RSS

Berjiwa Pemurah & Dermawan

02 Mar

Sudah sejak lama saya ingin sekali ke toko buku Islam di Masjid Jami’ – Kuala Lumpur, mencari buku-buku yang bisa menyuntikkan semangat kembali. Alhamdulillah sabtu kemarin kaki ini terasa ringan diajak melangkah kesana. Toko buku ini dulunya bernama ‘Pustaka Indonesia’, karena memang isinya buku-buku ke-Islaman yang berasal dari berbagai penerbit di Indonesia, tapi sekarang sudah berganti nama ‘Fajar Ilmu Baru’. Memang harganya sedikit lebih mahal kalau dibandingkan dengan harga di Indonesia, tapi namanya dah kepengen dan ada untungnya juga, kita tidak usah pergi ke kota-kota penerbit tersebut ,-Yogya, Solo, Bandung and Jakarta-, untuk mendapatkan suatu buku, karena sudah terkumpul di toko buku ini.

Ketika sedang asyik membaca, ada seorang Pak Cik orang tempatan yang menyapa saya. Janggutnya yang panjang dan sikapnya yang ramah membuat kami cepat akrab. Kemudian obrolan mengenai Islam dan kelompok-kelompok yang muncul di akhir zaman ini mengalir dengan sendirinya.

Saya lalu berpindah tempat untuk melihat-lihat buku-buku yang lain, tanpa saya sadari Pak Cik tadi mendekati saya dan berkata, “Saya ingin menghadiahkan buku untuk anda, silahkan ambil nanti saya bayar”, kurang lebihnya seperti itu. Kaget juga ni, ada orang kok baik amat, rizqi nomplok nih. Masak orang mau beramal kok ditolak, tak baik nolak rizqi. Berikutnya saya mengambil satu buku tentang “Terputusnya Wahyu dari Langit; Detik-Detik Menjelang Wafatnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam“, yang diterjemahkan dari dua kutaib (kitab kecil) berjudul asli “Taisir Al-Wushul Ila Tafshil Wafatur Rasul” dan “Mushibah Mautin Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam wa Atsaruha fii Hayatil Ummah“. Mungkin tabiat wong Solo, sing isinan, saya cuma ambil sebuah buku, kemudian dia melihat judulnya sepintas dan membolak-balik halamannya dan meminta saya untuk ngambil lagi buku yang lain, alhamdulillah…

Ngomong-ngomong isin juga yo, nek arep njupuk buku sing gedhe-kandhel, sing larang regane he..he… (nganggo boso Jowo wae, mergane Encike tak kei ngerti alamat blog ku iki ;)). Jazakallah khoiron Cik ucapan saya ketika mau berpisah.

Berjiwa pemurah, dermawan, dan membantu keperluan manusia adalah salah satu bentuk kemauan yang tinggi dan  merupakan faktor terbesar dapat diraihnya cita-cita. Sebab betapa banyak sifat tersebut dapat menghilangkan kesempitan, menambah kasih-sayang, menghilangkan permusuhan dan menegakkan muru’ah. Perbuatan ini juga merupakan sifat terpuji yang terbesar dan yang paling banyak mendapatkan pujian. Karenanya tidaklah mengherankan apabila orang-orang yang memiliki kemauan tinggi dan berjiwa besar bersegera melakukannya dan menganjurkan untuk mencarinya, berusaha mendapatkannya, dan berhias dengan sifat tersebut.

Imam Syafi’i berkata;

Manusia disebut manusia selama masih memiliki kehidupan

dan kebahagiaan itu sudah pasti tidak selamanya.

Sebaik-baik manusia adalah orang yang menyelesaikan hajat orang lain dengan tangannya.

Jangan menolak untuk mengulurkan tangan kepada seseorang selama anda mampu

sebab kebahagiaan itu tidak selamanya.

Syukurilah karunia ciptaan Allah

sebab itu dijadikan untuk memenuhimu

bukan untuk kau miliki

saat manusia membutuhkan. [1]

Ia juga telah berkata;

Duhai betapa menyesal diriku atas harta yang kutinggalkan

kepada orang-orang yang kurang memiliki adab yang baik

Kata maafku kepada orang yang datang kepadaku meminta

apa yang tidak kumiliki adalah sebuah musibah. [2]

Khalid bin Abdullah Al-Qasri berkata, “Berlomba-lombalah untuk mendapatkan pahala dan bersegeralah meraih kemuliaan. Carilah pujian dengan kedermawanan, jangan kau cari celaan dengan harta. Janganlah menjanjikan dengan kebaikan dan jangan pula tergesa-gesa. Ketahuilah bahwa hajat-hajat manusia adalah nikmat dari Allah Ta’ala atasmu, karena itu janganlah kalian merasa bosan sehingga hal itu berubah menjadi penyaki“t. [3]

Bahkan masyarakat jahiliah dahulu juga memuji kedermawanan  sebagaimana termaktub dalam himpunan sya’ir-sya’ir jahiliah.

Anda melihatnya berseri-seri tatkala anda datang kepadanya

Seolah-olah anda memberi orang yang kepadanya anda meminta.

Jika demikian, maka sudah selayaknya orang yang berakal untuk berakhlaq demikian dan berusaha untuk mencarinya; sebab itu merupakan salah satu hal yang dapat membawa kepada derajat yang tinggi di dunia dan di akhirat.

Ibnu Hibban Al-Basith mengatakan, “Kewajiban bagi orang yang berakal, apabila Allah Ta’ala memberikan kenikmatan duniawi yang fana ini dan ia mengetahui bahwa semua itu akan lepas darinya, akan berpindah tangan, serta tidak akan bermanfaat baginya di akhirat kelak kecuali amal shaleh yang telah dilakukannya, hendaknya ia berusaha semaksimal mungkin melaksanakan hak-hak hartanya dan melaksanakan kewajiban-kewajiban untuk mendapatkannya, semata-mata guna mencari pahala di akhirat kelak dan nama yang harum di dunia ini. Sebab kedermawanan itu disukai dan dipuji, sebagaimana halnya kebakhilan itu dicela dan dibenci. Tidak ada kebaikan pada harta kecuali disertai dengan kedermawanan”. [4]

Semoga kita dimudahkan untuk bisa mengamalkannya… ameen.

Al-Himmah Al-’Aliyah Mu’awwiqatuha wa Muqawwamatuha; Muhammad bin Ibrahim Al-Jamd.

——————————————————————————————————————————————————————

[1].  Diwan Asy-Syafi’i, tahqiq Khaffaji; 83.

[2].  Ibid, tahqiq Az-Zabiy; 28.

[3].  Ithaf An-Nubala’ bi Ikhbar wa Asy’aril Kurama’ wal Bukhala‘, Al-Hanbali, tahqiq Yusri Al-Busyri, hal. 60.

[4].  Raudhatul Uqala‘, hal. 235.

 
4 Comments

Posted by on March 2, 2009 in Adab & Akhlaq

 

4 responses to “Berjiwa Pemurah & Dermawan

  1. dhidikp

    March 3, 2009 at 4:26 pm

    ustadz mei, blognya dikasih penterjemah biar orang dari lain negara bisa baca tulisan ustadz

    liat tulisanku berikut:
    http://dhidik.wordpress.com/2009/03/03/widget-penterjemah-untuk-blog-wordpress/

     
  2. meilana

    March 4, 2009 at 5:24 am

    jazakallah khoiron… ide bagus ya. Lagian hasil terjemahannya juga bagus tu.. Tapi sayang ya, ndak ada translate ke bahasa Jawa…Eh malah bagus ding, jadi bisa njaga rahasia.Nuwun.

     
  3. eko

    March 13, 2009 at 9:05 am

    mbok ustadz Mei sing gawe translator ke bahasa Jawa..

     
  4. meilana

    March 13, 2009 at 11:06 am

    Hadduh…, kok di panggil ustadz… jadi ndak enak ki. Wong kerjaannya utak-utik kok di celuk ustadz, sih tholabul ngilmi je..;)

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: