RSS

Canda Para Shahabat

23 Jan

Pada malam ana menulis kisah ini, bunyi mercon atau kembang api di pinggiran Kuala Lumpur, -tempat ana tinggal sekarang ini-, sudah mulai terdengar. Ana jadi teringat sebentar beberapa hari lagi ada perayaan tahun baru China, yang akan sangat meriah pas hari H nya, sampai ngak bisa tidur kebrebekan bunyinya. Sudah menjadi tradisi kalau menjelang tahun baru ini, buah jeruk yang dibungkus dengan plastik merah kecil khas dalam box merah, banyak terlihat dijual di pinggir jalan dan di mall-mall. Tadi di kantor, habis jum’atan, kita juga habis makan banyak jeruk seperti itu yang adanya hanya di tahun baru China (maaf ni tidak bagi-bagi, cerita doang). Tulisan  ‘Gong Xi Fa Cai‘ dah nonggol dimana-mana. Saya rasa tidak cuma disini saja perayaannya semeriah itu, mungkin hampir di seluruh dunia, karena kita sudah sama tahu, China adalah etnis terbesar di dunia dan mereka sangat ‘mobile‘, ada dimana-mana.

Berikut ini akan diceritakan kisah-kisah canda ( ‘guyonan‘, bahasa Jawanya), dari para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yangmana mereka adalah suri tauladan yang patut diikuti setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagian mereka ada yang dipuji Allah Ta’ala dalam Al-Qur’an (At-Tawbah: 100) dan dijanjikan masuk syurga karena ikut perang Badar. Tetapi mereka juga manusia biasa yang terkadang butuh hiburan dan bercanda, canda yang tidak kelewatan tentunya.

Hasan bin Ali menceritakan, ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu keluar dari gua Tsur dan terlepas dari pengejaran kaum musyrikin Quraish, mereka berdua meneruskan perjalanan menuju Madinah. Nyaris setiap orang yang mengenal Abu Bakar bertanya, “Siapa yang bersamamu?”. Abu Bakar menjawab, “Ia hanya seorang penunujuk jalan”. Memang benar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memang penunujuk jalan. Jalan hidayah, jalan kebenaran, dan jalan menuju syurga. Sebuah jawaban yang cerdik untuk menyembunyikan identitas beliau. [1]

♣♣♣

Suatu ketika, seorang lelaki datang menjumpai Ali bin Abi Thalib, lalu memujinya setinggi langit. Ali tahu orang tersebut tidak menyukainya, namun hanya ingin menjilat dan mencari muka saja. Beliau kemudian berkata, “Sesungguhnya aku tidak sehebat apa yang engkau katakan. Tapi pasti, aku lebih baik dari penilaian yang ada dalam hatimu”. [2]

♣♣♣

Paman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, Abbas bin Abdul Munthalib radhiyallahu ‘anhu pernah ditanya, “Mana yang lebih tua, engkau atau Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?”. Beliau pun menjawab, “Beliau lebih tua dariku, tapi aku lahir sebelum beliau”. [3]

♣♣♣

Usaid bin Hudhair radhiyallahu ‘anhu menceritakan, “Ketika Shuhaib (yang dikenal suka bercerita) sedang berbincang dengan sekelompok orang, ia menuturkan cerita yang jenaka. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan geram menohok pinggangnya (dengan tongkat). Kontan saja ia berujar, “Ya Rasulullah, nanti kubalas!”. Beliau menanggapi, “Balaslah !”. Kemudian sahabat tersebut menukas, “Waduh, Anda memakai gamis, sementara waktu engkau menohokku, aku tidak memakai gamis”. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu menyingkap gamisnya. Namun, sekonyong-konyong Shuhaib memeluk tubuh beliau dan mencium kulit perutnya, sambil berujar, “Sejak tadi, yang kumau memang cuma ini wahai Rasulullah!”. [4]

♣♣♣

Seorang lelaki datang ingin menjumpai Muawiyyah radhiyallahu ‘anhu. Kebetulan, pertama kali dia bertemu dengan penjaga pintu gerbang kediaman beliau. “Tolong beritahukan kepada Muawiyyah, saudaranya datang”, ujarnya. Ketika mendapatkan pesan itu, Muawiyyah terheran-heran. “Rasanya aku tidak kenal. Tapi biarkan dia masuk”, titah Muawiyyah.

Orang itupun masuk. Ketika tiba di hadapannya, ia pun bertanya, “Anda saudaraku dari pihak mana?”, tanya beliau.

“Dari Adam dan Hawa”, jawab orang itu santai.

“Tolong berikan 1 dirham pada orang ini”, perintah Muawiyyah.

“Hai, kenapa engkau cuma memberi 1 dirham kepada saudara seayah dan seibumu?”, protes orang itu dengan kesal.

Muawiyyah pun lalu menjawab dengan santai, “Kalau setiap saudaraku dari Adam dan Hawa harus kuberi uang, pasti 1 dirham pun tak akan sampai ke tanganmu!”. [5]

♣♣♣

Kawan-kawan…, canda yang berikut ini memang agak terlalu konyol, mohon jangan ikut-ikutan lho, walaupun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri juga ikut tertawa.

Dikisahkan, pada suatu hari Abu Bakar Ash-Shidiq radhiyallahu ‘anhu melakukan perjalanan ke Bashrah untuk berniaga (sekitar satu tahun sebelum Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat). Beliau pergi bersama Nu’aiman dan Suwaibith bin Harmanah. Keduanya pernah ikut perang Badar, bedanya Suwaibith dikenal sebagai sahabat Nabi yang suka bercanda.

“Tolong beri aku makanan”, pinta Suwaibith pada Nu’aiman.

“Nanti, tunggu Abu Bakar dulu”, balas Nu’aiman.

Kemudian, ditengah perjalanan Suwaibith bertemu dengan serombongan kafilah. “Kalian mau membeli budakku?”, tanya Suwaibith pada rombongan itu.

“Mau”, jawab mereka serentak.

“Tapi dia budak yang banyak omong. Nanti, kalau kalian mengambilnya, pasti dia akan berkata, ‘Saya ini orang merdeka, bukan budak’. Jadi jangan kaget nanti. Bagaimana.., berminat tidak?”, Suwaibith menjelaskan.

“Tak masalah. Kami akan membelinya”, ujar mereka.

Mereka pun membelinya dengan 10 ekor unta yang tersisa pada mereka. Mereka lalu mendatangi Nu’aiman, dan langsung mengalungkan tali di lehernya.

Kontan saja Nu’aiman berteriak, “Hei.., aku ini bukan budak, aku orang merdeka!”.

“Ah, kami sudah dengar cerita tentangmu darinya”, ujar mereka tenang.

Akhirnya mereka pergi membawa Nu’aiman. Ketika Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu datang, para sahabat Nabi yang kebetulan ada disitu menceritakan kejadian itu kepada beliau. Abu Bakar langsung menyusul rombongan kafilah tersebut dan mengembalikan seluruh unta mereka dan mengambil kembali Nu’aiman dari tangan mereka. Berikutnya, saat mereka kembali dari perjalanan dan menceritakan kejadian itu pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat beliau yang lain, serta-merta beliau tertawa diiringi tawa para sahabat beliau. [6]

TERSENYUMLAH !; Bersyukur di Balik Musibah, oleh Abu Umar Basyir

NB. : Masih banyak kisah-kisah canda lainnya dari para tabi’in, khalifah dan yang lainnya. Ana pikir untuk yang diposting di halaman depan cukup ini saja, ana jadi kawatir kalau antum semua jadi ikutan suka bercanda, ingat ya…, boleh bercanda tapi jangan kelewatan dan tahu adab-adabnya. Kisah-kisah canda yang lain insyaAllah menyusul dan akan di tampilkan di ‘Pages‘, sebelah kanan saja. Smoga bisa terhibur….

—————————————————————————————————————————————

[1].   Al-Adzkia, hlm. 15

[2].   Al-Adzkia, hlm. 16

[3].   Al-Adzkia, hlm. 18

[4].   HR. Abu Dawud, kitab Al-Adab (160), bab MenciumTubuh (Nabi), No. 5223, dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Abi Dawud, III/980, No. 4352.

[5].   Al-Adzkia, hlm. 20-21

[6].   Al-Adzkia, hlm. 20

 
5 Comments

Posted by on January 23, 2009 in Smile My Brother

 

5 responses to “Canda Para Shahabat

  1. alkanyari

    January 23, 2009 at 4:06 pm

    Kawanku yang suka kasih komen itu dimana ya skrg…?. Apa ikut balik kampung ya… di liburan tahun baru ini.

     
  2. Abu Ali

    January 23, 2009 at 5:35 pm

    🙂

     
  3. meilana

    January 24, 2009 at 2:49 pm

    Akh alkanyari… kalo tanya yg sopan dong… dan jangan yang nyinggung-nyiggung …. Minta maaf akh!. Atau ana mintakan maaf gimana?
    Maaf ya kawan-kawan… kalau ada komen yg menohok perut ataupun yg menyakiti hati kalian.

     
  4. eko

    January 30, 2009 at 8:53 am

    maksudnya siapa nih?

     
  5. meilana

    January 30, 2009 at 10:54 am

    Wah ra ngerti atau pura-pura ora ngerti ki… Yo dikiro2 tho mas, ada kata-kata “yang suka kasih komen”.. he..he.. Nuwun.

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: