Home > Opinions > Banyak Ulama Memilih Tidak Menikah..???

Banyak Ulama Memilih Tidak Menikah..???

Salah satu yang membuat kita tercenggang adalah tidak menikahnya ulama-ulama besar Islam. Hal tersebut bukan berarti menunjukkan bahwa mereka tidak sepakat dengan syari’at pernikahan. Sama sekali bukan begitu!.

Semua ulama mengakui mulianya dan pentingnya kedudukan pernikahan dalam Islam. Merekapun (para ulama yang tidak menikah) menyebutkan masalah tersebut dalam buku-buku karangan mereka. Mereka mengakui bahwa menikah merupakan ajaran yang sangat ditekankan dalam Islam. Sebab menikah merupakan kebutuhan fitrah manusia yang berfungsi untuk menyempurnakan sisi kemanusiaan, memperbanyak keturunan, mempertahankan nasab dan untuk memakmurkan alam. Bahkan rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam berbangga akan jumlah umatnya yang lebih banyak dari umat nabi-nabi yang lain.


Bahkan, menurut ulama Hanafiyah (Abu Zaid ad-Dabbusi) melaksanakan pernikahan lebih utama daripada menyendiri berkonsentrasi untuk melakukan ibadah. Adapun menurut Imam Syafi’i bahwa menyendiri berkonsentrasi melakukan ibadah lebih utama daripada menikah, kecuali jika nafsunya memang tidak tahan (tidak mampu bersabar) terhadap wanita.

Yang jelas, semua ulama sepakat bahwa menikah merupakan bagian dari refleksi ibadah seorang hamba Allah. Sebab, ia mampu membantu terwujudnya generasi yang shalih yang akan melanjutkan estafet dakwah Islam kepada generasi berikutnya.

Apabila ditelaah secara mendalam, bahwa meninggalkan pernikahan dengan hidup membujang merupakan suatu ujian yang sangat berat dalam kehidupan seorang manusia, begitu juga seorang ulama. Pastinya ia akan kehilangan hiburan bagi ruh, ketenangan nafsu yang selalu hadir bersama kesendiriannya. Belum lagi kegersangan dan kehilangan sentuhan wanita yang memberikan perhatian dalam hal makanan, minuman, kebersihan dan keindahan tempat tinggal, perawatan saat sakit dan kebutuhan insani lainnya.

Semua penderitaan ini tidak akan mampu dipikul kecuali oleh mereka yang memiliki segunung kesabaran, selaut ketenangan dan sejuta kebahagiaan yang jauh lebih menyenangkan dari hanya sekedar menikah. Bagi mereka justru kesempatan untuk menuntut ilmu dan berkhidmat untuknya lebih berharga dan utama daripada menikah. Sehingga tak mengherankan apabila dihitung dari masa hidup hingga wafatnya mereka, kemudian dibandingkan dengan jumlah keseluruhan banyaknya buku yang mereka tulis, maka setiap harinya sebagian mereka telah menulis 14 kertas, dan ada yang jauh lebih banyak lagi. Ini menunjukkan bagaimana hari-hari mereka selalu dihabiskan dalam hal-hal yang bermanfaat; mencari & berkhidmat untuk ilmu. Jumlah ini sungguh tidak mampu dilakukan oleh makhluk manapun, dengan segala keterbatasan dan kefakiran mereka, kecuali mereka yang mendapatkan taufiq dari Allah Ta’ala.

Dengan demikian, apa yang dilakukan oleh sebagian ulama besar Islam adalah langkah pribadi dan merupakan pilihan mereka, bukan karena paksaan. Mereka telah mampu menerawang dengan mata batin mereka (insyaAllah dan dengan izin-Nya) untuk menimbang antara kebaikan yang terkandung dalam menuntut ilmu dan melangsungkan pernikahan. Sekali lagi, ini hanya merupakan pilihan dan alternatif individu mereka, yangmana kondisi mereka berbeda dengan manusia pada umumnya. Mereka juga tidak pernah mengajak orang lain untuk melakukan hal yang serupa, karena memang begitu beratnya. Dan mereka juga tidak pernah mengatakan bahwa membujang untuk menuntut ilmu lebih afdhal daripada menikah.

Begitu juga sebaliknya, kita tidak bisa mengatakan bahwa kondisi kondisi kita lebih afdhol daripada kondisi mereka. Karena memang semuanya sangat kondisional dan situasional. Maka secara umum benar jika dikatakan bahwa mereka (para ulama yang tidak menikah), mengedepankan kebaikan yang sifat manfaatnya lebih luas daripada mementingkan kesenangan pribadi yang sifatnya lebih khusus.

Bagi penulis, kisah-kisah ulama yang membujang sebagai bukti betapa mahalnya ilmu yang mereka perjuangkan agar bias disampaikan kepada generasi selanjutnya, hingga kita pun ikut merasakan hal itu. Dan pengorbanan mereka begitu besar dengan mengalahkan kepentingan dan kesenangan pribadi demi kepentingan umat yang lebih besar.

Disarikan dari “Shafahat min Shabril ‘Ulama ‘ala Syadaidil ‘Ilmu wat Tahshil“, Abdul Fattah Abu Ghuddah. Edisi Indonesia berjudul, “Bersabarlah Anda Akan Jadi Orang Besar”, oleh Abu Malikah al-Husnayaini.

Categories: Opinions
  1. eko
    December 30, 2008 at 9:53 am | #1

    menikah adalah sunnah Nabi lho akh…

    mengikuti sunnah shohih lebih di ikuti daripada perkataan para ulama..

  2. meilana
    January 5, 2009 at 3:01 pm | #2

    Betul sekali akh…, dalam hal ini penulis mencoba menganalisa dan menjelaskan kenapa byk ulama Islam yg notabene sgt faham ttg Islam kok malah tidak melaksanakan sunnah tsb.
    Tdk menikahnya para ulama bkn berarti mrk mengingkari agungnya syari’at/sunnah menikah & jg mrk tdak mengajak org lain utk mengikuti jejak mrk (tdk menikah), krn sangat beratnya. Yang demikian mrpkan alternatif (pilihan) pribadi mrk, ygmana mrk lebih tahu kondisi mrk. Dan juga bukan berarti the OWNER of this blog will follow them and agree with their choice.
    Kalo kita membaca biografi para ulama tsb, ada diantara mrk yg waktu hidupnya byk dihabiskan dipenjara, ada jg yg masa hidupnya habis diperjalanan, berpindah dr satu negeri ke negeri lainnya dlm rangka mencari & mgumpulkan ilmu dg keadaan yg sgt fakir (krn mrk fokus dlm thalabul ilmi & tdk mgmbil dunia hanya sbatas keperluannya sj). Mgkn dlm kondisi yg dmk mrk berpendapat kalau mrk menikah malahan justru mendholimi istrinya; dikarenakan tdk bisa menunaikan hak-hak istrinya dg baik.
    Sehingga penulis menjelaskan jg, dlm permasalahan ini sgtlah kondisional dan situasional sifatnya. Mrk tdk merasa/mengklaim lbh bagus dibanding yg melaksanakan sunnah menikah dan kitapun tdk bs mengklaim lbh afdhol dr mereka krn tlh atau akan melaksanakan sunnah tsb. Wallahu a’lam bishowab.

  3. firman
    May 8, 2009 at 7:34 am | #3

    Baru tau w, bnyak jg ya hal2 unik di dunia

  4. meilana
    May 10, 2009 at 6:38 am | #4

    Iya tho mas… :) )

    thank lho dah nyamperin.

  1. No trackbacks yet.