RSS

Kisah Kecemerlangan Para Tabi’in

02 Feb

Sudah menjadi kebiasaan ana membaca buku-buku kisah keteladanan, biografi ulama, tokoh besar, atau ilmuwan dan buku semisalnya, untuk meng-up-grade semangat ana yang lagi down. Kurang lebih empat atau lima tahun yang lalu ana pernah membaca buku “Shuwaru Min Hayati At-Tabi’in” atau “Jejak Para Tabi’in”, -edisi Indonesianya- , dan ada beberapa kisah dalam buku ini yang sangat berkesan di hati ana pada waktu itu. Alhamdulillah pada malam hari ini ana tergerak untuk menuliskannya dengan bahasa yang ringkas di blog ini.

Kisahnya yang terkadang lucu sempat membuat ana terbersit untuk memberi judul postingan “Canda Para Tabi’in”, tapi karena beberapa pertimbangan, ana putuskan untuk memberi judul seperti tersebut di atas.

Iyas bin Mu’awiyah bin Qurrah Al-Muzanni (radhiyallahu ‘anhu)

Beliau adalah seorang qadhi yang cerdas pada zaman khalifah Umar bin Abdul ‘Aziz radhiyallahu ‘anhu untuk daerah Bashrah. Beliau dilahirkan pada tahun 46 H di daerah Yamamah Najed. Kemudian beliau berpindah ke Bashrah beserta seluruh keluarganya. Di sanalah beliau tumbuh berkembang dan belajar.

Bakat dan kecerdasannya telah nampak ketika beliau masih kecil, dan orang-orang sering membicarakan kehebatannya.

♣♣♣

Telah diriwayatkan bahwa ketika masih kecil, beliau belajar ilmu hisab di sebuah sekolah yang di ajar oleh Yahudi ahli dzimmah. Pada suatu hari berkumpullah kawan-kawannya dari kalangan Yahudi itu, lalu mereka membicarakan masalah agama mereka tanpa menyadari bahwa Iyas turut mendengarkannya.

Guru Yahudi (Y) itu berkata kepada teman-teman Iyas;

Guru Y:  “Tidakkah kalian heran dengan kaum muslimin ituMereka berkata bahwa mereka akan makan di syurga, namun tidak akan buang air besar..?? “.

Iyas (menoleh kepadanya lalu berkata): “Bolehkah aku ikut campur dalam perkara yang kalian perbincangkan itu wahai guru..?”.

Guru Y: “Silahkan !”

Iyas: “Apakah semua yang dimakan di dunia ini, keluar menjadi kotoran ?”

Guru Y: “Tidak !”

Iyas: “Lalu.., kemana perginya yang tidak keluar itu ?”

Guru Y: “Tersalurkan menjadi makanan jasmani..”.

Iyas: “Lantas.. dengan alasan apa, kalian mengingkari ?. Jika makanan yang kita makan di dunia saja sebagian hilang diserap oleh tubuh, maka tak mustahil di syurga nanti, seluruhnya diserap tubuh dan menjadi makanan jasmani“.

Guru Y (merasa kalah argumen, lalu memberi isyarat dengan tangannya sambil berkata: “Semoga Allah mematikanmu sebelum dewasa“.

Ana jadi teringat debatnya PM Turki dengan PM Israel di forum ekonomi negara-negara Eropa baru-baru ini😉.

♣♣♣

Semakin bertambahlah umur beliau, dan berita tentang kecerdasannya makin ramai dibicarakan orang. Telah diriwayatkan bahwa tatkala beliau masih muda, ketika berada di Damaskus, beliau pernah bersengketa dengan seorang tua penduduk kota tersebut tentang suatu hak kepemilikan. Setelah putus asa menyelesaikannya dengan adu argumen, maka masalah tersebut dibawa ke pengadilan.

Ketika keduanya telah berada di depan hakim (qadhi), Iyas mengemukakan argumennya dengan suara lantang kepada rivalnya. Lalu ditegur oleh sang qadhi,

Qadhi: “Rendahkanlah suaramu wahai anak !”, karena rivalmu adalah seorang yang sudah besar, baik secara usia maupun kedudukannya“.

Iyas: “Akan tetapi kebenaran lebih besar dari dia“.

Qadhi: “Diam …!!!“. (dengan nada marah)

Iyas: “Siapakah yang akan mengemukakan alasanku jika aku diam..?“.

Qadhi: “Aku tidak mendapatkan semua keteranganmu sejak masuk majelis ini selain kebathilan…“.

Iyas: “Laa ilaaha illallahu wahdahu laa syariikalahu, jujurlah…!, apakah kata-kataku ini haq ataukah bathil..?

Qadhi: “Benar…!, demi Rabb-ul Ka’bah…, benar…!!!“.

he…he… ana jadi ketawa sendiri ni.

♣♣♣

Karena kecerdasan beliau dan semangatnya yang membara dalam menuntut ilmu, sampailah beliau mencapai kedudukan yang terhormat dalam ilmu. Sehingga orang-orang tua pun hormat dan belajar kepadanya meskipun usia beliau masih sangat belia.

Pada suatu tahun, ketika Abdul Malik bin Marwan mengunjungi Bashrah sebelum menjadi khalifah, dia melihat Iyas, -yang masih remaja dan belum lagi tumbuh kumisnya- , berada paling depan sebagai pemimpin, sedangkan di belakangnya ada empat orang qurra’ (penghafal Al-Qur’an) yang sudah berjenggot panjang dengan pakaian resmi berwarna hijau. Maka Abdul Malik berkata;

Abdul Malik: “Celaka benar orang-orang berjenggot ini, apakah disini tidak ada lagi orang tua yang bisa memimpin, sampai anak sekecil ini dijadikan pemimpin mereka? “.

(Lalu dia menoleh kepada Iyas dan bertanya)

Abdul Malik: “Berapa usiamu wahai anak muda?

Iyas: “Usiaku sama dengan usia Usamah bin Zahid saat diangkat oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai panglima pasukan yang di dalamnya ada Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhum, semoga Allah Ta’ala memanjangkan umur anda…”.

Abdul Malik: “Kemari, kemarilah wahai anak muda, semoga Allah Ta’ala memberkatimu“.

(Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu diangkat oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi panglima ketika umur -+15 tahun, wallahu a’lam).

♣♣♣

Semakin tersebarlah berita kecerdasan beliau, sehingga ramai orang-orang berdatangan kepadanya untuk belajar, bertanya ilmu, agama, ataupun yang hanya ingin menguji dan sekedar berdebat kusir. Diantara mereka adalah Duhqan, -seperti jabatan lurah di kalangan Persi dahulu-.

Duhqan: “Wahai Aba Wa’ilah, bagaimana pendapatmu tentang minuman yang memabukkan ?”

Iyas: “Haram !

Duhqan: “Dari sisi mana dikatakan haram, sedangkan ia tak lebih dari buah dan air yang diolah, dan keduanya sama-sama halal ?”

Iyas: “Apakah engkau sudah selesai bicara wahai Duhqan…, ataukah masih ada yang hendak kau utarakan ?

Duhqan: “Sudah, silahkan bicara!”

Iyas: “Seandainya kuambil air dan kusiramkan ke mukamu, apakah engkau merasa sakit ?

Duhqan: “Tidak !”

Iyas: “Jika kuambil segenggam pasir dan kulemparkan kepadamu, apakah terasa sakit ?

Duhqan: “Tidak !”

Iyas: “Jika aku mengambil segenggam semen dan kulemparkan kepadamu, apakah terasa sakit ?

Duhqan: “Tidak !”

Iyas: “Sekarang, jika kuambil pasir, lalu kucampur dengan segenggam semen, lalu aku tuangkan air diatasnya dan kuaduk, lalu kujemur hingga kering, lalu kupukulkan ke kepalamu, apakah engkau merasa sakit ?

Duhqan: “Benar, bahkan bisa membunuhku“.

Iyas: “Begitulah halnya dengan khamr. Di saat kau kumpulkan bagian-bagiannya lalu kau olah menjadi minuman yang memabukkan, maka dia menjadi haram“.

♣♣♣

Ketika beliau menjabat sebagai qadhi, telah terbukti bahwa beliau benar-benar orang yang cerdas, lihai, dan memiliki kemampuan besar dalam menyingkap hakikat suatu masalah sampai ke akar-akarnya.

Pernah terjadi sengketa antara dua orang, yang satu menyatakan bahwa dia telah menitipkan sejumlah harta kepada temannya, tetapi ketika ia memintanya lagi, temannya itu mengelaknya. Kemudian Iyas berkata kepada tertuduh sambil tetap mengingkarinya;

Iyas: “Bila kawanku ini punya bukti, silahkan didatangkan, kalau tidak maka tiada jalan baginya untuk menjatuhkan aku, kecuali dengan sumpah“.

Beliau khawatir jika orang itu makan harta yang bukan haknya dengan sumpahnya. Maka beliau segera berpaling kepada si penuduh dan bertanya;

Iyas: “Di manakah tempat engkau menitipkan harta itu kepadanya ?”.

Penuduh: “Di suatu tempat bernama anu….”. (sebagaimana teks aslinya lho)

Iyas: “Bagaimana ciri-ciri tempat itu ?”.

Penuduh: “Disana ada sebatang pohon besar. Kami duduk dan makan bersama, ketika kami hendak beranjak pulang, kuserahkan harta itu kepadanya“.

Iyas: “Pergilah ke tempat yang ada pohonnya tersebut, karena bila engkau mendatanginya bisa jadi akan mengingatkan engkau, dimana telah kau letakkan barang tersebut. Setelah itu segeralah kembali ke sini untuk mengabarkan apa yang engkau dapatkan disana“.

Lalu pergilah orang itu, sementara Iyas berkata kepada si tertuduh yang masih berada di hadapannya,

Iyas: “Tunggulah di sini sampai kawanmu kembali“.

Ia pun duduk menanti. Kemudian Iyas mengurus perkara-perkara lainnya sambil terus mengamati tertuduh secara diam-diam. Setelah dilihatnya agak tenang, Iyas pun bertanya,

Iyas: “Apakah kiranya kawanmu itu sudah sampai di tempat dimana ia menitipkan hartanya kepadamu ?’.

Tanpa menyadari jebakan Iyas tersebut, ia (tertuduh) pun menjawab,

Tertuduh: “Belum.., karena tempatnya jauh dari sini“.

Mendengar jawaban tersebut, Iyas sudah bisa menebak apa yang terjadi sesungguhnya, seraya beliau berkata,

Iyas: “Wahai musuh Allah, engkau hendak memungkiri harta itu sedangkan engkau tahu dimana tempat engkau menerimanya“.

Tertuduh tersebut tak bisa berkutik lagi, lalu mengakui khianatnya.

♣♣♣

Bukti kecerdasan beliau terlihat pula dalam kasus berikut ini.

Ada dua orang berselisih tentang dua kain beludru, -yang biasa diletakkan di atas kepala dan dijulurkan hingga ke bahu-, lalu mengadukan persoalan tersebut kepada beliau. Kain beludru yang satu berwarna hijau, masih baru dan mahal harganya, sedangkan yang lainnya berwarna merah dan telah usang.

Si penuduh berkata;

Suatu ketika saya istirahat di sebuah sungai untuk mandi, lalu aku letakkan beludru milikku yang berwarna hijau bersama bajuku di pinggir telaga. Lalu datanglah orang ini dan meletakkan beludrunya yang berwarna merah di samping beludruku, lalu terjun ke telaga. Kemudian dia selesai sebelum aku selesai, lantas dia memakai bajunya namun mengambil beludru milikku lalu dipakaikan di kepalanya dan langsung beranjak pergi. Ketika aku selesai, ku ikuti dia dan aku minta kembali beludruku, namun dia mengatakan beludru tersebut miliknya“.

Lalu Iyas berkata kepada lelaki yang dituduh;

Iyas: “Bagaimana komentar anda ?”.

Tertuduh: “Tidak demikian sebenarnya“.

Kemudian Iyas meminta kepada penjaga untuk diambilkan sebuah sisir. Selanjutnya Iyas menyisir kedua rambut kepala orang tersebut, lalu keluarlah dari rambut salah seorang dari mereka bulu halus berwarna merah yang tercecer dari beludru merah dan yang satunya keluar bulu halus yang berwarna hijau. Selanjutnya beliau memutuskan, beludru yang merah bagi yang tercecer di rambut kepalanya bulu kain merah dan beludru hijau untuk yang tercecer bulu hijau di rambut kepalanya.

♣♣♣

Pepatah mengatakan, ‘sepandai-pandai tupai melompat, pasti pernah jatuh juga’. Demikian juga dengan Iyas, dimana beliau bercerita tentang dirinya;

Aku belum pernah kalah kecuali dengan satu orang. Ketika itu di sidang pengadilan Bashrah, seseorang menjadi saksi bahwa suatu kebun, -yang dipermasalahkan-, adalah benar-benar milik si Fulan dan dia menguatkannya kepadaku“.

Aku bertanya untuk menguji kebenaran pengakuannya;

Berapa jumlah pohon di dalamnya ?”

Orang tersenut menunduk sejenak, lalu balik bertanya;

Berapa lama tuan menjabat sebagai qadhi di majelis ini ?”

Akupun menjawab;

“Sejak beberapa tahun yang lalu”.

Lalu dia bertanya;

Berapa jumlah genting di pengadilan ini ?”

Aku tak mampu menjawab, lalu kukatakan;

Kebenaran ada di pihakmu“, dan kemudian kuterima kesaksiannya itu.

Di saat memasuki usia 76 tahun, beliau bermimpi bertemu ayahnya yang telah wafat. Keduanya berlomba naik kuda, ternyata tidak ada yang menang. Ayah beliau wafat tatkala berusia 76 tahun.

Suatu malam beliau bertanya kepada keluarganya; “Kalian tahu ini malam apa ?”. “Tidak..”, jawab mereka. Beliau melanjutkan; “Malam ini adalah bertepatan dengan malam kematian ayahku“.

Keesokan harinya, didapati bahwa beliau telah wafat. Semoga Allah merahmati Iyas bin Mu’awiyah, hakim yang dikenal sangat cerdas dan jenius pada masanya.

♣♣♣

Sebenarnya ada dua kisah lagi tentang kecerdasan beliau yang diceritakan dalam buku ‘Jejak Para Tabi’ien‘, tapi karena dah malam dan ana dah mengantuk, saya cukupkan sampai disini kisah kecemerlangan Iyas bin Mu’awiyah al-Muzanni radhiyallahu ‘anhu. Di postingan selanjutnya, akan diceritakan kisah kecemerlangan tabi’in terkemuka, Sa’id bin Jubair radhiyallahu ‘anhu, yang mengharukan. Dimana dialog beliau dengan gubernur Kufah Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi menjelang di eksekusinya beliau oleh Hajjaj sangat membuat kita kagum, sedih, yang bercampur-aduk.

Semoga bermanfaat…

———————————————————————————————————————————————

Shuwaru Min Hayati At-Tabi’in atau “Jejak Para Tabi’in”, -edisi Indonesianya-, hal. 65 – 75, Dr. Abdurrahman Ra’fat Basya.

 
4 Comments

Posted by on February 2, 2009 in Biography of Ulama'

 

Tags: , , , , , ,

4 responses to “Kisah Kecemerlangan Para Tabi’in

  1. abu zahrah

    February 4, 2009 at 8:19 am

    pantaslah kata RasuluLlah termasuk generasi terbaik adalah generasinya para tabiin..

     
  2. alkanyari

    February 4, 2009 at 4:26 pm

    Muwafiq…😉

     
  3. Ade firdaus al atsari

    April 6, 2010 at 9:06 pm

    Barokallohufikum

     
  4. admin

    April 13, 2010 at 3:35 am

    wa fiikum baarokallahu….

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: