RSS

Tersenyumlah, Bersyukur dibalik Musibah

23 Jun

Musibah Dunia

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah telah menulis dalam kitabnya ‘Miftah Daar As-Sa’adah’ :

Allah ingin memberi kesempatan kepada Adam dan anak cucunya untuk merasakan getirnya kehidupan dunia yang penuh dengan kemurungan, kesedihan, dan bala musibah, sehingga semakin bertambahlah nilai kemuliaan dari proses masuknya mereka ke dalam surga, dihari kiamat kelak.

Karena lawan dari sesuatu itu biasanya justru memperjelas keindahan sesuatu tersebut. Kalau mereka diasuh dan dibesarkan di negeri kenikmatan; syurga, mereka justru tak akan bisa merasakan kadar kenikmatan sesungguhnya dari syurga tersebut”. (Miftah Daar As-Sa’adah pasal & bab 1, hal. 7).

Setiap kenikmatan yang direguk didunia, selalu berdampingan dengan kesengsaraan.

Dalam sebuah hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam disebutkan;

“Addunya sijnu al-mukmin wa jannatu al-kafir”: Dunia adalah (ibarat) penjara bagi mukmin dan syurga bagi orang kafir. (H.R. Muslim, No.2956 dalam kitab ‘Az-zuhd wa Ar-riqaaq; At-Tirmidzi, No.2325 dalam kitab ‘Az-Zuhd’; Ibnu Majah, No.4113; Ahmad, dalam Al-Musnad II/323, 389, 385).

Penjelasan (syarah) Imam Nawawi rahimahullah terhadap hadits ini, bermaksud;

“Setiap muslim itu terpenjara karena dilarang untuk menikmati dunia melalui syahwat yang diharamkan bahkan termasuk juga yang dimakruhkan. Ia dibebani kewajiban melakukan ibadah yang berat. Apabila ia meninggal dunia, maka seolah-olah ia beristirahat dari berbagai beban berat untuk menyambut segala anugerah yang telah dipersiapkan oleh Allah baginya, berupa kenikmatan syurgawi yang tidak ternodai oleh apapun juga.

Sebaliknya orang kafir, ia berhasil mendapatkan dunia yang pada hakikatnya sangat sedikit. Itupun masih ternodai oleh berbagai hal yang tidak menyenangkan. Ketika ia mati, ia akan dimasukkan ke dalam adzab yang kekal dan kesengsaraan yang tiada habis-habisnya”. (Syarah Shahih Muslim, An-Nawawi, XVIII/93).

Setelah kita memahami bahwa dunia ini hanyalah negeri cobaan, penjara dan musibah belaka, maka sangat tidak pantas jika kita mengingkari kemungkinan terjadinya berbagai macam musibah, ataupun menganggap berbagai musibah yang terjadi sebagai sesuatu yang berada diluar kewajaran”.  (Tasliyatu Ahli Al-Masha’ib: Ibnu Rajab Al-Hambali, Hal. 8).

—————————————————

Dinukil dari buku “Tersenyumlah, Bersyukur dibalik Musibah”, oleh Abu Umar Basyir.

 
Leave a comment

Posted by on June 23, 2008 in Suggestions (Nasehat)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: