RSS

Fakirnya Ulama adalah Fakir Pilihan

07 Jan

Jika mayoritas ulama fakir, bukan berarti mereka dalam keadaan terpaksa dan merasa tersiksa dengan kefakirannya. Akan tetapi, apa yang dialami oleh ulama-ulama besar kita merupakan pilihan mereka untuk mengabdi kepada umat. Berbeda dengan keadaan sebagian kita yang mengalami kefakiran, namun kefakiran kita bukan kehendak dan keinginan kita. Sehingga banyak diantara kita yang menghadapi kefakiran dengan jiwa yang remuk redam, penuh dengan kesedihan dan kegelisahan bertumpuk.

Al-faqir al-Ikhtiyari (kefakiran yang dikehendaki dan atas pilihannya sendiri) yang dimiliki oleh para ulama inilah yang dipuji oleh Imam Syafi’i. Berbeda dengan kefakiran yang dialami oleh orang-orang awam, kefakiran mereka adalah kefakiran yang terpaksa (faqrun idhthirariyyun).

Bahkan diantara ulama ada yang tetap bertahan dalam kefakiran mereka, sampaipun seringkali mereka tidak memiliki apapun walau hanya sekedar sayur untuk pelengkap makan roti yang telah keras. Sehingga ada ungkapan yang terkenal dalam sejarah di antara mereka:

Innama nahfadzul hadits lianna ajwafana qad aqrahahul bunnu“; Sesungguhnya kita mampu menghafal hadits dikarenakan mulut-mulut kita terluka karena memakan roti yang keras (Shafahat min Shabril ‘Ulama: 152).

Ini juga yang pernah dialami oleh sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu semasa mengumpulkan hadits Nabi shallahu ‘alaihi wasallam dengan tidur di masjid Nabi agar selalu bisa hadir di majelis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Justru kefakiran itulah yang menjadikan Abu Hurairah bisa tetap bertahan dan komitmen dalam menghadiri majelis beliau, sehingga menempatkan beliau menjadi salah satu sahabat pengumpul hadist Nabi terbanyak. Alangkah besarnya pahala beliau yang tak ada hentinya mengalir, apabila kaum muslimin diseluruh dunia selalu membaca dan mengajarkan hadits yang beliau kumpulkan dengan jerih payah.

Pernah suatu saat Abu Hurairah hadir di majelis Rasulullah, kemudian setelah berlangsung beberapa saat, tiba-tiba Abu Hurairah jatuh tersungkur dan jamaah yang ada di sekitarnya bergegas menolongnya. Setelah sadar, kemudian Rasulullah bertanya, “Wahai Abu Hurairah, mengapa engkau sampai jatuh tersungkur?“. Beliau menjawab, “Wahai Rasulullah, saya sudah tiga hari tidak mendapatkan sesuatu apapun yang bisa dimakan. Saya menahan lapar dengan menyelipkan kerikil di perutku“.

Hal serupa juga pernah dialami oleh Sufyan ats-Tsauri al-Kufi, seorang ahli hadits yang sangat terkenal sejaman dengan Abu Hanifah. Sufyan Ibnu ‘Uyainah menceritakan bahwa Sufyan ats-Tsauri pernah mengalami rasa lapar yang menyengat selama tiga hari. Suatu saat beliau melewati suatu rumah yang sedang dilangsungkan pesta pernikahan. Nafsunya mengajaknya untuk masuk kedalamnya, namun atas ijin Allah beliau mengurungkan niatnya. Beliau akhirnya tetap berjalan menuju rumah putrinya. Sssampainya di rumah tersebut, putrinya datang menyuguhkan sepotong roti dan air. Beliau langsung memakan roti dan meminum airnya hingga terdengar bunyi yang khas dari mulutnya. Sehingga putrinya putrinya bertanya mengapa sampai mulutnya berbunyi, kemudian beliau menjawab, “Saya sudah tiga hari tidak makan makanan apaun” (Hilyatul Auliya’: 6/373, Abu Na’im al-Ashfahani).

Imam Malik yang sering dikenal dengan Imam Darul Hijrah (Madinah) juga pernah mengalami hal yang demikian. Karena kefakirannya hingga beliau rela menjual kayu yang menopang atap rumahnya untuk menyambung hidup. Padahal semua orang tahu bahwa beliau adalah sumbernya ilmu tentang sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau pernah berpesan kepada kita,

Tidak akan ada yang mampu meraih satu hal ini, – yaitu ilmu -, kecuali mereka yang pernah merasakan kefakiran“.

Demikianlah sikap Abu Hurairah yang mulia dan ulama besar lainnya, yangmana dalam rona wajah mereka tidak pernah menyisakan rasa penyesalan atau hina sedikitpun.

Disarikan dari “Shafahat min Shabril ‘Ulama ‘ala Syadaidil ‘Ilmu wat Tahshil“, Abdul Fattah Abu Ghuddah. Edisi Indonesia berjudul, “Bersabarlah Anda Akan Jadi Orang Besar”, oleh Abu Malikah al-Husnayaini.

 
2 Comments

Posted by on January 7, 2009 in Motivation, Opinions, Suggestions (Nasehat)

 

2 responses to “Fakirnya Ulama adalah Fakir Pilihan

  1. eko

    January 16, 2009 at 3:44 am

    artikelnya bagus2

     
  2. alkanyari

    January 16, 2009 at 1:31 pm

    Alhamdulillah…, berusaha menulis apa yang membuat hati saya terkesan setelah mbaca buku.

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: