RSS

Para Pendidik Teladan

05 Mar

Mungkin sudah digariskan Allah Ta’ala bagi saya untuk selalu hidup dlingkungan orang-orang terpelajar, dan berteman dengan para mahasiswa, dosen dan peneliti. Terlebih di negeri Jiran ini, hampir 95% teman-teman saya adalah para dosen dari berbagai universitas di Indoensia yang sedang studi S3 disini. Saya pun yang bekerja di research company, sehari-harinya bertemu dan bergaul dengan para peneliti, professors dari berbagai negara. Alhamdulillah atas nikmat-Nya yang sangat banyak.

Tulisan ini saya persembahkan bagi kawan-kawan saya para pendidik, dosen…, yang sedang belajar di berbagai negara, walaupun tidak menghalangi bagi kawan-kawan yang berprofesi lain untuk bisa mengambil manfaatnya. Coretan tangan ini hanya sebagai pengingat akan besarnya amanat dan tanggung-jawab para pendidik untuk membina generasi penerus bangsa yang akan meneruskan estafet kepemimpinan dan keilmuan. Dengan penuh harapan semoga dunia pendidikan di negeri kita tercinta bisa berubah, tidak menekankan pada menajamkan kepandaian otak belaka, melainkan ditopang dengan moral yang tinggi, akhlaq yang mulia dan budi-pekerti yang luhur. Ameen.

Para pendidik teladan adalah orang-orang yang mempunyai tanggung jawab besar dan merasakan besarnya amanat, orang-orang yang memiliki pandangan yang jauh, tinggi kemauan, luas cakrawala dan akhlak yang luhur, orang-orang yang memiliki kesantunan dan ilmu pengetahuan, kesabaran dan keberanian, kemuliaan dan kebesaran jiwa.

Pengaruh pendidikan mereka dalam pendidikan sangatlah besar, dan peran yang mereka mainkan tidaklah mudah. Seorang pendidik teladan, yang dalam dirinya berkumpul unsur-unsur kebajikan, kemuliaan dan kecerdikan, pasti akan berpengaruh kepada anak-anak didiknya dan mereka akan berperangai dengan perangainya. Sebab ia akan mendidik mereka kepada sesuatu yang mulia, akhlak yang mulia, dan mendaki menuju kesempurnaan.

Dalam hal ilmu pengetahuan, ia membuka pintu-pintu ilmu buat mereka, dan menajamkan otak mereka untuk memahami maknanya dan mengetahui sasarannya. Ia memberi keleluasaan dalam pembahasan dan mengembalikan kepada kebenaran, apabila mereka melakukan kesalahan. Memuji mereka dengan penuh kelembutan apabila mereka saling berdiskusi dan benar.

Bahkan ia sangat berambisi agar anak-anak didiknya bisa lebih baik daripadanya. Karena itu, ia tidak merasa perlu membuat jarak dengan anak didiknya, dan tidak ada dalam jiwanya perasaan jengkel, apabila ada salah satu di antara mereka yang mengunggulinya.

Itu tidak lain terjadi karena kemuliaan jiwanya, ketinggian citanya dan keluasan wawasannya. Karena ia bekerja demi perbaikan dan ingin membuang katup yang menutupi manusia, karena ia beramal untuk akhirat, dan ia tahu bahwa pahalanya akan terus berlanjut serta berlipat ganda apabila ia mampu mengkader para anak didik yang akan melanjutkan perjuangannya dalam ilmu pengetahuan dan menyebarkan apa yang mereka timba darinya.

Sejarah telah menulis bahwa di antara para guru itu terdapat guru yang berambisi agar para murid-muridnya mencapai puncak ilmu pengetahuan, dan tidak terdapat dalam jiwa mereka suatu kesempitan, apabila salah seorang muridnya mengalahkannya dalam pembahasan maupun dalam dialog.

Para sejarawan telah menulis bahwa Al-allamah Abu Abdillah Asy-Syarif At-Tilmisani (afwan saya belum tahu biografinya ni..) pernah menjadi seorang murid kebanggaan. Diriwayatkan bahwa ia pernah berdebat dengan gurunya, Abu Zaid bin Al-Imam tentang suatu masalah. Tanya jawab berlangsung cukup lama sehingga Abu Abdillah mengalahkan gurunya, maka sang guru mengakui kebenaran pendapat muridnya itu dan bersenandung secara berkelakar;

Aku mengajarkan kepadanya memanah setiap hari,

Ketika lengannya telah kuat, maka ia memanahku. [1]

Jika anda melihatnya dalam bidang-bidang lainnya, maka anda melihat pendidik yang utama ini mendidik anak-anak didiknya kepada keadilan, keutamaan adil, dan berhati-hati dari salah ucap ataupun perkataan yang keji.

Anda melihatnya juga, ia mendidik mereka dengan keberanian, tekad yang bulat, kemuliaan jiwa (‘izzatun nafs), dan membenci serta menjauhi kezaliman. Sebagaimana halnya ia akan mendidik mereka untuk senantiasa rendah hati dan jauh dari sifat ujub dan congkak terhadap hamba-hamba Allah Ta’ala.

Al-Himmah Al-’Aliyah Mu’awwiqatuha wa Muqawwamatuha; Muhammad bin Ibrahim Al-Jamd.

———————————————————————————————————————————

[1].   Rasa’ilul Ishlah, 1/ 144.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: