Abu Nashr al-Farabi, Menguasai 70 Bahasa Dunia

Dalam buku yang berjudul al-Wafi bil Wafiyat (Shalahuddin ash-Shahafady, 1/106-108) disebutkan sebuah kisah tentang perjalanan filosof besar Abu Nashr al-Farabi (Muhammad Ibnu Tharkhan), yang lebih dikenal sebagai al-Farabi. Beliau dilahirkan pada tahun 260 H dan wafat di tahun 339 H.

Walaupun banyak pembicaraan mengenai tokoh ini dalam sisi aqidah dan manhaj, dalam hal ini kita hanya akan mengambil ibrah akan kegigihan, kesungguhannya dalam menuntut ilmu serta kezuhudannya dalam meninggalkan hal-hal yang bisa melalaikan dari mencari ilmu.

Beliau adalah sosok filosof yang sangat zuhud. Ada empat dirham yang disediakan khusus oleh Saifud Daulah (penguasa saat itu) untuk al-Farabi. Setelah menimba ilmu di kota Damaskus, beliau menuju Mesir dan kemudian kembali ke Damaskus.

Dikisahkan bahwa ketika beliau kembali ke kota Harran, beliau tinggal di Baghdad dan disana beliau mendalami karya Aristoteles sehingga sangat menguasainya. Ada sebuah naskah Aristoteles tentang kitab kejiwaan yang ditulis ulang oleh al-Farabi sendiri. Beliau mengatakan, “Saya telah membaca buku ini sebanyak 200 kali”. Adapun buku Aristoteles yang berjudul as-Sima’ ath-Thabi’i (Pendengaran Alami) telah beliau baca sebanyak 40 kali. Bahkan menurut pengakuannya, ia masih ingin mengulangnya lagi.

Keajaiban al-Farabi terlihat jelas atas kemahirannya menguasai berbagai cabang keilmuan. Lebih dari itu, beliau sangat menguasai bahasa Yunani, bahkan lebih dari 70 bahasa dunia lainnya beliau kuasai. Suatu saat beliau pernah ditanya seseorang, “Dengan demikian, sebenarnya engkau lebih bagus bahasa Yunaninya atau Aristoteles?”. Beliau menjawab, “Jika saya bertemu dengan beliau dan belajar dengannya, maka tentu saya akan menjadi muridnya yang paling besar”.

Ibnu Sina juga melakukan apa yang dilakukan oleh al-Farabi. Buku Aristoteles yang berjudul Ma Ba’dath Thabi’ah (Tabir Dibalik Alam Natural) telah dibacanya sebanyak 40 kali. Bahkan beliau mengaku banyak mendapatkan kesulitan dalam memahaminya. Oleh sebab itu, beliau mengulang-ulanginya hingga mampu menguasainya dengan baik.

Al-hafidz Burhanuddin al-Halbi membaca shahih al-Bukhari lebih dari 60 kali, shahih Muslim sebanyak 20 kali. Jumlah itu selain jumlah ketika beliau membacanya di depan sang guru atau dengan orang lain. Sedangkan syeikh Sulaiman Ibnu Ibrahim al-’Alawi mendatangi majelis Imam bukhari sebanyak 280 kali dengan cara qira-atan (membaca), sima’an (memdengar), dan iqra-an (dibacakan orang).

Disarikan dari “Shafahat min Shabril ‘Ulama ‘ala Syadaidil ‘Ilmu wat Tahshil“, Abdul Fattah Abu Ghuddah. Edisi Indonesia berjudul, “Bersabarlah Anda Akan Jadi Orang Besar”, oleh Abu Malikah al-Husnayaini.

  1. ummu albab
    May 10, 2009 at 5:01 am | #1

    assalamu’alaikum.. ana minta izin menyalin sebagian dr artikel yg ada diblog antum untuk mengisi blog ana tp dg mencantumkan alamat blog antum.jazakallah…

  2. meilana
    May 10, 2009 at 6:35 am | #2

    wa’alaykumussalam,

    monggo…,dipersilahkan. Wa iyyakum.

  1. No trackbacks yet.