RSS

Berkelana ke Berbagai Negeri

28 Jan

Alhamdulillah ‘ala kulli haal…

Banyak juga ya teman-teman setanah air yang merantau ke berbagai negeri, – lihat list bendera visitors di bawah-, dan ana ucapkan jazakumullah khoiron atas kunjungannya ke blog ini disela-sela kesibukan kalian. Ana telah mencoba melakukan testing apakah list bendera visitors tersebut benar atau tipuan belaka. Kebetulan ada seorang kawan yang sedang ngambil S3 di Jerman, ana minta dia untuk sudi bertandang ke blog ini. Kemudian dia ngirim off-line message di YM, bahwa dia sudah nyamperin blog ini. So nonggol tu bendera Jerman.

Sebagai penghibur sesama perantau, -bukan maksud membatasi ya…-, kali ini ana postingkan tulisan mengenai keutamaan dan manfaat Rihlah atau Berkelana ke Berbagai Negeri.

Kejeniusan Ibnu Khaldun dalam masalah sosial yang sedemian rupa, mungkin karena berkat pengembaraannya ke berbagai negeri untuk belajar dan melakukan kontak dengan banyak kepala pemerintahan dan para ulama besarnya. Ibnu Khaldun dibesarkan di Tunisia, kemudian melakukan pengembaraan ilmiah ke berbagai negeri seperti Al-Jaza’ir, Maghrib (Maroko), Andalusia (Spanyol), kemudian ke Mesir. Bahkan, terkadang ia harus memegang satu sisi perpolitikan di negeri yang dikunjunginya tersebut. [1]

Apabila kita mempelajari sejarah para ulama dan sastrawan yang mengembara dari tanah air mereka, maka hasil yang diperoleh dari pengembaraan itu yaitu berbagai manfaat yang kembali kepada mereka sendiri, kepada umat, ataupun tanah air mereka.

Salah satu hal yang diperoleh seseorang dalam pengembaraannya ialah mengetahui sesuatu yang sebelumnya belum diketahui. Betapa banyak orang alim yang tidak mencapai tempat yang terkenal melainkan dengan pengembaraan.

Demikian pula pengembaraan dapat membantu mengokohkan sebagian akhlak yang luhur, seperti kesabaran; karena begitu banyaknya kesulitan dan penderitaan batin yang dialami oleh pengembara tersebut, adab pergaulan; sebab orang yang jauh dari tanah airnya lebih merasa butuh kepada adab tersebut dibandingkan dengan orang yang hidup di tengah-tengah kaum yang mengetahui asal-usul dan kedudukan rumahnya, yang menyebabkan suaranya lembut dalam pendengaran mereka.

Orang yang mengembara juga sering berjumpa dalam pengembaraannya dengan tokoh-tokoh panutan dalam akhlak mulia, maka ia akan semakin bersemangat untuk meneladani mereka secara sempurna.

Kemudian, adakalanya seseorang tumbuh dalam kecerdasannya, tetapi negerinya terasa sempit dalam pandangannya yang luas dan jauh, lalu ia pergi ke kota yang lebih luas lingkupnya untuk mengembangkan diri, berbagi ilmu pengetahuan (take and give), sehingga kedudukannya menjadi lebih besar dan lebih bermanfaat. Sekiranya bukan karena pengembaraan tersebut, niscaya dia tidak akan menjadi besar, dan buah kecerdasannya tidak begitu banyak termanfaatkan.

Hal ini sebagaimana yang dialami oleh qadhi Yusuf bin Ahmad bin Kajj Ad-Dainuri, yang mana beliau telah mencapai derajat yang tinggi dalam ilmu pengetahuan. Sebagian orang yang bertemu dengannya berkata kepadanya, “Wahai ustadz…, nama besar untuk Abu Hamid Al-Ghazali, sedangkan ilmu untukmu”. Beliaupun lalu menjawab, “Ia (Imam Ghazali) telah diangkat popularitasnya oleh Baghdad, sedangkan saya direndahkan oleh Dainur”.

Barangkali seseorang mengetahui kesempitan hidup di tanah airnya, yang dia khawatirkan dapat menghalangi dirinya untuk menambah ilmu, atau tidak dapat menyebarkannya melalui pengajaran ataupun diskusi. Lalu ia berangkat supaya mendapatkan rizqi yang dapat membantunya untuk belajar dan melakukan penelitian dengan tenang.

Adapun negeri yang ditinggalkan akan memperoleh manfaat dalam hal, bahwa orang alim tersebut pergi dari tanah airnya dengan membawa ilmu yang melimpah ataupun berakhlak dengan adab yang tinggi. Kemudian dalam pengembaraannya ia bertemu dengan komunitas yang bermacam-macam. Mereka melihatnya sebagai teladan bagi kalangan berilmu dan berperadaban dari kaumnya, maka terangkatlah martabat kaumnya dalam pandangan mereka.

Kemudian negeri yang ditinggalkan mungkin akan menghargai ilmu, setelah ilmu tersebut terputus darinya, atau pohonnya akan menjadi kokoh di negeri tersebut setelah lama tidak tumbuh.

Keutamaan akan didapat oleh orang-orang yang berangkat ke pusat-pusat sumber ilmu, kemudian mereka kembali dengan membawa ilmu dan peradaban yang sangat banyak. [2]. InsyaAllah.

Al-Himmah Al-‘Aliyah Mu’awwiqatuha wa Muqawwamatuha; Muhammad bin Ibrahim Al-Jamd.

———————————————————————————————————————————–

[1].   Rasa’ilul Ishlah, 1/181.

[2].   Ibid, 2/75-85.

 
2 Comments

Posted by on January 28, 2009 in Motivation

 

Tags: , , , , , ,

2 responses to “Berkelana ke Berbagai Negeri

  1. eko

    January 30, 2009 at 8:51 am

    enaknya jika bisa berkelana..
    menuntut ilmu ya akh? tidak sekedar rekreasi..

     
  2. meilana

    January 30, 2009 at 9:30 am

    Betul sekali…, ana kebetulan juga masih dalam kategori menuntut ilmu (insyaAllah), sbg researcher kerjanya kan belajar dan meneliti akh… he..he.. Ya kadang jg jalan2, hidup kan perlu refreshing agar tdk monoton dan refresh kmbali, shg bs semangat lagi. Gitu lho…, Nuwun.

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: