RSS

Canda dan Senyum Para Nabi

22 Jan

Ternyata.., para nabi yang notabene merupakan tauladan manusia, mereka bukanlah orang yang selalu serius, tegang, dan tak pernah senyum, apalagi bercanda. Mereka sesekali bercanda dengan sahabat-sahabatnya, walaupun tidak sampai kelewatan dan tetap menjaga adab-adabnya. Penasaran ya.., baca deh postingan ini.

Canda Nabi Sulaiman ‘Alaihissalam

Muhammad bin Ka’ab Al-Qurazhi mengisahkan tentang seorang lelaki yang datang mengadu kepada Nabi Sulaiman ‘alaihissalam serasa berkata; “Wahai Nabi Allah!. Aku memiliki beberapa orang tetangga yang kerjanya mencuri angsa-angsaku”.

Serta merta, beliau ‘alaihissalam mengajak rakyatnya untuk shalat berjama’ah. Usai shalat, beliau berkhutbah, “Aduh…, sungguh tak tahu malu. Di antara kalian ada yang dengan tega mencuri angsa milik tetangganya. Eh…, dia datang ke masjid, tak tahunya di kepalanya masih melekat bulu angsa!”.

Kontan saja, seorang lelaki yang memang mencuri angsa tersebut, mengusap-usap kepalanya. Dan ternyata tak ada bulu angsa di kepalanya.

Nabi Sulaiman ‘alaihissalam segera berkata, “Itu dia pencurinya, tangkap…!!!”. [1].

He..he…he….. lucu ya. Yang terlambat ketawanya DDR!!!

Canda Nabi Isa ‘Alaihissalam

Lain lagi dengan kisah Nabi Isa ‘alaihissalam yang mana Iblis laknatullah pernah datang menemui beliau. Dengan pongah si Iblis berkata, “Eh, Isa…!. Bukankah engkau yakin bahwa segala yang tidak ditakdirkan oleh Allah Ta’ala tak akan menimpamu?”. “Ya”, jawab Nabi Isa ‘alaihissalam.
“Kalau begitu, cobalah engkau terjun dari atas gunung ini. Kalau nanti Allah menakdirkan selamat, pasti engkau akan selamat”, ujar si Iblis menantang.
Dengan tenang kemdian Nabi Isa ‘alaihissalam menjawab, “Hai makhluk laknat!. Sesungguhnya Allah Ta’ala itu berhak menguji para hamba-Nya. Tapi seorang hamba, tak berhak menguji Allah!”. [2]


Canda Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pun sebagai manusia teladan yang terbaik menghiasi kehidupannya dengan senyum dan canda.
Suatu ketika, seorang wanita yang sudah tua bertanya pada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Ya Rasulullah..!, doakanlah agar aku bisa masuk surga”. Beliau kemudian menjawab, “Surga tidak akan pernah dimasuki oleh wanita-wanita tua”.
Ketika itu, adzan berkumandang dan beliau pun masuk rumah untuk bersiap-siap, lalu keluar lagi. Ternyata, beliau mendapati wanita tua tadi menangis. “Kenapa dia?”, tanya beliau pada para sahabatnya. “Anda telah mengatakan begini dan begitu kepadanya”, ujar mereka.
Kemudian beliau menjelaskan, “Maksudnya, semua wanita itu, di surga kelak akan diubah menjadi muda kembali”. Mendengar penjelasan itu, wanita tua itu pun tersenyum gembira. [3]

Juga dikisahkan, ada seorang wanita datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kemudian beliau bertanya, “Anda istri siapa..?”. Wanita itu lalu menyebutkan nama suaminya. Beliau pun bertanya, “Yang ada putih-putih di matanya?”.
Wanita itu kemudian segera pulang. Sesampainya di rumah dan ketika pertama kali berjumpa dengan suaminya, matanya menyelidik dan memperhatikan wajah suaminya. Kontan saja si suami bertanya, “Ada apa denganmu?”. “Tadi Rasulullah bertanya, apakah suamimu si fulan yang di matanya ada putih-putihnya?”. Suaminya menjawab, “Ya. Bukankah memang warna putih di mataku itu lebih banyak daripada warna hitamnya?”. [4]

Shuhaib, salah seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menceritakan; Aku pernah menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Ketika itu dihadapan beliau ada roti dan kurma. “Sini…, mendekat dan makanlah”, beliau menawarkan. Aku pun mulai memakan kurma tersebut. Tiba-tiba Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya, “Mengapa engkau makan kurma, bukankah engkau sakit mata?”. Aku pun menjawab, “Iya. Tetapi aku memakannya lewat mata yang sebelahnya”. Mendengar itu, beliau pun tersenyum. [5]

TERSENYUMLAH !; Bersyukur di Balik Musibah, oleh Abu Umar Basyir

—————————————————————————————————-
[1].
Al-Adzkia, hlm. 10
[2]. Al-Adzkia, hlm. 11
[3]. Idem
[4]. Al-Adzkia, hlm. 13
[5]. HR. Ibnu Majah, kitab Ath-Thibb (3), bab Kepanikan Golongan Hadits, No.
3443; dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan Ibni Majah II/253, No. 2776.

 
Leave a comment

Posted by on January 22, 2009 in Smile My Brother

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: