RSS

Manfaatkan Waktumu..!

26 Nov

Waktu adalah modal utama manusia. Saat-saat umur manusia adalah nafas-nafas yang harus dipelihara. Kita hidup di zaman yang terbatas, malam dan siang silih berganti secara teratur, tidak melampaui satu sama lain, dan hidup terbagi menjadi beberapa fase; kanak-kanak, pemuda, dewasa dan masa tua.

Masing-masing fase memiliki pekerjaan khusus yang tidak layak dilakukan selainnya. Seperti tumbuhan apabila telah habis masanya, maka tidak bisa ditanam lagi. Kehidupan ini terbatas, jika ajal telah datang, tidak ada seorangpun dapat lari dari kematian.

Waktu yang hilang tidak akan penah kembali lagi. Masa kecil apabila telah hilang, berarti hilang selamanya, masa muda apabila telah berlalu, maka berlalu selamanya. Waktu yang telah berlalu tidak akan kembali lagi.

Waktu adalah materi yang khusus buat manusia, seperti kayu kering di tangan tukang kayu atau besi di tangan tukang besi. Jadi masing-masing orang dapat membentuk waktunya -dengan taufik Allah- menjadi kehidupan yang baik, sarat dengan kesungguhan dan pekerjaan mulia. Demikian halnya waktu dapat dibentuk menjadi kehidupan yang buruk, sarat dengan kemalasan dan pekerjaan-pekerjaan yang hina.

Jika waktu itu demikian berharga, maka sudah sepantasnya orang yang berakal untuk menafkahkan seluruh usianya untuk sesuatu yang bermanfaat bagi diri dan umatnya, dan berhati-hati supaya tidak menyia-yiakan waktunya untuk sesuatu yang tidak bermanfaat atau bahkan membawa madharat yang akan berakibat penyesalan nantinya.

Imam Asy-Syaukani rahimahullah berkata;                                                                                                        ” Orang yang mempergunakan masa mudanya dalam pengangguran, melepaskan kendali dirinya lalu melepaskannya dalam kelezatan-kelezatan, maka ia mendapatkan kelezatan jasmaniah dari semua itu sepuasnya, terutama apabila ia memiliki harta dan ketampanan.

Tetapi kelezatan akan pudar darinya dan kemanisan tersebut akan lepas darinya, apabila akalnya telah sempurna, pemahaman dan pemikirannya telah kuat. Sebab pada saat masa muda, ia belum mengetahui rasa pahit yang menyebabkan penyesalan atas kemaksiatan yang telah dilakukannya, kerugian atas umur yang telah ia sia-siakan tanpa ada manfaatnya, kemudian atas harta yang telah ia keluarkan untuk sesuatu yang tidak berguna. Ia tidak akan mendapatkan sedikitpun dari semua itu.

Kerugian semkin bertambah dan kesulitannya semakin besar, jika ia mengukur dirinya dengan orang yang sebaya dengannya yang disibukan dengan perkara-perkara yang mulia. Ia akan terus membandingkan dirinya dengan orang lain dan sifat-sifatnya dengan sifat-sifat selainnya, dalam keadaan lesu dan nafas yang ngos-ngosan, terutama apabila simpanan ilmu orang tersebut memiliki pilar yang panjang dan memiliki nenek moyang yang termasuk orang-orang yang senantiasa mengejar kemuliaan.

Saat itulah akan hilang darinya “mabok pengangguran” dan akan lenyap darinya kebodohan yang membutakan (hati dan fikiran) dengan membawa kesedihan yang panjang, kedukaaan yang berat dan kehilangan sesuatu yang berharga, nasi sudah menjadi bubur….”.

Al-Himmah Al-‘Aliyah Mu’awwiqatuha wa Muqawwimatuha, (Menumbuhkan Optimisme; Motivasi dan Hambatan); Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd.

 
Leave a comment

Posted by on November 26, 2008 in Suggestions (Nasehat)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: