Mukadimah Ilmu Hadits
Entah, hari ini aku rindu untuk membuka-mbuka kembali catatan usangku tentang Ilmu Hadits yang dulu saya pernah pelajari dari ustadz Abu Ihsan al-Maidany di Yogyakarta. Saya kira semua yang mendalami Islam dari sumber yang murni; al-Qur’an dan as-Sunnah dengan pemahaman yang benar, akan mengalami kehausan yang sangat akan ilmu-ilmu Islam, dan akupun pernah mengalaminya. Yang kurasa, ketentraman & ketenangan jiwa yang sangat setiap berada dalam majelis-majelis ilmu. Akupun waktu itu pingin sekali belajar Islam langsung dari dua kota yang diberkahi, Makkah dan Madinah, kota yang terbebas dari fitnah dajjal diakhir zaman nanti, sebagaimana disebutkan dalam hadits nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tapi takdir Allah Ta’ala berkehendak lain, dan akupun bersyukur atas segala nikmat & takdir-Nya yang semua adalah yang terbaik untuk hamba-hamba-Nya.
Perjalanan pencarian jati diri yang kumulai ketika kelas 2 SMA, alhamdulillah berbuah nikmat yang luar biasa kini. Aku tidak manjadi orang yang mudah nggumunan, kagetan dengan berbagai pemahaman Islam yang aneh-aneh yang muncul di akhir zaman ini. Alhamdulillah dengan keterbatasanku dalam pengamalan ilmu itu, aku merasa mantap dengan keyakinanku. Kini kucoba menuliskannya kembali secara ringkas, sebagai ingatan bagi diriku, shobat-shobatku pembaca semua dan sebagai ucapan terimakasihku kepada guru-guruku. Jazakumullah khoiron jaza.
Dan sebagai catatan: tulisan ini hanya merupakan catatan kecil seorang thalabul ilmi yang sangat pemula, belum pantas dijadikan rujukan, dan akan diperbaharui terus-menerus mengikut bertambahnya ilmu, informasi & studi literatur. Kritikan dan saran yang membangun dari shobat-shobat pembaca sangat diharapkan.
ILMU HADITS —————————————————————————————- Yogya, 2-5-1999
Perkembangan Ilmu Hadits
ABAD – I
Sudah ada penulisan hadits, tapi belum termaktub dalam sebuah kitab. Hadits pada masa itu masih tersebar dari mulut ke mulut. Pada masa itu juga;
- masih sedikit perowi-perowi (orang yang meriwayatkan hadits) yang dho’if (lemah).
- sedikitnya para pendusta (kadzabbun).
- belum terjadinya fitnah, perpepecahan & munculnya berbagai faham (golongan) dalam Islam.
ABAD – II
Pada abad ini, Persia dan Syam telah ditaklukan oleh Islam, sehingga banyak orang a’zam (orang non-Arab) yang masuk Islam, dan memberi warna tersendiri pada Islam, termasuk juga pada perkembangan ilmu hadits. Mulai didapati banyak orang-orang yang menyebarkan kedustaan, sehingga mulai diadakan penelitian terhadap ilmu hadits. Kemudian pada zaman khalifah Umar bin Abdul Aziz, mulai diawali pembukuan terhadap hadits-hadits nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
ABAD – III
Pada awal abad ke-3 ini mulai di tulislah kitab-kitab musnad, sedangkan pada pertengahannya mulai disusunlah kitab-kitab shahih, dan di akhir abad ini mulai ditulislah kitab-kitab sunan.
ABAD – IV
Mulai muncullah kitab-kitab gabungan antara shahih Bukhari dan shahih Muslim.
USHUL HADITS
Imam Syafi’i merupakan pelopor pertama kali dalam ilmu ini. Dampak negatif yang ditimbulkan dari ilmu ini adalah menyusupnya kaidah-kaidah ushul dalam ilmu hadits.
Pengarang kitab ushul hadits pertama kali adalah Abu Muhammad dengan kitabnya yang berjudul Ma’rifatul ‘Ulumul Hadits. Kelebihan kitab ini yaitu telah disebutkannya ta’rif-ta’rif (definisi), penyusunannya yang telah tertib dan telah disetujui oleh para ulama.
Ta’rif (Definisi): Al-Hadits, Al-Khabar, Al-Atsar dan As-Sunnah.
♣ Al-Hadits ((الحديث
ما اًضيف إلى النبى صلى الله عليه وسلم من قول، فعل، و تقرير.
Apa-apa yang disandarkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam baik yang berupa perkataan, perbuatan dan taqrir, (taqrir: apa-apa yang diperbuat shahabat radhiyallahu ‘anhum yangmana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihatnya dan mendiamkannya, yang berarti tidak melarangnya atau membolehkannya).
♣ Al-Khabar ((الخبر
Apa-apa yang disandarkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan selainnya dari perkataan dan perbuatan.
♣ Al-Atsar
(menyusul, ketlisut nda’ dicatat………….)
♣ As-Sunnah
Kata as-sunnah digunakan dalam 5 penggunaan:
- Berarti hadits itu sendiri (مرادف للحديث)
2. Apa-apa yang didasarkan pada dalil dari al-kitab (al-Qur’an) dan as-sunnah ( ( ما عليه دليل من الكتاب و الحديث
3. Apa-apa yang menyelisihi bid’ah ( ( ما يقابل البدعة
4. Apa-apa yang bukan merupakan suatu kewajiban ما ليس بواجب (المستحبات و المندوبات) )
5. Apa-apa yang telah disepakati (didiamkan) oleh para shahabat dari perbuatan dan keyakinan.
(ما إستقر عليه الصحابة من الأعمال و الإعتقادات )
Ilmu hadits dibagi menjadi dua:
1. Dirayatan (دراية ) —> sebagai ilmu
2. Riwayatan (رواية)—> ilmu periwayatan hadits
Adapun dirayatan mencakup tiga perkara:
1. Penukilan hadits (نقل الحديث )
2. Periwayatan hadits dan bobotnya (رواية الحديث و ضبطه)
3. Penguraian lafadz hadits (تحرير الفاظه)
Sedangkan Riwayatan mencakup 7 perkara:
1. Hakikat riwayat
2. Syarat-syarat riwayat
3. Jenis-jenis riwayat
4. Macam-macam hadits (shahih, dha’if, etc) dan Ahkamul hadits (maqbul, mardud, etc..)
5. Ilmu jarak
6. Syarat-syarat perawi hadits.
7. Sifat-sifat, jenis hadits dan memahaminya.
ILMU MUSTHALAH HADITS
Ilmu bi ushul wa qowa’id yu’rofu biha ahwalul matan wa min haitsu alqobul wa radd lisanad.
Peletak dasar ilmu ini adalah Imam asy-Syafi’i rahimahullahu Ta’ala.
Pokok pembahasan dalam ilmu ini:
- Sanad
2. Matan
3. Syarh gharib
Faedahnya:
- Tamzizu ash-shahih ‘an as-saqiim minal ahaadits.
Sumber pengalian:
- Hadits dan atsar para shahabat.
SANAD
Silsilatur rijal
(Mata rantai perawi yang menghubungkan kita dengan matan)
a. i’la as-sanad (sanad tertinggi)
b. wasth as-sanad (sanad tengah-tengah)
c. adna as-sanad (sanad bawah atau terendah).
Contoh;
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
↓
Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu (a)
↓
Nafiq (b)
↓
Malik (b)
↓
Qutaibah (b)
↓
Muslim (c)
MATAN
Maa yantahi ‘alaihi as-sanad (Apa yang berakhir padanya sanad; berupa kalimat).
To be continued inshaaAllah, still in editing…..
