RSS

Tersenyumlah Saudaraku…!

21 Jan

Pembaca yang budiman…  Betapapun kepedihan melanda hati, selalu saja ada ruang bagi celah-celah kebahagiaan. Betapapun getir derita yang dialami, bibir tak akan pernah menolak untuk tersenyum. Selarik senyuman, betapapun mahalnya, bukanlah sesuatu yang mustahil.

Bukan sekedar senyuman basa-basi…

Bukan sekedar senyuman mencari muka…

Bukan sekedar senyuman seniman yang sedang berakting…

Sama sekali bukan senyuman itu yang kita inginkan. Kita mengiginkan senyuman yang membias di bibir penuh keikhlasan karena kebahagiaan hati.

Biarlah selaksa musibah menghantam dada ini…

Biarlah sehimpun derita melanda jiwa ini…

Dan Biarlah takdir berjalan mengikuti jalurnya…

Sebab kita memiliki modal tawakal.

Kepasrahan dan tawakal adalah motivasi yang mengubah derita menjadi awal kebahagiaan. Kebahagiaan karena mampu bersikap tabah, bahkan mensyukuri setiap keping keindahan.

Senyum dan tawa tidaklah menurunkan wibawa, kecuali jika dilakukan secara berlebihan. Tertawa itu sehat, dan senyum itu nikmat. Islam tidak melarang kita tertawa, kecuali jika tertawa secara berlebihan. Karena, tertawa adalah tabi’at fitri manusia. Sehingga, jikalau seseorang kehilangan atau terganggu kemampuan senyum dan tawanya, berarti ada kerusakan pada tabi’at dasarnya.

Allah Ta’ala telah berfirman:

Dan bahwasanya Dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis“. (an-Najm: 43)

Bahkan disebutkan dalam banyak riwayat bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga suka tertawa dan mengajak para sahabat untuk tertawa dan bergembira bersama beliau.

Sahabat Anas bin Malik rahimahullah menceritakan tentang seorang lelaki yang datang menjumpai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata, “Wahai Rasulullah, bawalah aku berjalan-jalan”. Beliaupun menjawab, “Kami akan membawamu berjalan-jalan menaiki anak unta“. Lelaki itu menukas, “Apa yang bisa kuperbuat dengan anak unta?”. Kemudian Beliau berkata, “Bukankah setiap unta adalah anak dari ibunya?”. [1]

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menceritakan, bahwa para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah engkau merasa suka mengajak kami bercanda?’. Beliau menjawab, “Ya, hanya saja, aku selalu mengatakan sesuatu apa adanya (tanpa ada unsur dusta)”. [2]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga gemar tersenyum dan mudah tertawa. Tidak ada larangan untuk tertawa dalam Islam, namun segala sesuatu yang berlebihan pasti tidak baik, termasuk juga tertawa. Karena terlalu banyak tertawa dapat membuat hati menjadi mati, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam;

Janganlah banyak tertawa, karena banyak tertawa dapat mematikan hati“. [3]

Demikian juga Allah Ta’ala menganugerahkan para penghuni surga dengan nikmat tertawa. Bahkan menertawakan ahli neraka, sebagaimana kaum kafir tersebut menertawakan mereka (ahli surga) semasa di dunia.

Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir. Mereka duduk diatas dipan-dipan sambil memandang“. (al-Muthaffifin: 34-35)

Karenanya, ada baiknya sejenak kita mendengarkan tawa dan canda orang-orang shalih.  Sebagai manusia yang normal, orang-orang shalih, entah itu seorang Nabi, sahabat Nabi, atau tokoh-tokoh teladan dan pilihan lainnya,  ternyata bisa tersenyum dan tertawa, bisa bergurau dan bercanda. Senyum dan tawa memang fitrah dan milik manusia.

Beberapa kisah dalam tulisan selanjutnya, insyaAllah, semoga bisa menghibur hati kita. Bukan berarti kita menampik kenyataan derita. Namun, tak ada salahnya memetik bahagia dengan sedikit menyimak kemeriahan hidup orang-orang shalih, dengan harapan semoga kebahagiaan kita semakin rimbun dan langgeng. Ameen…..

TERSENYUMLAH!; Bersyukur di Balik Musibah, oleh Abu Umar Basyir

———————————————————————————————————————————

[1].   HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya dalam kitab Al-Adab, hlm. 92; bab Riwayat Tentang bersenda Gurau, hadits No. 3998 (V/270); dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud III/943, No. 4180; At-Tirmidzi, kitab Al-Birr (57), bab Riwayat Tentang Bersenda Gurau, hadits No. 1992 (VI/207).

[2].   HR. At-Tirmidzi, kitab Al-Birr wa Ash-Shillah (57), bab Riwayat Tentang Bersenda Gurau, No. 1991. Beliau berkomentar, “Hadits ini hasan shahih”.

[3].   HR. At-Tirmidzi (IV/551), Ibnu Majah (II/1410); diriwayatkan juga oleh Ahmad, Al-Baihaqi, Al-Haitsami dan Ibnu Abi Syaibah.

 
Leave a comment

Posted by on January 21, 2009 in Smile My Brother

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: