RSS

Bahagianya Penuntut Ilmu Yang Fakir

05 Jan

Mungkin bagi sebagian kita hal ini merupakan sesuatu yang berlebihan, sedikit menyangkal atau tidak percaya sama sekali. Tetapi prinsip ini adalah pesan Imam Syafi’i kepada murid-murid beliau, sebagaimana beliau telah berpesan:

Janganlah seseorang mencari ilmu dengan kekuasaan dan jiwa yang penuh gengsi, kemudian ia berharap akan berhasil dan meraih kebahagiaan. Akan tetapi, siapa saja yang mencari ilmu dengan rendah hati, kehidupan serba kekurangan dan berkhidmat kepada para ulama, maka ia akan berhasil dan bahagia“.

Beliau juga pernah berkata:

Ilmu tidak akan bisa dicapai kecuali dengan kesabaran dan rendah diri atau kefakiran“, (Al-Majmu’ : 1/64, al-Imam an-Nawawi).

Sebab memang seringkali harta dan kehidupan yang cukup membuat orang enggan untuk mencari sesuatu yang lebih mulia dari itu, yaitu ilmu. Dan rata-rata sikap hidup orang-orang kaya memanglah demikian. Mereka merasa cukup jika hidup dengan harta, dan kalaulah mereka terpaksa mencari ilmu, seringkali mencari jalan pintas dengan menggunakan hartanya. Seperti halnya yang terjadi di zaman sekarang, ijazah bisa dijual-belikan dengan tanpa bersusah-payah belajar dan mencari ilmu. Maka tidak heranlah jika Imam Syafi’i berpesan demikian demi menjaga kesucian ilmu.

Menurut Ibnu Hazm, jika seseorang dalam keadaan fakir maka hanya akan disibukkan dalam mencari ilmu dan akan tertutup baginya kesempatan untuk bersenang-senang atau berhura-hura (Ibnu Hazm: 64, Syekh Muhammad Abu Zahrah).

Pada saat itu, jiwanya akan bercahaya dan hidayah Allah akan merasuk ke dalamnya. Maka orang yang fakir akan lebih mudah mencerna ilmu daripada orang yang kaya harta.

Fenomena sekarang, betapa banyak anak-anak yang terlahir dari orang tua yang kaya raya, namun intelektualitas mereka sangatlah rendah. Bisa jadi karena banyaknya makanan haram yang dikonsumsi sehingga membebalkan otak mereka, atau telah terbiasa manja, serba dilayani oleh pelayan, yang menjadikan lemahnya daya juang mereka.

Fakir itu ada dua macamnya:

1.   Kefakiran yang membuat sebagian manusia terbebani dalam hidupnya dan menyita banyak energi, bahkan bisa jadi menumpulkan kecerdasan fikiran. Keadaan dan fikirannya yang kacau, dipenuhi perasaan gelisah karena memikirkan masalah kebutuhan hidup.

2.  Fakir putih (al-faqiru abyadh), orang fakir yang tidak merasa terbebani, perasaannya tetap terasa ringan dan tenang, sebab Allah telah menjamin semuanya. Tidaklah ada tanda kefakiran kecuali pada penampilan luarnya saja, adapun jiwanya kaya sekali.

Namun bagaimanapun juga, keadaan fakir tidak mungkin bisa dilalui dan diterima dengan kepasrahan kecuali oleh mereka yang berjiwa besar. Dan kefakiran itu hakikatnya jauh lebih mulia daripada kekayaan, sebab bersabar atasnya sangatlah pedih dan goncangannya sangatlah besar jika dibandingkan kesyukuran. Maka imam Ahmad lebih menyukai untuk menyedikitkan diri menikmati dunia dengan harapan ringan tanggung jawabnya di akhirat nanti.

Apa yang dilakukan oleh Imam Ahmad sangat jauh berbeda dengan apa yang dilakukan oleh kebanyakan manusia. Imam Ahmad justru sangat senang dengan kefakiran dan mencintai orang-orang fakir. Beliau merasa sangat bahagia jika tidak punya apa-apa, hingga ulama-ulama lain mengatakan; “Tidak ada orang-orang fakir yang jauh lebih mulia dari orang-orang fakir yang hadir di majelisnya Imam Ahmad”.

Disarikan dari “Shafahat min Shabril ‘Ulama ‘ala Syadaidil ‘Ilmu wat Tahshil“, Abdul Fattah Abu Ghuddah. Edisi Indonesia berjudul, “Bersabarlah Anda Akan Jadi Orang Besar”, oleh Abu Malikah al-Husnayaini.

Dalam permasalahan ini, “Mana yang lebih utama antara orang miskin (fakir) dengan orang kaya?”, ana pribadi lebih memilih pendapat Ibnul Qayyim dan gurunya Ibnu Taimiyah yang berpendapat, “yang lebih baik (afdhol) adalah orang yang lebih bertakwa diantara keduanya”. Karena kekayaan yang berada di tangan orang sholeh, bisa jadi akan termanfaatkan sebagai sarana menggapai keutamaan-keutamaan dan kebahagiaan akhirat, sebagaimana sebagian sahabat; Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, dan yang lainnya.

Dan juga ulama salaf terkemuka Abu Hanifah, yang merupakan seorang ulama yang berilmu (alim) yang mengamalkan dan mengajarkan ilmunya, ulama yang kaya raya yang sangat dermawan, sehingga dia menanggung biaya salah seorang muridnya yang sangat fakir, Abu Yusuf, yang dikemudian hari menjadi muridnya yang termasyhur dan menjadi qadhi di masa pemerintahan Harun ar-Rasyid. Alangkah mulia Abu Hanifah, yang terkumpul padanya ilmu, amal, harta dan kedermawanan. Yang mana Rasulullah sendiri dalam sebuah hadisnya membolehkan kita untuk iri (ghibthoh) dalam dua hal: orang yang berilmu yang mengamalkan ilmunya dan orang yang berharta yang dermawan. Wallahu a’lam bishowab.

 
Leave a comment

Posted by on January 5, 2009 in Motivation

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: