kekasih..?

Taisir Al-Wushul Ila Tafshil Wafatur Rasul; Majdi Muhammad Asy-Syahawi & Husain bin Audah Al-Awayisyah.

[1].  Ath-Thabrani, Al-Kabir & As-Silsilah Ash-Shahihah No. 1106.

[2].  Al-Bukhari dan Muslim.

 
Leave a comment

Posted by on June 22, 2009 in Motivation, Suggestions (Nasehat)

 

Tags: , , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: